Sedikit tentang Gentle Birth

Sejak sebelum menikah dan punya anak, aku sudah bercita-cita yang cukup spesifik tentang proses melahirkan: tidak mau dijahit. .. …

Eh, tapi apakah bisa?

Kehamilan, menyusui, dan semua hal tentang 1000 hari pertama manusia di dunia adalah bab-bab yang tak pernah kupelajari secara detail dan serius saat belum menikah.  Aku lebih tertarik isu-isu parenting atau pernikahan (uhui). Satu, karena belum tertarik dan terasa tidak relevan dengan situasiku yang saat itu single, free, dan loncat-loncat (membayangkan diri kepayahan mengandung calon manusia di perut selama 9 bulan itu….. seram), dua, karena… ya terlalu teknis saja. Tidak aplikatif.

Sampailah aku menikah, dan langsung dipercayai Allah satu janin. Wow. Turbulensi emosi dan fisik menerpa di minggu-minggu awal. Secara garis besar, aku sudah punya gambaran tentang proses lahiran yang seperti apa yang kumau, itu berbekal info dari kanan-kiri saja sih. Qadarullah, Allah belum menakdirkanku untuk menjadi rumah bagi janin kecil itu. Semoga kita berjumpa di surga ya, Kakak..

Beberapa bulan kemudian, testpack bergaris dua samar. Mulai saat itu, aku lebih serius menekuni proses kehamilan ini. Mulai dari baca-baca artikel di BidanKita, babycenter.uk, sampai asianparenting.id.

Gentle Birth itu apa sih?

Intinya itu adalah sebuah filosofi melahirkan dengan tenang, nyaman, dan minim trauma. Proses melahirkan adalah proses yang alami dan unik, Allah sudah menciptakan tubuh perempuan untuk mampu mengemban tugas peradaban ini. Sebenarnya ini metode lama dengan nama baru.

Yang paling kugarisbawahi adalah melahirkan minim trauma. Mengingat diriku adalah wanita yang gampang trauma medis, wkk, baik secara psikis maupun fisik (aku punya bakat keloid– sehingga luka dalam selalu menimbulkan bekas yang tidak bisa hilang di kulit). Semakin mendalami Gentle Birth, aku semakin disadarkan bahwa melahirkan sambil senyum-senyum itu bisa banget! Selama ini kita selalu lihat di scene film atau cerita orang-orang, gimana mereka melahirkan sambil teriak-teriak kesakitan, tapi ternyata hal-hal itu bisa dihindari, dengan Gentle Birth ini.

Kuncinya, menurut Bidan Yessi, ada tiga:

  1. Berdayakan diri

Ini jadi kunci paling penting. BELAJAR. Knowledge is power. Ya walau tidak seintens mahasiswa kebidanan atau spesialis obgin, minimal hal-hal terkait kehamilan dan persalinan deh. Mulai dari menjawab pertanyaan diri tentang kenapa sih harus gentle birth sampai ciri-ciri perkembangan janin di trimester kesatu sampai ketiga. Di TM 1, pusing-mual-susah makan jadi cobaan sehari-hari, di TM 2– galau nunggu dede bayi nendang-nendang, di TM 3 mulai susah tidur, gampang gerah, beugah sepanjang waktu wkk. Menyadari bahwa tubuh kita (ari-ari, plasenta, air ketuban, uterus, rahim) semua sedang bekerja sama melakukan tugas menjaga calon pemimpin bangsa itu sungguh… luar biasa. Sehingga keluhan-keluhan itu bisa kita maknai sebagai mekanisme alami tubuh kita dalam penjagaan bayi yang dikandung.

Termasuk mengetahui tanda-tanda persalinan, Karena terkadang intervensi-intervensi medis saat menjelang persalinan itu tidak perlu dan karena kita yo-yo aja (karena nggak ngerti sama apa yang sedang terjadi). Mulai dari membedakan kontraksi palsu, mengatasi ketuban pecah dini, mengenal proses induksi..

Banyak ya… wkk. Semua harus dipelajari tuk menghindari diri dan bayi kita dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

2. Menguasai nafas

Ini juga sih. Kunci dari melahirkan tenang adalah nafas yang dikontrol. Saat kontraksi (gelombang cinta) datang, itu katanya kan.. sakit pol ya, nah itu diatasi dengan mengatur teknik pernapasan. Lagi, semua proses kontraksi itu dimaknai sebagai mekanisme alami perempuan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Kita mengingat lagi bahwa semakin sering kontraksi, semakin dekat kita dengan pertemuan dengan dede bayi, semakin besar pula pahala jihadnya. Kemudian mengejan dengan teknik belly birthing, atau napas perut. Teknik ini sangat membantu dalam kelahiran dede bayi. Hal-hal terkait nafas ini, harus dilatih dan dibiasakan setiap hari sebelum kelahiran, minimal di tiga bulan akhir kehamilan. Tidak bisa ujug-ujug muncul saat hari H.

Sugestiku pada bayi: Dek, nanti ibu napas perut sekali aja, kamu langsung keluar ya. Hehe

3. Menemukan provider yang sevisi

Melahirkan membutuhkan support system yang baik. Ibarat kerja sama, keluarga termasuk suami, orangtua, dan juga tenaga kesehatan yang membantu proses kelahiran bersatu padu membantu kelahiran generasi penerus ini. Wkkk. Alhamdulillah, semenjak kuliah aku mendapat cerita melahirkan yang sangat positif dari Mbak Dhia. Beliau bilang, melahirkan anak ketiganya ini sungguh berkesan. Dia merasa nyaman, aman, dan sangat dimanusiakan, lebih dari sekadar gentle birth biasa. Nama kliniknya  Papilio Natural Birth Clinic, di Sidoarjo. Banyak dari pasien-pasiennya dibuat ketagihan untuk hamil dan melahirkan lagi (setidaknya itu yang kubaca dari komentar-komentar mereka) bonus bebas jahitan lagi!! Wow mimpiku..

Saat melakukan riset di klinik ini, aku semakin dibuat kesengsem dengan prinsip-prinsip Islaminya. Mulai dari murottal yang diputar, mindset iman tentang kelahiran, keyakinan akan pertolongan Allah. Keren deh. Lalu aku tahu bahwa Bidan Wina adalah penekun Amani Birth juga. Itu, gentle birth Islami dan Syari gitu.

Nah, menemukan provider/ tenaga kesehatan yang pro alami ini susah-susah gampang. Tetapi banyak cara, bisa dengan melakukan touring ke rumah sakit-rumah sakit, menyiapkan daftar pertanyaan untuk ditanyakan, melihat kondisi ruangan, atau riset ke orang-orang yang pernah melahirkan disana. Untuk plan A, aku mantap di Papilio, untuk plan B, insya Allah RSI Jemursari. Karena pengalaman Mbak Erma dan mbak-mbak yang kutahu, RSI Jemur sudah punya sistem yang pro-alami. Termasuk nakes yang ramah (wow ini sangat penting untuk membuat Ibu nyaman) sampai inisiasi menyusui dini (IMD).  Tinggal pilih Obgyn yang bekepribadian ramah atau irit bicara. Wk.

Yah, segitu saja info dariku yang 2 bulan lagi insya Allah melahirkan. Semoga bermanfaat.

 

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: