Mengingat Ramadan

Marhaban yaa Ramadan.

Ini hari pertamaku menjalani ramadan, di Jakarta, bersama suami. Sungguh, tahun-tahun sebelumnya aku juga termasuk dalam bagian anak muda yang bertanya-tanya apa kelak di ramadan tahun depan masih berpuasa sendiri atau tidak, oh siapaqa dia, dll dsb.

Tapi biasanya aku tidak pernah panjang larut memikirkannya, karena kumerasa… seram. Secara umum, membayangkan rona masa depan itu mendebarkan, karena iya kalau masih hidup? Luls. Itu pertama, apalagi memikirkan ramadan bersama siapa, dimana, itu menyeramkan kuadrat. Hingga aku cepat-cepat berhenti membayang-bayangkan dan kembali ke bumi, melakukan apa yang bisa dilakukan. Mungkin itu salah satu cara perlindungan diri reflek yang menyelamatkanku dari angan-angan romansa nan delusional.

Ramadan tahun lalu, tidak cukup kulalui dengan maksimal. Ya jika boleh mengkambinghitamkan pekerjaan, ya emang karena itu. Wk. Nggak-nggak. Karena akunya yang terlalu kedunyon.

Tapi aku ingat sekali, di salah satu malam di 10 hari terakhirnya, aku melakukan sebuah dialog kepada Allah. Mungkin di Masjid Ulul Azmi, mungkin di Masjid AlHikmah.

Aku minta Allah melepaskan segala kecenderunganku kepada seseorang. Aku ingin Allah membantuku melepas semua harapan dan gelisah yang diam-diam terpupuk. Kuserahkan segalanya tentang perasaan pada Allah. Aku membersihkan seluruh sudut hati. Ingin kupastikan semuanya sudah kulepas, sudah kembali pada yang memberinya.

Aku hanya mengganti redaksi kata dalam berdoa.

Kuminta Allah menjaga ia– orang dari Lauhul Mahfudz yang aku tidak tahu siapa, dimana, dan sedang apa, yang kelak jika ditakdirkan, akan menjadi imamku. Kuminta Allah menjaganya penuh, memberinya kesehatan, kemudahan dalam upaya-upayanya, dan memberkahi langkah-langkahnya.

Kudoakan tulus ia, tidak lagi berat akan seseorang sebelumnya.

Dan qadarullah, seseorang yang dulu sudah kulepaskan di langit malam Ramadan saat itu, adalah suamiku saat ini.

Kita tidak pernah tahu skenario apa yang Allah takdirkan sebagai jawaban dari doa-doa kita. Tapi yang jelas, melantunkan doa yang tidak menyerah sekaligus penuh pasrah adalah harus.

Berharap sekaligus takut dalam berdoa.

Saat ini, Ramadan kujalani dengan suasana yang sungguh berbeda, mungkin kamu juga. Pun kalau sama, nikmati saja, karena mungkin suasana itu akan sangat kamu rindukan di tahun-tahun setelahnya.

Mari menjalankan Ramadan ini dengan penuh semangat. Semoga Allah menerima amal kita semua yaa.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: