Renung

That’s life, Nezha.

Seseorang berusia 60 tahun menyampaikan kesimpulan itu padaku dalam sebuah obrolan ringan tentang lalu lintas. Seorang petualang yang pensiun dan penyimpan rahasia yang ulung.

Hal-hal tersedih, paling menyakitkan, mengerikan, membahagiakan, akan selalu datang silih berganti.

Seperti langit, katamu.

Hati kita harus seluas langit. Hal-hal itu hanya akan mampir di kolong langit kita, berdiam barang sehari atau dua hari, lalu dia akan pergi. Tak pernah bertahan lama. Seperti cuaca yang buruk, besok akan ada matahari lagi.

Sekalipun hati terasa sesak sekali, dalam air mata yang deras turun tanpa dikomando, ingatlah bahwa ini hanya sementara. Rasakan perihnya, karena minggu depan mungkin kamu sudah lupa. Tapi ingat, hatimu seperti langit. Ia luas. Selalu ada ruang untuk berbenah dan membuat pelangi.

Lihat wajahmu di kaca.

Wow, begitu ya ternyata wajahmu saat menangis. Ingat-ingat terakhir kali, kapan pernah menangis begitu dalamnya.

Rasakan bahwa kamu menjadi manusia dengan spektrum pikiran dan emosi yang berpilin-pilin. Ketidakberdayaanmu, ketakutanmu, seharusnya tahu harus kemana berlari.

Ingatlah ketika masa dimana seorang mulia dirundung sedih begitu memilukan, kematian dua orang terkasih dan penolakan demi penolakan. Di sebuah daerah bersama Thaif, bahkan anak-anak kecil melemparinya batu, mengusirnya, menganggapnya tukang tenung. Dan disaat kesempatan membalas terbuka lebar, justru ia berdoa supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.

Lalu Allah beri hadiah luar biasa: Isra’ Mi’raj. Pertemuan melintasi langit seorang yatim yang kemudian disambut lembut oleh bapak para nabi.. Nabi Ibrahim.

“Yaa bunayya..”

Anakku..

Allah selalu punya cara menyembuhkanmu. Mintalah kepada-Nya. Ia selalu ada.

Dan ketika masa pemerintahan Abu Bakar terjadi murtad massal, hampir semua wilayah selain Makkah dan Madinah murtad, Sejarah mencatat Tha’if tidak. Ia tetap menjadi daerah yang taat pada Islam.

Maka pastikan bahwa kamulah yang tidak pergi. Tidak berputus asa dalam berdoa.Karena terkadang apa yang kita doa dan upayakan akan menjadi nyata justru di tahun-tahun setelahnya.

Sabar. Allah adalah sebaik-baik penyimak.

Advertisements
Renung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s