Mungkin

Erick Weiner, in his book “Geography of Bliss” uttered that even when two people are travelling together, each of them owns her or his own journey. Personally. 

I’d say yes. 

Ini hari kedua, besok pagi sebelum subuh, aku harus sudah self-check out dari apartemen mura meriya namun sangat rekomended— thx Airbnb– untuk mengejar kereta ekspress paling pagi untuk ke bandara dan pulang, kembali ke Surabaya.

Dan aku– cukup sedih.

Sungguh bukan karena Niswah gagal mengambil foto instagramebel dari kameranya (aku ga nguruz foto2an sakjane…), atau karena aku jatuh cinta dengan tempat-tempat di Malaysia (tetap #visitindonesia yha, gais) atau nyaman dengan transportasi massa yang memang jauh-jauh-jauh lebih baik dari yang pernah kutahu di Surabaya bahkan Jakarta.

Bukan itu.

Dari dua hari yang singkat ini, kurasa aku menemukan mozaik diriku, yang usang sampai yang baru. Dengung bahasa Mandarin di MRT, turis-turis berbagai negara di tiap sudut kota, obrolan kampus dan kehidupan di Malaysia oleh Niswah dan mas-masnya yang hilang dan timbul di telingaku– di tengah-tengah itu semua selalu muncul satu kesadaran:

You’re away from home, you’re doing what you wanna do.

Yet, I wasn’t scared, even a bit. I found myself  brave and fine. And it amazed me. 

Anw, kamu jangan percaya jika aku bilang aku ini adalah orang yang menyukai tantangan. Waktu kamu pernah dengar aku bilang gitu, mungkin aku tidak sungguh-sungguh, mungkin aku cuma ingin membuat kesan yang menarik untuk kamu tahu.

Tapi, sungguh aku penasaran dengan bagaimana Allah menggeser batas diriku, hingga tak ada yang bisa kulakukan selain berani jalan dan yakin dengan pertolongan-Nya. Dan disaat yang sama terkaget-kaget dengan betapa baiknya Ia yang masih mau memberiku petunjuk lewat kesadaran semacam itu. Padahal aku masih celemotan dosa.

Hingga aku menyimpulkan, mungkin aku sudah siap. Mungkin aku sudah bisa. Mungkin aku harus memperjuangkan diriku lebih keras lagi. Mungkin aku harus pergi lebih jauh.

Semua masih berupa kemungkinan– yang dari semua kemungkinan itu, aku harus bersabar. Sabar yang lebih-lebih. Sabar dalam mengelola ekspektasi dan prasangka baik kepada Rabb Sang Maha Perencana. Nah, kalau yang ini, sebenar-benarnya tantangan untukku.

Dan di ujung safar ini, aku ingin diriku untuk terus ingat bahwa perjalanan dekat dan jauh– sendiri atau riuh itu bukanlah untuk membuktikan diri, ingin dirindukan, kaboorr, atau yang lain.

Tapi untuk menambal-mempertebal keimanan pada Allah dan mengumpulkan cerita nyata untuk diceritakan ke anak-anak sendiri– atau orang lain.

Bismillah ya, sis.

Advertisements
Mungkin

“Alhamdulillah, Mbaak”


Di suatu isya setelah buka puasa, aku menggonceng adik-adik baru kenal yang kuajak pulang bareng, semata sejalan dan yha kenapa tidak.

Di perjalanan, ternyata kami membicarakan hal-hal tentang diri masing-masing: kegagalannya di SBMPTN, kesibukannya di sekolah, keinginannya untuk bersekolah jauh dari rumah– karena ia lelah menjadi “terkenal” di Surabaya. Ia yang Amanah, ia yang semua-pasti-beres, Ia yang the-yes-girl. Ia ingin pindah ke tempat dimana ia bisa lebih jadi penyimak, pengamat, tanpa banyak dikenali. Me-reset ulang konsepsi tentang diri.

She, in some ways, reminds me of myself. Then I eventually agree that she has unlocked my password.

But, i think i need to revise it: she’s way better: in controlling her expectation, widening her acceptance, in seeing Allah’s plan for her, in husnudzon of Allah’s decision over all her efforts.

I remember the time in 2012, how gloomy i was. It took months– a year maybe, for me to finally accept my fate. I was craving for an answer, i dealt with my dissapointment, arrogance, and question. I didn’t really prepare myself to be in Surabaya and tbh, I didn’t really care about my murobbi’s implied sayin that DS is in its critical points.

That time.

And here I am. Tears streaming down, adoring my sister’s husnudzon towards Allah’s plan for her, her relief about bigger possibility to be in Surabaya– and join us. She might hold the grief, she might be tired of trying, yet she never loses her belief.

I learn a lot from her. In dakwah, in acceptance, in having faith in Him.

In embracing life.

Terima kasih ya, Hila.

“Alhamdulillah, Mbaak”