Utaraku

Kebiasaanmu adalah sepulang salat Subuh berjamaah di masjid, datang dengan suara klompen yang terdengar dari jarak nun jauh bermeter-meter, sampai terlebih dahulu diantar angin fajar ke telingaku yang mengantuk. Menembus dinding-dinding.

Semakin lama semakin dekat, semakin jelas kau juga melantunkan shalawat sembari membuka pagar, meletakkan bakiak itu, lalu membuka pintu.

Selalu, Assalamu’alaikum, dengan nada yang persis sama seperti 20 tahun lalu, riang dan sambil tersenyum jenaka. Seakan yang akan kau temui dibalik pintu adalah kami yang masih bocah. Selalu begitu.

Saat itu, ayahku membangunkanku dengan cara menggendongku yang pura-pura masih tidur sampai di depan kamar mandi. Tanpa pernah aku berontak, hanya tak memiliki pilihan lain selain segera mandi, shalat, dan bersiap memulai hari. Darinya, aku cukup yakin tidak perlu membanding-bandingkan dengan ayah orang lain, ayahku adalah yang terbaik. Tak pernah aku dilimpahi barang-barang seperti tetanggaku yang dihadiahi macam-macam saat ulang tahun, ucapan-ucapan romantispun tidak. Tetapi aku tahu, aku anak yang beruntung.

Teringat aku pada satu masa dimana aku begitu kecil, dekil, dan luar biasa aktif, dan mudah menangis. Ibuku menggendongku di tengah acara yang ramai dengan wajahku yang belepotan ingus, kue, pasir, dan entah apa, lalu membersihkannya pelan-pelan. Tidak peduli bajunya yang rapi dan cantik jadi kusut. Kalau orang lihat, mereka pasti jatuh iba, tak pantas lah perempuan cantik itu menggandeng anak sedekil aku.

Atau saat ibu mengelus kepalaku, menyisirnya pelan-pelan, sambil meniup-niup kepalaku. Mungkin ada doa disana, aku tidak ingat. Tapi yang kuingat, itu adalah hari terdamai dalam hidupku yang sederhana.

Tidak peduli seberapa seringnya aku menolak banyak hal dari keduanya ketika sudah membesar dan mulai merasa lebih tahu ini dan itu, keduanya adalah kompasku. Utaraku. Terima kasih ayah dan ibu. Hal-hal terbaik semoga benar terwariskan. Tetapi yang terpenting, semoga Allah selalu memberkahi sisa usia keduanya, melimpahkan cinta tiada habis.

Aku rindu kalian. Rindu sekali.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: