Sesuatu Setelah Menikah

Yha. Assalamu’alaikum.

Selamat siang dari Pasar Minggu.

Ini adalah postingan pertama di tahun 2019 dan setelah menikah. Dan sesungguhnya tulisan ini menjadi penanda dimulainya sebuah proyek sederhana dariku dan…… suami. (baik, suami. urhm…. s..ss..uami..) Alhamdulillah, setidaknya satu postingan muqaddimah akhirnya muncul juga. Haha šŸ˜‚

Di proyek ini, kami akan menulis apa-apa saja yang penting untuk diingat dan pikiran-pikiran terlintas ketika menjalani pernikahan. Apa saja. Dari sudut pandangku dan sudut pandangnya. Jadi kelak akan ada platform gitu. Tapi ini aku akan memulai menyicilnya terlebih dahulu disini.

Disclaimer: tulisan-tulisan disini juga tidak bilang akan mewakili perspektif istri maupun suami. Murni jadi ajang implementasi value kami: berefleksi dan bertumbuh. Urhm.

Rencananya akan diberi nama: Rumah Samudera. Uwh. Mengapa rumah, kebetulan kami berdua sama-sama ingin menjadikan pernikahan yang homey. Hehe. Nanti deh dielaborasi. Samudera, karena… segala hal di dunia ini bermuara ke laut. Ini juga nanti akan lebih dijelaskan di satu tulisan. Lulss.

(Anyway, baru nyadar pakai kata ganti “kami” sekarang šŸ˜… Mohon ijin senp Syaif kuwakili kita.)

Ohya.

Tentu saja, kami sungguh menyadari bahwa banyak hal yang belum kami alami sendiri, sehingga banyak hal tentang pernikahan yang mungkin kami sok-sokan aja mengerti. Maka dari itu, kami tertarik berdiskusi dengan siapapun. Terlepas dari itu, kami bersemoga bahwa keping-keping renung disini akan membawa manfaat. Terutama untuk kami sendiri.

Tulisan-tulisan receh (tulisanku paling, luls) dan padat (tulisan masnya lah, wkk) akan bertransformasi menjadi pulpen-pulpen yang menjendul kepala kami. Kami ingin mengabadikan nilai-nilai, pengalaman, kesan, pelajaran, perasaan, dalam sebuah tulisan– (kayak nasihatnya Pramodya gitu) sekali lagi, untuk dibaca kami saat ini, kami di tahun 2020, kami 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, saat berumur 45 tahun, 52 tahun, bercucu 4 atau 5, bahkan bi idznillah, bercicit 10… dan seterusnya.

Semoga Allah ridho atas kami. Benar menyampaikan kami berdua di tujuan akhir pernikahan: Surga. Sembari kami berusaha menciptakan surga sebelum surga sebenarnya. Laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil adzim..

About this project, I dont know how it will work. We might have super-lazy-demotivated feeling towards writing marriage stuffs. Because someday maybe we are bored or maybe we simply have no time.

However, let’s give a shot, then. Feel the doubtness, and do it anyway. Wkwkwk. Anw, kok campur-campur bahasanya. Yha gitu la. Gapapa, mungkin di masa depan akan ada beberapa tulisan yang berbahasa Inggris, latihan aja kita. Kan warga dunia, hohoho.

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan menyebut nama Allah, kami mulai perjalanan ini.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: