Dengan Seseorang

 Be with someone who can embrace your quirks.

Itu adalah kutipan yang sering mampir di lini masa beberapa dari kita, baik di tumblr, maupun caption Instagram. Dengan dimaksudkan untuk menyinggung perkara persahabatan atau romansa antara laki-laki perempuan dan jadi dasar atas keinginan kita untuk dimengerti, diterima dengan sederhana dan apa adanya.

Baiklah, sampai disini, kutipan itu sungguh terdengar unyu dan dreamy.

Disclaimer, seperti halnya orang lain, aku menyadari aku memiliki banyak lapisan. Dan aku selalu memilih akan menunjukkan sisi apa kepada siapa. Tapi karena udah kadung nulis, ya nulis aja lha yha. Aku ingin merefleksikan kutipan dreamy tapi bener diatas dengan situasi terkiniku yang sedang menganu pernikahan. Izinkan aku menambah satu poin lagi tentang hal yang terpenting;

Be someone who adores your weirdness and pushes you to be better person.

Pertama, aku nggak tahu suamiku itu… beneran adore my weirdness atau ngempet-ngempet kemangkelannya ketika menghadapi kebodohan-kebodohanku secara live, di 3 bulan pernikahan kami. Beberapa kali kulihat dia geleng-geleng, menggumam entah apa, dan beristighfar.  Ada pula respon tambahan berupa ketawa (ini melegakan, berarti dia mungkin memaklumi) ada juga jutek yang tidak sedap (urhm, ini dia sedang ngempet kesal). Sekali lagi, aku juga belum mendapat kepastian apakah ia benar nyaman dengan keanehanku yang sudah diwanti teman-temanku padanya sebelum menikah, baik dalam kelakuan sehari-hari, saat travelling, maupun saat bingung dan terdesak. Weirdness yang tidak selalu lucu, kadang juga bisa berkembang jadi ngeselin dan bikin emosi. #istrihausvalidasi.

Push you to be better person.

Poin kedua ini cukup penting. Ini jadi hal yang diidamkan ketika bersatu dengan seseorang kan? Dan dengan mantap kujawab, ya. Kurasa, dengannya, aku menjadi lebih baik. Banyak aspek dalam hidup yang bisa jadi indikatornya; bisa dari segi ibadah jadi lebih deket sama Allah. Kalau kasus kami, mungkin untuk kuantitas memang perlu diistiqomahkan, tapi darinya, aku jadi berdoa lebih khusyuk, meminta supaya kami diberi Allah kesempatan untuk mengenal-Nya lebih dalam lewat terwujudnya mimpi-mimpi kami sampai meminta supaya Allah meridhoi upaya-upaya kami menjalankan peran suami-istri. Dulu, sebelum menikah, aku mengganti redaksi doa jodoh’ku dengan mendoakan calon suami yang entah dimana dan bertemu kapan untuk dimudahkan urusan-urusannya, dikuatkan langkah-langkahnya, dan diridhoi upaya-upayanya. Saat ini, dengan suami yang jadi jawaban doaku dulu, aku jadi lebih mantap gitu dalam berdoa. Kurasa, hal kecil seperti ini yang bisa jadi parameter sederhana bahwa dengannya, ya, aku merasa bertumbuh menjadi seseorang yang lebih khusyuk dalam meminta. Hehe.

Dari segi pengembangan diri, bersama orang yang tepat, kita akan jadi lebih produktif dan mungkin menemukan potensi-potensi baru. Pertama kali merantau, dengan uang dari suami, aku cukup deg-degan dan kebingungan dalam mengelola duit yang bukan kudapat sendiri itu, yha tentu saja PR dalam bab ini masih banyak. Selain itu, aku juga terharu dengan kebisaanku mengolah masakan. Kadang agak terintimidasi juga sih menunggu respon suami saat suapan pertama mencoba, wkwk, tapi aku sangat menikmati proses memasak ini. Yha, walau nggak jago-jago amat.

Ia juga orang pertama yang mengingatkanku dengan cukup ngejleb (dengan caranya) tentang mimpiku yang tertunda itu. Sekolah lagi, ehe.

Tentang ini, mungkin butuh satu postingan baru untuk menjelaskan kemajumunduranku dalam mewujudkan mimpi S2 itu. Tapi, yang buatku nyess dan kemudian bersyukur adalah, dia mengingatkanku lagi tentang aku di beberapa tahun lalu. Dia, sebagai seorang senior idola rujukan semua juniornya yang galau dan butuh masukan, sempat menyimak kegelisahanku, kebingunganku, juga optimismeku tentang mengapa harus melanjutkan pendidikan. Salah satu alasan ia memilihku untuk dinikahi diantara segerombol mbak-mbak lain adalah karena, katanya, ia tertarik dengan mimpi-mimpi dan semangatku dalam mewujudkannya. Ia ingin ambil bagian, jadi suporter paling depan.

Dan beberapa saat kemudian setelah menikah, ketika kusampaikan kegamanganku dengan rencana itu, dengan sabar ia mendengarkan, walau kurasa dia agak kaget (atau sudah menerima) yha ternyata aku bisa juga sampai di titik mempertanyakan kembali tentang rencana-rencana itu. “Oh my God, tyydaaaac. kok istriqu tida lagi sekeren dan seambisius saat dulu belum meniqa“— Well… Nggak sih, itu bayanganku aja. Dia nggak sealay itu, luwwwls.

Tapi aku sungguh bersyukur, aku tidak merasa mengerdil ketika menyampaikannya. Respon mas-mas ini sungguh biasa aja, seperti yang kuceritakan itu hal yang memang kadang terjadi saat kita ingin mencapai sesuatu, memang suatu hal yang normal gitu. Ia mengingatkan hal terpenting dari semua itu; bahwa semua ini bukanlah tentang tercapainya mimpi, but it’s all about embracing the beauty of process. It’s all about giving a try on it. To give the best memories to tell to the children in the future. Hei, your parents are warrior. They dream with bismillah, and give the best ikhtiar on it, and let Allah finish the result.

Alhamdulillah, my husband does it. He reminds me, he supports me when I’m ready. Dia memberi feedback yang kubutuhkan. Karena sebenarnya aku mengira ia akan menumpahkan kekecewaannya gitu. Dia memberiku waktu untuk menelaah kembali, sembari mengingatkan bahwa ia selalu disitu, siap membantu dalam wujud apapun.

Jadi kalo boleh ditambahin frasanya, be with someone who accepts (embracing or adoring is such a strong and difficult word, let’s just lower our expectation, accepting is enough) madness (because weirdness is shallow, you might be weird, super ugly, disappointing in every bits, all at once.), and give you approppiate feed-backs in the right moment. Wkk.

Selamat 3 bulan, suamiku. Semoga Allah ridho atas kita.

 

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: