Pernah Jadi Anggota Paskib

Di setiap tanggal 17 Agustus, yang merupakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, aku, yang saat itu berusia 10 tahun selalu duduk memeluk lutut di depan televisi. Dari pukul 08.00 – 10.00, total aku menguasai teve sederhana itu. Aku yang berkuasa mengganti channel dari satu ke yang lainnya, mencari layar terbersih, suara terjernih.

Ya, Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang rutin ada di televisi tiap tahun adalah yang kutunggu-tunggu.
Dadaku selalu bergetar ketika terdengan suara marching band menderu, aba-aba pemimpin upacara, dan gerakan serempak tanpa cela para TNI AL, TNI AD, dan TNI AU ketika menerima aba-aba. Megah sekali.
Tapi sebenarnya bukan itu yang aku nantikan.
Momen ketika hatiku jumpalitan tak karuan adalah ketika memasuki prosesi pengibaran bendera. Amboi, lihatlah pleton berseragam putih-putih itu! Pasukan pengibar bendera pusaka !
Gagah, aura memancar dari wajah mereka, langkah tegap yang memukau, formasi sempurna, potongan rambut yang mirip tentara pria dan wanita, derap sepatu fantofel mereka membuat bulu kuduk bocah 10 tahun itu—aku– meremang.
Mereka bukan sembarang siswa. Mereka siswa terpilih dari beratus-ratus siswa SMA di Indonesia!
Sejak saat itu menjadi pasibraka adalah cita-cita keduaku setelah menjadi presiden.
lima tahun kemudian, aku berdiri di situ, di halaman depan SMA-ku, menjadi satu dari sekian anggota Paskib.
Aku semakin bersemangat menjadi Paskibraka, tak peduli ketat, sulit, dan kecilnya kemungkinan untuk menjadi kenyataan. Aku tetap bersemangat meskipun pengalaman PBB-ku minim. Aku sadar, cita-citaku bukanlah hal yang mudah, tidak instan, butuh perjuangan, butuh keteguhan hati, butuh pengorbanan. Dan semua itu akan aku mulai dari ekskul kecil ini, ini adalah langkah awalnya.
Aku mencintai kegiatanku. Aku mencintai cita-citaku. Meskipun orangtua ku tidak setuju, tapi aku akan membuktikan kepada mereka! Itu tekadku.
_______
Semakin waktu berjalan, semakin banyak pemahaman dan ilmu yang kuserap, semakin aku mengerti. Ada begitu banyak halangan dari diriku dan sekitar
Sampai satu titik kesadaran, aku tak bisa.
Aku sadar aku tidak bisa maksimal. Sebagaimanapun usahaku.
Aku seperti berwarna merah di tempat berwarna kuning.
Tak ada kesempatan untukku. . Dan entah kenapa kesempatan satu-satunya untuk membuktikan pada orang tua tiba-tiba hilang, seperti sudah diatur sedemikian rupa.
Aku menyimpulkan, tak bisa lagi bersama orang-orang hebat disitu. Aku sedih sekali.
___
Aku mengecewakan satu orang disana, dulu aku pernah berjanji padanya akan melakukan apapun untuk bisa menjadi pleton hebat, aku pernah berjanji padanya akan maksimal dan tak lelah berlatih untuk PBB yang lebih baik. Dan aku pernah berjanji akan membuktikan padanya bahwa aku bisa menjadi wakil sekolah ke perlombaan PBB.
Dia kakak kelasku.
Sebentar, mengecewakan dia? Ralat, mungkin ia bukan kecewa, tetapi… benci.
Aku ingin menjelaskan betapa sulitnya untuk bertemu dan bicara akan hal ini. Tak tahukah ia bagaimana bentuk perasaanku ketika kulihat mereka berbaris rapi di lapangan?
Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Rasanya seperti bicara dalam air, sulit dan sesak sekali.
Aku tak tahu lagi bagaimana anggapan mereka terhadapku. Aku hanya ingin mereka tahu, betapa beratnya keputusan ini.
Maksudku, ini tentang cita cita masa kecilku! Aku sedang berusaha ikhlas, tak peduli lagi pikiran orang lain, ada banyak yang mereka tak tahu tentang aku. Terkadang sesuatu yang kau inginkan ternyata bukan yang terbaik menurut Allah, kan?

Tulisan hari ini di Facebook dari tahun 2010.

Ternyata aku ini anaknya GR-an, suka berasumsi dan hobi mengurusi kesan orang lain terhadap keputusan-keputusanku.

Padahal yha, bisa aja mbak mas paski saat itu malah bahagia ditinggalkan olehku, karena itu berarti  mereka nggak perlu kesulitan lagi dalam membuat barisan pleton yang lebih rapi dan cakep di lomba-lomba. Dalam pleton, kan yang tinggi harus di depan tuh, dan aku tinggi, jadi di depan dong. Karena kehadiranku, jadi agak ribet dan drama karena aku roknya maunya tetep panjang dan kerudungnya nggak dimasuk-masukin… Bingung juga menjelaskannya. Kalau nggak salah akhirnya aku mengambinghitamkan orangtuaku saat memutuskan keluar, “Gak diizinin lagi sama orang tua, Mas, Mbak…” Padahal, nggak gitu juga. Wkk.

Oh, dan kurasa aku menulis ingin jadi presiden itu biar terlihat keren saja.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: