Cerita Aja.  

Salah satu draft di tahun 2017 awal.

Ini malam ke-133.

Eh, atau 135 ya. Aku lupa.

Aku cermati, rasanya kali ini aku pulang dengan agak lain. Sedari pagi, ada setumpuk perasaan yang sengaja kupungut dan kusimpan sepanjang hari.

Berita tentang kemenangan Anies-Sandi atas petahana yha cukup membuat langkahku ringan. Alhamdulillah, walau mempercayai manusia terlebih politisi itu sangat berisiko, apalagi menaruh harapan tentang selesainya persoalan ini dan itu dalam sekejap, adalah hal seharusnya kuhindari. Baiklah. Namun, kelegaan itu dinodai oleh sebuah tweet yang diretweet oleh aleg DPRD tingkat provinsi yang tahun 2014 kupilih berisi kebahagiaan luwarbiyaza dengan kalimat kurang baik karena sudah menang. Sampai prediksi-prediksi tentang Ridwan Kamil yang akan “diahokkan” dan komentar orang-orang yang mengecamnya gabung di partai itu. Jawaban RK kurasa cukup logis. “partai yang dulu nggak ada komunikasi dengan saya (kalau akan melanjutkan).”

Duh, kenapa ya?

Lamunan yang kalau diterus-teruskan bisa kemana-mana itu kemudian buyar dengan ujung pikiran yang bilang. “Halah, koen sopo se? Apa signifikansimu dalam peta perpolitikan di Indonesia.” wkwkw, yha walau tentu statement itu akan mudah dijawab dengan jawaban pragmatis macam: lho ya penting lah, kamu sebagai salah satu anak muda bagian dari 40% masyarakat Indonesia yang begini begini begitu begitu. Agent of change. Your voice matters~~~~

Anw, semangat bapa anies. Saya keprok keprok ajah, pingin deh kapan-kapan ketemu Ismail anaknya. Lucu amat, tampan pula… Astaghfirullah.

Di sepanjang kiri dan kanan jalan Jemursari, Rungkut Sier, sampai Kertajaya, aku menemukan bapak-bapak usia 70tahunan yang berjualan koran, panas-panas di lampu merah. Atau bapak-bapak kurus yang menarik segerobak jirigen-jirigen air dengan begitu payah. Aku diam-diam berdoa, terlebih untuk diri sendiri, walaupun negara tidak hadir di ruang hidup mereka, lelah yang jadi kawan, sampai tuntutan kebutuhan keluarga yang semakin banyak, semoga mereka tetap berangkat keluar rumah, menjemput ridha dan rejeki Allah.

Sungguh tak ada beda Kakek dan Bapak itu dengan yang duduk adem tenang di gedung-gedung. Jika keduanya keluar rumah untuk beribadah—bukan sekadar mengumpulkan duit, insya Allah, keberkahan itu Allah akan kirim.

Keberkahan Allah to ya yang kita semua cari?

Ah, hari ini juga Ashima sakit kuping dan kubawa ke dokter sama umminya. Di klinik, aku mencuri dengan tentang obrolan pasien-pasien itu. Beragam. Dari obat pasca kanker seharga 655.000, dan obat sakit dismenore 750.000. Belum lagi Ashima yang mencak-mencak nangis memilukan hati yang mendengar.

Terus aku doa: Ya Allah semoga kelak aku ditakdirkan jadi orang tua, aku adalah orang tua yang sabar.

Kuposting untuk mengingatkan diri tentang diri.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: