Melihat Cinta

Sejak SMA, aku punya semacam anggapan yang tidak terlalu bagus tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Saat SD dan SMP, bagiku pacaran adalah aktivitas yang sangat menggelikan. Ketika melihat teman-temanku berpacaran, mereka tiba-tiba saling mengklaim satu sama lain, tiba-tiba harus berubah menjadi orang lain, jaim-jaim, sms-an nggak penting blas (2008an belum ada whatsapp) dan tentu saja isi pesannya nggak jelas dan annoying, ditambah bahasa tulisan yang populer pada jamannya, seperti..

qAmOuH gYe 4aPpa y4nkK??

gIe beL4jaR,,,

oWwch. dAch MaQan bLumph?

dan seterusnya.

Yang jelas konsep pacaran sangat asing bagiku. Saat itu aku juga dikelilingi oleh teman-teman yang cupu-cupu seperti Bocil a.k.a Atina Ilma, Sari, Novi, Bila.. yang taunya SMP itu seru karena isinya main-main doang, rapat-rapat OSIS sampe sore yang banyakan mainnya, dan yah.. ada sih naksir. Naksir yang gae lucu-lucuan. Bukan yang benar disimpan dalam hati. Naksir karena hormon. Lol.

Saat SMA, perpektifku tentang pacaran semakin jelas lagi. Aku begitu yakin pacaran adalah…. hng, tidak penting, buang-buang waktu, dan merepotkan. Diluar memang tidak ada istilah itu dalam Islam. Sehingga, ketika menemukan teman-temanku SMP yang satu persatu berpacaran, tidak lagi seru dan ngakak2 ketika ngomongin hati– karena mereka selalu menggunakan perasaan.. bertepuk sebelah tangab.. patah hati… Aku jadi tidak habis pikir. Wow. Kok iso ngunu lhoh.

Aku tidak paham bagaimana perasaan lawan jenis bisa berkait dan berkelindan. Ketika membaca buku tentang dua orang jatuh cinta, atau mendengar lagu tentang cinta, aku hanya bisa sebatas mengagumi dengan cara penciptanya meramu kata dan nada jadi indah begitu. Namun tidak pernah bisa merelasikannya.

Cinta terhadap lawan jenis adalah hal yang asing bagiku.

Seiring bertumbuhnya pemahaman, hadirnya keponakan pertama (Azzam!) yang membuatku belajar untuk mencintai anak-anak (dulunya aku anti gitu ditinggal berduaan atau disuruh menjaga anak-anak, mereka menyeramkan dan tidak bisa ditebak~), aku mulai mengenal ide-ide dan cerita parenting dari berbagai sumber, apa yang tidak dan seharusnya dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak di sekitar mereka. Kuaplikasikan langsung ilmu-ilmu itu pada keponakan. Jadi bagiku saat itu, seminar parenting lebih menarik daripada seminar pranikah. Wk. Dengan akumulasi pengalaman mengenyam pendidikan formal, refleksi keluargaku, sedikit info tentang isu-isu yang sedang terjadi, secara tidak langsung aku jadi punya bentuk konsep mendidik anak, walau samar. Kemudian aku sampai di titik.. anakku nanti seperti apa ya?

Membayangkan anakku saja merinding.

Sampai kemudian ada satu hal yang menggelitikku ketika di sebuah buku yang aku lupa apa, penulis bilang, mendidik anak dimulai dari memilih pasangan.

Wow.

Seingatku itu jadi catatan yang.. tidak terlalu kupusingkan juga. Maksudnya, aku tidak gupuh melihat-lihat sosok suami ideal di kehidupan nyata dan membayang-bayangkan kehidupan pernikahan kelak seperti apa.

Dari pemahaman yang kukumpulkan, aku kemudian menyimpulkan, cinta mungkin tak terlalu penting. Selama aku dan calon suami selaras dalam melihat visi hidup dunia-akhirat, masa depan, dan mendidik anak, kurasa pernikahan akan baik-baik saja.

Kata beberapa artikel dan pengalaman orang-orang yang sudah menikah juga, cinta bisa kok ditumbuhkan.

Cinta adalah kata kerja yang harus diusahakan, dirawat, dipupuk. Sehingga konsep menikah tanpa pacaran, sangat bisa kuterima dan sudah kurencanakan akan begitu.

Menikah tanpa cinta itu mungkin-mungkin saja. Dan memang begitu.

___

(to be continue)

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: