Perihal Ingin Kita

Aku janji,

akan ada masa kita akan menertawai kekhilafan kita– aku yang akhirnya menemukan polamu dan kau yang akhirnya mengetahui keinginan Allah pada doa-doamu. 

Aku janji, aku akan mengantarmu pada masa dimana tak ada lagi kerisauan tentang hal-hal esok,  doamu terjawab dengan cara yang luar biasa indah. 

Aku janji, kau akan menghabiskan masamu dengan bahagia dan lega.  Kau akan ketahui ternyata kekhawatiranmu tidak terbukti, bahwa kesabaranmu berbuah manis sekali.  

Bahwa aku tidak apa-apa. Tidak berada di situasi merisaukan yang kautakuti.  

Aku bahagia dengan makna yang awalnya terlalu abstrak untukmu, tapi kau kemudian jelas mengetahui, aku bahagia. 

Dan kau tak risau. Dan kau aman.  

Aku mencintaimu, terima kasih sudah menjagaku dengan doa-doamu.  

Advertisements
Perihal Ingin Kita

Petunjuk dari Jakarta

Aku sudah sering ke Jakarta.

Sejak SMA, mulai dari alasan dulin–main, mengantar ibu survey studio Mamah dan Aa–wkk, nonton Ustadz (tapi ternyata acara dibatalkan H-1 karena sebuah aksi terjadi), sampai tes atau wawancara sesuatu.

Saat pertama kali, aku berangkat dengan penuh prasangka terhadap kota ini. Jakarta bagiku bersinonim dengan jarak sosial, egoisme, tak acuh, polusi, korupsi….  dan hal negatif lainnya. Saat itu, dengan mobil yang terjebak macet, aku melihat seorang pengendara motor yang terserempet, namun yang nyerempet kabur aja.  

Kamu pasti udah lihat iklan Meikarta? Lol. Nha. Kira-kira yang kurasakan tentang Jakarta mirip  yang dilihat adik itu.  (Ew iki kok aku promosi?  – -)

Namun, berbeda dengan minggu lalu.  

Aku berangkat dengan hati yang luar biasa biru, gembuk, dan siap ambyar kapanpun. Banyak pertanyaan dan keresahan yang kubawa, erat kugenggam di sepanjang kereta yang berjalan ke barat. Ini perjalanan solo– ke Jakarta — kesekianku, dan rasanya berbeda.

Qodarullah, Allah mempertemukanku dengan banyak manusia, menyimak kisah, dan seperti sengaja melibatkanku dalam alur pikiran mereka. Titik-titik yang acak di otakku, perlahan terhubung dan menemukan garis konstalasinya. Walau samar,  kurasa aku bisa sedikit membaca utuh. Saat kembali dari perjumpaan dengan manusia-manusia luar biasa yang Allah pilih itu, aku berusaha untuk merapihkan memori pertemuan itu di otak. Menyimpannya rapi– yha dengan analogi sederhanaku, kunamai foldernya: Untuk di Ingat – Memoar dari Jakarta. Wkk. 

Walau belum terjawab semua, tapi aku cukup senang. Mungkin Allah sedang memberi petunjuk lewat mereka, dan sungguh aku bersyukur menyadari kemungkinan itu.

Salah satu dari mereka, di sebuah DM Instagram pernah memberitahuku sebuah lagu yang keren sekali. Katanya lagu itu akan mengingatkan kita untuk menelaah lagi alasan kita bangun setiap hari: memilih untuk menjaga idealisme atau meninggalkannya di meja lalu bersiap pergi menembus kemacetan jalan raya.

Kamu harus cek lagunya disini.

Petunjuk dari Jakarta

Teruntuk 

Aku mengenal seseorang yang sangat baik. Ia terkenal karena kebaikannya menolong teman, adik, dan biasa jadi mediator di berbagai permasalahan, dipercaya mengambil keputusan,  penengah pertengkaran, dan juga pembangun jembatan di keluarganya. Ia dikenal pula dengan keluasan ilmu dan kesediaannya berbagi cara melihat dunia.

Setiap bicara dan berkomunikasi dengannya, aku selalu dibuat wow dengan kompleksitas yang ia miliki. Ia begitu kuat, namun disaat yang persis sama, tampak bisa runtuh saat itu juga.

Katanya, ia percaya padaku. Ia percaya dengan hal-hal abstrak dan bising di kepalaku. Sungguh aku bukannya sok kritis– kurasa ia hanya ingin membuatku merasa lebih baik. Namun, entah mengapa aku mudah saja menerima hal itu. Dengan orang lain, mungkin aku nyengir dan bilang, “Eh, tidak usah repot-repot. Aku bisa melakukannya kok tanpa validasi darimu.” 

Berbeda dengannya. Sudah kuanggap ia bersungguh-sungguh mengutarakannya. Dan kalaupun tidak, yah… Aku tetap harus berterima kasih, karena ia meluangkan waktu untuk mendengarku, menunggu penjelasan yang sepotong dan ambigu, bahkan sempat menagihnya. Seperti mozaik pikiran recehku itu hal yang penting saja. 

Pun kalau ia hanya melaksanakan tugas menjadi orang baik, aku tetap harus berterima kasih. Karena melakukan rutinitas menjadi orang baik di zaman yang seperti saat ini itu pasti melelahkan.

Terima kasih ya sudah mencatatku di daftar orang yang harus disapa dan ditanya-tanya.

Darinya, aku mengerti bahwa sometimes we are clueless about ourselves. We don’t know we have this particular side of us, exists. It took our energy, flesh to bone. I might never neglect it. Aside of the mess it made, it is quirky, perplexing, and at the same time, it’s heart-warming. 

I embrace its existance.

Kuharap ia selalu baik-baik saja. Ah, ia akan selalu baik-baik saja. Dia punya Allah.

So again, thank you! It’s been really nice to meet you.

Teruntuk 

Percaya 

Ada sebuah tweet dari James Breakwall yang muncul di timeline twitterku. Disukai oleh Ika Natassa dan Mbak Vinci.

Isinya begini:

Percaya.

Aku ingat saat kelas 2 SD.

Mungkin aku dirasa cukup pintar dan aktif saat itu sehingga aku terpilih sebagai ketua kelas perempuan pertama dari seluruh angkatan. Mungkin juga ditambah sifat yang bossy dan intimidating-ku saat itu. Aku bossy dan intimidate karena tidak ingin dianggap lemah. Well.. saat SD, aku dibully habis-habisan, bertahun-tahun sampai lulus SD karena aku anak perempuan yang badannya tinggi dan cukup disegani (bahaha karena ketua kelas). Aku disebut jerapah, tiang listrik, sutet, dsb.

Ghils. Hahat ugha kalo dipikir-pikir anak SD jaman itu. I adore my self of being so strong. Lol.

Saat itu kelas bahasa Inggris dan aku lupa bawa buku. Entah karena tertinggal atau apa… Intinya aku lupa. Sampainya di sekolah, guru bahasa Inggris–yang merupakan salah satu mata pelajaran yang kusukai, memarahiku habis-habisan di depan kelas. Harga diri sebagai ketua kelasku hancur berkeping-keping hanya karena buku yang tertinggal. Kecemerlanganku mengingat kosakata-kosakata dan kesregepanku menjawab pertanyaan-pertanyaan di kelas seperti tak ada artinya.

Sejak saat itu, aku benci bahasa Inggris. Titik.

Bahkan, setelahnya aku pernah nekat membolos kelas bahasa Inggris karena menyadari LKSku tertukar dengan milik mas Arif (warna covernya sama).

Bayangkan, kelas 2 SD, semata tidak ingin berkonfrontasi lagi dengan Ibu guru bahasa Inggris, akhirnya memutuskan bolos. Wakakakakakkaka.  Ngarang cerita ke ayah dan ibu kepala sekolah juga saat itu. Luwar biyaza.

Sampai di awal SMP, ayahku getol ingin aku bisa bahasa Inggris. He might see my buried potential and wanted to unleash it. Lul. Aku manut saja, semata tawadhu. Wk. Lalu hadirlah brosur fotokopian kursus bahasa Inggris yang letaknya di perumahan belakang pasar di rumah kami.

Kesanalah aku. Sampai beberapa bulan, aku sama sekali tidak menemukan keasyikan belajar bahasa Inggris. Datang dan pergi. Tak serius ingin bisa, hanya penggugur kewajiban.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan-nya. Guru baru.

Mr. Irfan Rifai.

Mas-mas baru lulus kuliah, kulitnya sawo matang dengan kacamata tipis serta senyumnya yang mengembang menyapa kami semua di kelas. Pada awalnya aku seperti yang lain, biasa aja. Tak ada yang menarik.

Dia suka sekali tersenyum dan mendekati kami satu persatu. Mengecek, menanyakan langsung, dan mengajak kami ngobrol tentang materi dan relasinya dengan yang kami alami.

Dia mengamati setiap ucapan kami, walau berantakan– yang aku tahu temanku salah, tapi herannya ia selalu bilang: very good! bagus sekali, tapi kurang tepat…

Ketika aku yang ia hampiri, dia melakukan hal yang sama, mengucapkan hal-hal yang membuatku bersemangat bahkan ketika aku berusaha mengacuhkan dan menjawab sekenanya dengan sengaja. Yet he didnt give up on me, even he praised me. “Thank you very much for trying, Anisah!” katanya.

Lah? …

Aku merasa dihargai dan dipercaya. Ia mengapresiasi hal-hal sederhana yang aku dan teman-teman lakukan saat belajar bahasa Inggris. Sejak bertemu dengannya, kami– aku mungkin, jadi semangat sekali kalau lihat apapun yang pakai bahasa Inggris. Aku pede, nggak takut salah.

Saat SMP, masuk SMAN 15, dan masuk Unair, aku selalu menyempatkan diri mengiriminya email. Menceritakan kegalauanku semua dalam bahasa Inggris. Dan disetiap surat itu, aku selalu meragukan ingatannya padaku. Namun ia selalu berkata.

Of course I do remember you! You are  Anisah the smartest, most active, and tallest girl in our class! Hehehe. And now your english is getting more impressive. Only spot minor mistakes. Keep improving, girl!”

Terharu, padahal saat kubaca lagi email-emailku, iku akeh sing salah. . …

Ia juga mendukungku masuk Sastra Inggris, ambil linguistics (tapi gak tak ambil linguisticsnya, sir. wakaka), dan melanjutkan kuliah keluar negeri sepertinya, menempuh S2 dan S3 di Leeds, Inggris. Sekarang, beliau jadi dosen favorit di Universitas Adi Buana, Surabaya.

“I believe you can do that.”

Padanya, aku memahami esensi menjadi seorang pendidik: ia mempercayai anak didiknya. Ia memantik percaya diri dan rasa penasaran mereka terhadap ilmu pengetahuan.

Itu yang juga sedang berusaha kulakukan saat ini.

_____

Percaya.

Betapa magisnya kata itu terdengar. Ia begitu hangat, masuk dan menyalakan lagi semangat yang redup dan hampir mati. Sekuat dan seindependen apapun diri manusia, kurasa kita ingin dipercayai. Diserahi segepok percaya saat sedang ragu, rasanya seperti hilang separuh beban di pundak. 

Aku percaya kamu bisa. 

Mendengarnya seperti menemukan oase. Ia sejuk dan membuat hati jadi lembut. Ia seperti animasi ritmis dari manusia– yang melewati beberapa prose perubahan, sampai menjadi superhero yang siap melawan musuh. 

Mungkin beberapa kali kita seringkali ragu, mencurigai ucapan itu keluar hanya sekadar basa-basi, formalitas, atau penyemangat semu. Tak ada yang istimewa. 

Tapi pada akhirnya, kita mungkin luluh juga. Berpikir bahwa sekalipun tidak dengan hati, menyampaikannya pun butuh usaha. Just cherish that anyway. 

Jadi, terima kasih.

Terima kasih sudah mempercayaiku bulat, melebihi percayaku pada diri sendiri. Terima kasih sudah mengingatkan saat aku lupa.

Terima kasih. Semoga Allah meridhoi.

Percaya