Di Pedalaman

“Ibu Guru!”

Aku lupa, mungkin aku sudah sampaikan padamu tentang keinginanku mengumpulkan banyak cerita saat berada di ujung negeri ini. Tentang anak-anak bermata jeli, berlari ingin masuk ke kelas, berebut duduk di depan karena tidak ingin melewatkan pelajaran bahasa Indonesia tentang berekspresi dengan membaca puisi.

Atau saat aku sedang pusing mengutuk kebodohan diri saat tidak juga pandai memahami birokrasi, mengintegrasi pengetahuanku dengan situasi langsung, atau mengajak bicara anak-anak dan orangtua mereka dengan bahasa lokal yang tegas nan melodis.

Aku ingin ceritakan padamu, tentang mimpi-mimpi yang perlaha mulai berani dilantangkan, sampai langit kelas mereka goyah, menembus lurus tegak mengetuk langit dalam doa-doa yang diyakini bulat-bulat.

Atau cerita saat kami berpetualang ke sumber suara ombak, perjalanan menerobos belukar hutan yang jauh dan bahaya, aku yang hampir menyerah, namun anak-anak melarangku, lalu berebut ingin meringankan beban pundakku. Dan dengan sisa harga diri yang kupunya, aku menyeret kaki sampai akhirnya kami menemui ujung pantai. Tercengang beberapa detik sampai akhirnya kita berlari, meninggalkan lelah di tempat yang jauh.

Tempat dimana aku mungkin jatuh cinta pada negeri ini, kemudian serta merta berjanji akan melakukan apapun untuk terbukanya kesempatan mereka merayakan pendidikan dengan suka cita. Semakin percaya bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia, meninggikan adab dan mengamalkan ilmu untuk melipatkan kebaikan.

Dan kesemuanya, adalah perjalanan yang mungkin selamanya jadi mimpi yang rapi tersimpan di toples kaca dalam diri.

Kadang-kadang kutengok, kulihat dan kubersihkan. Sambil agak menyeka air di ujung mata dan berdoa kepada Yang Maha Penyimak Rencana untuk mengabulkannya dengan cara-cara tak terduga.

Advertisements
Di Pedalaman