Menemukan Lagi

Ada hal-hal yang dulu pernah tampil di permukaan, energi positif yang pernah begitu kuat terpancar dari dalam diri. Masa dimana mimpi terasa begitu dekat sekaligus jauh. Terasa dekat karena murni diri yang memilih untuk mempercayai bahwa ia nyata, jauh karena segala upaya kesana selalu berakhir dengan kegagalan-kegagalan yang kurayakan dengan menangis sampai akhirnya kebas, terbiasa.

Dulu akulah supporter diriku sendiri, ada satu dua sahabat yang kubagi cerita tentang mimpi itu. Tak ingin banyak khalayak tahu karena 1, ya mungkin semata tidak percaya diri, 2. aku suka dengan sebuah idiom let the succes rings the bell. Aku di lima tahun lalu adalah aku yang menyusun semuanya sendiri, menghibur diri sendiri, menyemangati diri sendiri, membuat narasi tentang hal-hal yang akan kulakukan jika mimpi merantau dan menuntut ilmu di belahan bumi lain itu benar tercapai. Berkali-kali menemui penolakan di setiap event kecilnya, aku meyakini hal itu adalah biasa, menghabiskan jatah gagal, jadi frasa hiburan favoritku. Kegagalan adalah sebuah proses sangat biasa yang memang harus dilalui. Tapi sepandai-pandainya meyakinkan diri, toh kadang rontok juga segala tembok pertahanan diri. Kadang aku bertanya-tanya, kadang sampai capek juga. Menangis karena merasa bodoh juga sering, merasa…. mungkin emang nggak bisa, mungkin ini takdir, mungkin jalanku bukan disini, dan sejenisnya. Lalu aku perlahan mencoba menyelami dalam ke palung pikiran yang tergelap, yang selalu kucoba abaikan. Memberanikan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana nan basis dari lapisan terdalamnya:

Mungkin nggak sih, mimpi-mimpi itu hanya untuk memenuhi keegoisanmu sendiri? Karena kamu ingin diakui bisa? Mungkin nggak sih Allah menggagalkanmu karena masih menemukan titik pongah dalam hatimu?

Hingga dalam sujud yang panjang dari hari yang melelahkan saat itu, aku ingat dengan berani pula menjawabnya: Tidak, aku ingin menuntut ilmu seperti para solihin yang meninggalkan tempat tinggalnya dan berguru dari ulama-ulama terbaik. Aku ingin mengamalkan perintah Allah dari surat Al-Hujurat ayat 12, aku ingin menemukan jejak-jejak keesaan Allah di sudut bumi-Nya yang lain.

Aku harus bersyukur, mungkin Allah telah baik sekali memberikanku petunjuk-Nya. Ia mengingatkanku kembali tentang aku. Lewat ibuku, lewat catatan lama suami untukku di laptopnya, lewat sebuah postingan Instagram yang dulu pernah kubagi…

Segalanya mungkin akan menjadi lebih menantang nantinya, lebih sering mungkin aku menemui gagal, banyak hal mungkin memintaku berkompromi, menimbang lagi, bertanya-tanya. Tapi ini semua adalah sebuah niat yang harus diperjuangkan tidak hanya untukku tapi juga untuk anak-anakku, yang dari proses ini aku ingin anakku menyaksikan dan merasakannya. Kebermanfaatan yang perlahan semakin teramplifikasi, dimulai dari keluarga kecil ini.

Semoga Allah mengabulkan, semoga Allah selalu mengiringi…

 

 

Author: nezhafath

a klepon-hearted

One thought on “Menemukan Lagi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: