Muhasabah 7 Minggu Kami

Setelah menikah, aku menyadari beberapa fakta yang menarik untuk diingat tentang menjadi pasangan seseorang. Dulu, kurasa aku lumayan intens membekali diri dengan nasihat terkait komunikasi suami-istri. Tentang kepribadian, cara pikir, dan cara berkomunikasi yang biner diantara mereka. Perempuan yang cenderung menggunakan perasaan, laki-laki yang lebih logis. Perempuan yang suka kode, laki-laki lebih suka blak-blakan, etc etc.

Urgh. Such a labelling.

I dont want to be defined that way. Karena kurasa, terkait komunikasi (yang jadi hal paling penting dalam hubungan) dua orang bersama haruslah menjadi partner. Partner yang setara, yang ketika membicarakan cita, cinta, resah dan masalah, ya.. dengan lebar dan terbuka. Yang kesemua itu berawal dari pemahaman untuk melepaskan ego, dan kesadaran untuk memahami satu sama lain.

Bisa? Pasti bisa lah. Pikirku saat itu. Wong wes gedhe kok. Wong podo ngerti pentingnya kok.

Turns out,

Wkwkwkwkkwkwkwkw

Ketika rapat evaluasi 7 mingguan kami menikah, kumenyadari banyak hal yang meleset alias tidak sesuai perkiraanku. Wkwkkwkwk.

Walau kami punya waktu refleksi harian sebelum tidur, ada hal-hal yang lebih mendasar yang urhm, sebenarnya baru kuutarakan. Kenapa ya? Ya karena kurasa hal itu kecil dan tidak penting.

Ohya. Format evaluasi kami adalah: what went wrong, what went well, what to improve.

Dan dari situ, ternyata muncul beberapa hal terpendam seperti misalnya.. aku merasa jidatku yang tetiba ada 3 jerawat ini bikin wajahku jadi aneh. Kusebut itu setiap hari. Kucoba memvalidasi itu ke suami. “Yang. Jerawatku keliatan banget ya? aneh ya?”

Ia, seseorang yang akan bilang ya ketika ya dan tidak ketika tidak, bukan tipikal orang yang suka sugar-coated his words to please anyone—- berbeda denganku) pun menjawab. “Enggak. Tapi kalo kamu bilang, ya orang jadi tau.”

Hng. Okay.

Juga tentang hal-hal terkait masak-memasak yang juga ku-highlight di obrolan semalam. Ternyata, masak-memasak dan hal domestik lainnya yang menurutku penting itu harus dievaluasi, karena itu jadi mengalihkanku dari prioritasku yang lebih penting– seperti menyiapkan cita-citaku tahun ini. Hm.

If doing domestic chores disturbs the main plan, just put it off.

Well, ya, walau kemudian yang jadi PR bagiku adalah manajemen waktu sih. Itu kan intinya.

Tapi yang menarik adalah bagaimana kami menganggap sesuatu itu dengan kadar yang berbeda.

Ada hal yang kurasa penting (tentang menjadi istri yang baik dengan masak dengan berbagai menu, nyiapin sarapan, makan malam) ternyata menurutnya itu nggak harus dilakukan.

Atau aku mikir macem-macem tentang ini dan itu, aku yang begini aku yang begitu, ternyata menurutnya hal-hal itu tidak pernah terbersit di pikirnya. Biasa aja..

Wkwk.

Oh okay.. Jadi kegalauanku dan nangis-nangisku yang kumerasa not enough dll dll-tu nggak terbukti.

Jadi… apapun guise. Latihan ya mengkomunikasikan. Semoga kalian lebih baik dariku dalam mengaplikasikan ilmu sebelum menikah. Wkwkw.

Hal yang jadi catatan pribadiku, seremeh apapun, aku harus coba kenali lagi suamiku, kenali tipe-tipe komunikasi. Hal-hal teknis itu akan bantu aku untuk kemudian lebih lega karena tahu sudah sampai mana.

And thanks to this format of evaluation (which adapted from husband’s work)

“What went well, what went wrong, what to improve in our marriage?”

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: