Menceritakan Jakarta

Sudah banyak orang bernarasi tentang Jakarta. Kamu, kuyakin akan punya cerita sendiri tentang Jakarta.

Jakarta adalah saksi sejarah negeri ini. Kerusuhan sampai pesta demokrasi, banjir air coklat sampai banjir manusia dengan aksi berjilid-jilidnya pernah memenuhi bundaran HI.

Menceritakan Jakarta, sama seperti menceritakan kawan lama yang memilih bersekolah jauh. Sekembalinya, ia begitu lancar menceritakan penaklukkan-penaklukkannya terhadap ketakutan dan rendah diri, pertemuan-pertemuannya dengan tokoh-tokoh, juga hasil belajarnya…

Tapi, melihat Jakarta, aku tak bisa sederhana. Ada makna berlapis-lapis dari setiap gerak manusianya. Ada ambisi ingin segera mentas dari kesumpekan, dari kemacetan yang menyedot jiwa lalu kembali ke rumah dengan hati yang luar biasa lelah, kemudian segera tidur untuk bertarung lagi di jalanan keesokan harinya.

Jakarta adalah milik laki-laki yang mencari entah apa di tumpukan sampah. Jakarta dulu mungkin buat ia percaya tentang kehidupan lebih baik untuk keluarga. Mungkin sekarang ia masih ingin percaya. Atau mungkin tidak. Kepercayaan yang habis ditelan realitas. Ikut menguap dalam bingar jalan raya dan kereta.

Tapi aku menolak membenci Jakarta. Membencinya hanya akan membuatku lebih lelah. Lagipula, siapa pula aku, hanya anak kemarin sore yang sejak 2 bulan setengah menumpang di salah satu petaknya.

Tak peduli pula Jakarta padaku.

Dia tidak peduli aku harus menahan rindu karena suami yang terjebak macetnya dan harus sampai rumah lebih dari 10 malam. Jakarta juga tidak peduli aku yang menangis di dalam mobil yang melaju karena pendarahan yang kualami.

Dalam detik yang sama, Jakarta menanggung banyak hal. Maka wajar, dengan berbagai pola manusia dan ambisi-ambisi yang coba manusia wujudkan di atas tanahnya (yang menyebabkan air tanah Jakarta menurun 12cm tiap tahun– Surabaya ‘hanya’ 2 cm) cara terbaik Jakarta untuk melindungi diri adalah dengan menjadi sedikit tidak terjangkau. Sedikit angkuh.

Mungkin ya.

Dengan memaklumi Jakarta, aku jadi lebih lega. Sembari terus mengingat kejadian-kejadian masa lalu yang terjadi di tempat ini dan itu, bahwa Jakarta pernah terinspirasi dari surat Al-Fath! (Fathan Mubina atau Fatahillah) atau sebutlah pula kontradiksi-kontradiksi dari mall dan sekelilingnya, Jakarta sebenernya sudah sangat baik dalam menampung cerita cerita itu.

Sehingga mustahil memintaku untuk lebih cepat berjalan, atau berhenti menatap dan mengobservasi manusia dan pernak-pernik kota ini.

Jakarta terlalu unik untuk dilihat dengan mata yang biasa saja.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

One thought on “Menceritakan Jakarta”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: