Meredefinisi Produktivitas

Produktif.

Banyak ulasan tentang produktivitas yang sering kita baca, yang kalau kita simpulkan cepat, intinya menghasilkan.

Dulu waktu kerja, aku sering disebut bos (heleh) sebagai salah satu karyawan yang produktif dilihat dari project yang kuemban, selesai, while in the same time punya jadwal mengajar padat dengan murid yang betah dan menunjukkan progress berarti dalam belajarnya.

Di akhir hari, aku pulang ke rumah, paling cepat jam 7, paling lama bisa jam 10, dengan lelah yang luarbiasa. Awalnya aku pulang dengan bangga, merasa produktif, tapi semakin lama terasa kosong.

Aku kesulitan mengikuti jadwal-jadwal diluar pekerjaan seperti mengembangkan komunitas atau ikut kelas-kelas online yang sudah kudaftar. Aku bisa mengikutinya, namun tidak dengan energi yang besar. Energi sisa-sisa. Jadi ya nggak maksimal. Karena jika kulihat lagi, menghabiskan waktu dan being present in family adalah yang kuutamakan saat itu.

Hm.

Dari hal itu, aku baru agak paham ternyata aku salah memanajemen waktu. Seharusnya attention-manajement. Yha, who cares about the naming la. Tapi aku merasa, memang ada yang salah dengan caraku saat itu. Dan tentang attention-management ini butuh bahasan di waktu lain yang lebih dalam. Heleh.

Saat ini, aku sudah menikah, dengan ritme yang sangat berbeda dan produktifitas yang berbeda pula.

Jika ukuran produktifitas seseorang dinilai dari bagaimana ia menghasilkan sesuatu dalam bentuk kasat mata, yha sudah stress lah aku jauh-jauh hari 😭😅

Aturannya sebenernya sederhana, target jangka panjang, dibreak down dalam goal-goal kecil setiap hari, yang sekali lagi, kesemuanya bermuara dalam tercapainya goal tersebut.

Sehingga menentukan target atau goal adalah mutlak. Jika kamu ingin lolos IELTS 7.5, dalam waktu 1 bulan, berarti bentuk produktivitasmu adalah dengan mengerjakan modul set soal IELTS tiap hari. Atau jika tidak mampu, set skill-nya.

Prodiktivitas juga milik ibu-ibu yang memilih total menjadi IRT. Produktivitasnya adalah terselesaikannya pekerjaan hari itu. Sampai menemukan pola menyapu/memasak yang lebih efektif dan efisien. Sehingga masih punya waktu untuk mengerjakan hal lain yang ia sukai dan menghasilkan di hari itu. Berdagang misalnya. Jika memang memiliki income juga jadi target ibu-ibu.

Yang jelas, dari semua perubahan selama 7 bulan ini, produktivitas tak lagi kumaknai sempit. Aku juga terus bereksplorasi, menemukan pola produktivitas yang membantu mencapai goalku di akhir nanti.

Menulis disini secara rutin salah satunya. Wkk.

Semangatzsz.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: