Hari Peringatan

To be remembered is nice.

Seseorang dulu pernah bertanya padaku, sepertinya dengan nada yang serius– dan sedikit antipati, mengapa organisasiku dulu suka sekali memperingati hari yang terkait dengan lingkungan hidup. Pertanyaan itu membawaku pada malam-malam diskusi online kami tentang sederet tanggal yang harus dibuat poster peringatannya untuk kemudian dimuat di laman sosial media kami. Menjadikannya program kerja.

Selamat hari Pohon. Katanya, lalu apa? Apa kalian hanya ingin memberi informasi, berharap orang akan tergerak untuk menanam pohon?

Kiranya aku hampir menyetujuinya saat itu, karena bagiku, dengan memuat poster Selamat Hari Pohon itu, tidak serta merta esoknya aku beli satu pohon dan menanamnya di halaman rumahku. It didn’t change me. Walau pada akhirnya aku tetap berkilah bahwa kami ingin memicu awareness dengan bahasa diplomatis yang mungkin terdengar berbelit.

Tapi mungkin, sebagai manusia kita memang suka merayakan berbagai hal. Kalau kita lihat kalender, banyak sekali momentum-momentum penting yang harus diingat dan dirayakan, dan syukur-syukur direfleksikan.

Tapi tidak dengan ulang tahunmu, ulang tahunku. Pun kalau tanggal lahirmu 17 Agustus, orang akan tahu itu peringatan hari kemerdekaan Indonesia, bukan hari kelahiranmu. Hingga bagiku, mengingat ulang tahun siapapun adalah pekerjaan yang cukup merepotkan. Tapi aku selalu tahu siapa yang berhak atas kerepotan ini. Dan mengagumi siapapun yang mau-mau saja terrepotkan dengan ingatan atas tanggal 24 Mei tentangku.

Aku selalu meyakinkan diri bahwa sampainya aku di tanggal 24 Mei adalah sebuah syukur yang harus kurayakan secara personal. Menghabiskannya dengan merenung, berefleksi, menyiapkan langkah-langkah, memaafkan kesalahan, membangun lagi motivasi diri.

Tapi beberapa kali aku gagal juga. Di tengah penelahaan yang cukup menguras emosi itu, diam-diam aku menoleh ke kanan ke kiri, mencari tahu siapa yang mengingatku di hari yang biasa saja ini. Rasanya menyenangkan ketika ada yang memberikan sedikit waktunya untuk mengucapkan kata-kata yang menjelma jadi doa. Bahwa dari 365 hari, ada satu hari yang jadi istimewa. Hari dimana kamu merasa senang hanya dengan ‘telah lahir’.

Tapi mungkin ini emosi yang tiba-tiba melintas saja. Dan, sebagai hadiah untukku di hari ini, aku mengizinkannya mampir di hatiku.

Mungkin besok aku memaknai ulang tahun dengan berbeda. Aku akan mengingat baik-baik sebuah tanggal di bulan Desember tahun ini, karena itu adalah pertanda dimulainya hari aku menjadi Ibu. Maka sudah bisa kuperkirakan, tahun-tahun setelahnya, Desember akan jauh lebih bermakna. Tanggal itu akan jadi milestoneku dan tentu saja anakku. Dan aku berjanji akan merayakannya. Aku ingin ia tahu bahwa kelahirannya adalah hari yang amat kunanti. Yang darinya, akan dimulai petualangan baru, pembelajaran baru, yang mendewasakan kami sebagai insan dan sebagai orangtua.

Tapi untuk hari ini, aku ingin mengucapkan dari hati yang paling dalam, selamat ulang tahun Nezha. Barakallah fi umrik. Aku bersyukur kita disampaikan Allah di hari ini. Dua puluh lima adalah tahun dimana kamu akan menemui berbagai bentuk krisis (tervalidasi oleh suami yang sudah melewatinya). Tapi mungkin daripada menyebutnya sebuah krisis, bagaimana kalau… tantangan? yang tentu saja tidak akan mudah.

Tapi semoga menjadi sumber keberkahan, karena Allah yang menjadi peta, menunjukkan jalan-jalan-Nya.

 

 

 

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: