Sendirian

Dipikir-pikir, aku ini sering sendiri. Jika yang dimaksud adalah sendiri yang seru-seru seperti ke toko buku, ke kajian, undangan nikahan, ke bioskop, maupun ke konser (pernah dong sekali. .. diundang lihat perform jazz trafic gratis yha kenapa tyda, lul. semata ingin tahu.)

Aku rasa, aku tidak apa-apa pergi sendiri. Kalau ada teman pingin ikut ya ayo, kalo enggak ya yawda. Tapi temen beneran deket ya, bukan temen yang gak kenal dan dalam jumlah grup. O, tyda.

Tapi dimana-mana… enakan sendiri. Haha. Sendiri berarti: di kamar, good books, liked links in twitter, internet connection, waw perfffect. Sendiri juga berarti: ke kafe sepi, bahkan ke indomaret point beli greentea gocengan, sendiri, udah nikmat gitu.

Atau, solo-travelling jarak berapapun kayaknya aku baik-baik saja, kecuali mungkin naik gunung sendiri… hng.

Wk.

Balik lagi, jika tentang pergi sendiri, i think the idea of me going somewhere all by myself has never been that eerie.

Sendiri berarti aku punya waktu untuk melakukan banyak self-dialog, menertawai dan mengutuk diri karena kecerobohan yang tidak sengaja dilakukan, mengamati pikiran-pikiran terlintas, melihat orang-orang– kadang mengira-ngira apa yang mereka sedang lalui. Membuatnya jadi skenario, kalau bosan, coba cocoklogi dengan pengalaman serupa, yang akhirnya selalu kutertawai.

“Opo seh Nezh.”

Biasanya aku akan berjalan lagi, menikmati detik demi detik sendiri yang kurasa amat bermakna.

Aku tidak tahu kapan aku bosan sendirian.

Tidak urgent juga dicari tahu kapan berakhirnya. Hal itu bukan kerisauanku. Selagi ada waktu sendiri, dinikmati saja.

Lagian, bosan dan tidak bosan (terhadap apapun) hanyalah masalah pola pikir, kurasa. Dan kita sangat bisa mendesain itu; apa, kapan, bagaimana. Tinggal mau apa enggak, gitu.

Sehingga, ketika membayangkan ada masa dimana nantinya aku akan lepas dari segala kemerdekaan mewah– being alone– ini, lalu membagi ruang untuk seorang asing, mengidentifikasi eksistensinya, menyadarinya dengan penuh… walau tampak menyeramkan, sesungguhnya hal itu tidak pernah benar-benar mengkhawatirkanku.

Karena mungkin malah menyenangkan.

Wkk, semoga benar begitu adanya.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: