Kehilangan

Ada satu hal yang hadir di pikiranku beberapa hari ini. Ia seperti gajah yang duduk di ujung ruang pikir, diam menyimakku riwa-riwi, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, tidak ingin mengagetkan dan kemudian merepotkanku. Ia diam, seperti menungguku untuk menyapanya.

Tapi mustahil untuk mengabaikannya. Ia disana, cukup besar. Aku menghindarinya, tak ingin bicara dengannya. Karena bicara dengannya berarti aku harus susah payah merasakan luapan emosi melelahkan bergantian.

Mungkin menghadapinya harus dengan tenang, dan melibatkan logika.

Aku tidak pernah merasa kehilangan seseorang, dalam hal ini, meninggal. Aku menghindari memikirkannya, karena takut, dan tidak siap tentu saja. Preambule tentang meninggalnya orang tua, atau keluarga inti, selalu merisaukan. Aku belum siap merasakannya. Ditambah saat ini aku yang memiliki keluarga kecil. Suamiku, aku, dan bayi kecil yang insya Allah kelak jadi manusia dewasa.

Dulu sempat terlintas pikiran, mungkin akan lebih baik jika aku meninggal terlebih dahulu daripada pilu menghadapi hari-hari tanpa suamiku yang sifat dan perilakunya kuhadapi tiba-tiba tidak ada. Bisa kubayangkan betapa nyerinya menjalani hari-hari memikirkan hal-hal yang belum sempat dilakukan, kata-kata maaf atau terima kasih yang belum sempat kusampaikan. Cara tertawanya yang kusuka, serta kegemarannya mengoreksi bahasa Inggrisku dengan menyebalkan, akan jadi ingatan yang manis sekaligus perih.

Dunia dan isinya adalah tempat luas. Seru sekali saat memikirkan mimpi-mimpi dan perjalanan yang dulu kami bicarakan sebelum dan setelah menikah. Kesamaan-kesamaan visi personal, berharmoniasasi jadi cita-cita keluarga. Hal yang jadi lecut saat ragu dan gamang deras meluruhkan nyali.

Kiranya akan nirmakna jika hidup harus aku lanjutkan setelah kehilangan suamiku dan anakku. Dari sedikit hal-hal yang kumaknai di dunia ini, mungkin mereka melingkupi arti dari sebagian besarnya. Sehingga sisanya tidak lagi relevan.

Mungkin terkadang aku ingin terlihat baik-baik saja, tapi di waktu lain aku ingin merenung dan merangkul kesedihan kuat-kuat, sambil mengingat fakta paling haq bahwa kepemilikan adalah fana. Allah selalu menguji dengan apa-apa yang kita cintai dan kita anggap miliki.

Sehingga pada akhirnya kelak kita memang harus membawa gajah ini duduk di meja makan, berhadapan dan membicarakan hal ini tanpa suara yang bergetar. Bahwa kematian adalah sebuah niscahya, bisa terjadi pada siapa saja, padaku, pada suamiku, pada anakku. Dari situ, kita mengerti bahwa akan ada masa kelam yang harus dilalui, menjalani hidup tak lagi sama dengan ritme yang mungkin melambat.

Berbekal cita-cita paling utama tentang berkumpul lagi di surga, aku ingin kami berjuang untuk satu sama lain, baik dengan anggota yang lengkap atau tidak. Bagiku mungkin akan sulit jika harus menghadapi hari-hari setelahnya, tapi jika memang harus, aku ingin membawa perasaan kehilangan itu bersamaku, dekat di samping, kuyakin perlahan ia akan bertransformasi menjadi sesuatu yang menguatkan. Cinta karena Allah tidak akan melemahkan kita.

Semoga.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

One thought on “Kehilangan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: