Sederhana

Kurasa, sederhana merupakan konsep yang, entah mengapa, cukup menantang untuk dilakukan di berbagai aspek hidup saat ini.

Sulit untuk menyederhanakan keinginan saat uang (sepertinya) ada, deretan hal-hal jadi mendadak penting untuk dibeli, menggeser prioritas beli buku-buku baru. Harus beli skincare ini dan itu– padahal belum riset mana yang cocok untuk kulit, kacamata baru– padahal yang lama hanya keselimpet di rak buku, sampai nongkrong dan njajan.

Sulit. Dan ketika kamu bisa menahan itu semua, kamu akan merasa merdeka dari keinginan-keinginan pseudo itu. You can buy that, but you don’t.

Sulit untuk menyederhanakan pikiran. Bahwa, dunia bergerak sangat cepat, kita tiba-tiba sudah berusia 23 tahun dan harus memutuskan untuk mengikuti dinamisnya dunia dewasa, berkelindan dengan keharusan untuk tampil selalu prima, tahan banting, vokal, fearless, dan cepat. Kita harus menjadi yang terbaik, terbesar, tercepat, termegah, terluarbiasa.

Sungguh, aku ingin kita selalu ingat bahwa tak ada salahnya untuk mengambil posisi selain dibawah sorot lampu, untuk tidak menjadi yang terpandang, untuk memperbaiki dari belakang panggung. Atau untuk memilih menjauh dari kerumunan, melakukan hal lain yang telah baik-baik pikirkan, untuk memiliki konsep diri yang lebih sederhana.

Sulit untuk sederhana mengurai rasa yang berakumulasi. Beberapa dari kita suka sekali bermewah-mewahan dalam merasakan. Mendekorasi hati dengan berbagai pernik, merah hati saat sedang bahagia atau abu-abu dan biru saat sedang sedih.

Sederhanalah dalam merasakan, pesan teman di suatu hari. Peluk kehadirannya, dan disaat yang sama, lepaskan ia.

Sehingga kita punya ruang untuk mengamati dan memahami bahwa kita adalah manusia biasa yang terus belajar.

Mimpi kita tentang masa depan, keluarga yang kita idamkan, negara yang lebih layak diwariskan, harus kita letakkan jauh tinggi disana.

Namun, pemaknaan kita terhadap caranya, sangat boleh berbeda. Sederhanakan, sehingga kita tidak meninggi jika ditinggikan, atau merasa rendah saat direndahkan. Ingat bahwa semua hal terjadi adalah proses yang sarat pesan dan padat hikmah, memang sengaja Allah pilihkan. Cara-Nya mencintai hamba.

Remember that Allah loves you. Do remember.

Berangkat dari keyakinan itu, atas apapun hal yang terjadi pada kita, kita merdeka memilih apa yang kita pikir dan rasakan.

Toh, hidup kita yang memberi arti. Semoga selalu dalam petunjuk-Nya.

Sesederhana itu.

Advertisements
Sederhana