Ini Bulan Ramadan

Ini bulan Ramadan, Kak. 

Tidak boleh ada yang bersedih di bulan ini.

Lihat wajah-wajah itu, baik yang berbuka dengan beberapa butir kurma curah serta gorengan maupun kurma premium asli Madinah harga 600.000 dan cake red velvet, semua sama bahagianya. Mengawali buka puasa dengan doa dan syukur.

Ini bulan Ramadan, Kak. 

Anak-anak rantau menghitung hari. Tiket sudah dipesan jauh-jauh hari. Mahal sekalipun tidak masalah.  Berjubel di stasiun dan bandarapun, tidak ada apa-apanya.

Pulang ke rumah.

Mengingatnya adalah merdu, pelipur segala lelah. Sudah menyisihkan rupiah dan membelikan sepotong baju untuk ibu dan keponakan. Biar Hari Raya semakin semarak. Rindu yang ditabung, insya Allah akan segera lunas. 

Ini Bulan Ramadan, Kak. 

Ada rahmat, ampunan, dan berkah Allah yang bisa kita ambil dimana saja. Di sudut-sudut malamnya, di siang teriknya, di menit sebelum berbuka, di pagi setelah subuhnya. Kapanpun kau ingat, segeralah berdoa. Apa saja. Karena ini bulan Ramadan

Semua bahagia.

Ini bulan Ramadan, bulan dimana kita diberi kesempatan kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Mengingatnya, kekuatanmu seharusnya bertambah.  Mengingat bahwa Allah menyimak baik-baik setiap harap dan takut itu, seharusnya membuatmu kuat.

Kau punya Allah, dan itu lebih dari segala cukup.

Jadi jangan sedih.

Ingat, ini Bulan Ramadan. Allah lebih dekat bersama kita. 

Tamu di Depan Rumah

Ada tamu yang dinanti-nanti datang dua hari lalu. Tamu agung. Ramadan.

Walau tidak berkesempatan berpuasa di hari pertama (sampai hari ini dan lima hari selanjutnya), aku merasakan datangnya detik-detik Ramadan ini dengan berbeda dari tahun sebelumnya. Ada deg-degan, malu, sekaligus bersemangat. Well, I do hope that this is a good thing…

Aku masih ingat Ramadan tahun lalu, karena suatu hal yang sangat duniawi— seperti deadline skripsi di bulan puasa serta sidang skripsi beberapa hari setelah lebaran– aku merasa kurang memaksimalkan Ramadan. Tidak ada romantis-romantisnya. Semua gara-gara skripsi, /lol/, maksudnya, monster dalam diri yang dominan dan sibuk mencari pembenaran untuk lalai. Aku ingat, memaafkan diri di setiap 1 Syawal sering jadi hal yang cukup sulit dilakukan. Tahun lalu, salah satunya karena ini. Tidak maksimalnya aku pada Ramadan.

Dan ketika dipertemukan lagi dengan Ramadan tahun ini, sungguh rasanya seperti mendapat jawaban dari doa-doa yang padanya kamu belum siap. Aku deg-degan saat sore menjelang masuknya 1 Ramadan, mata perih sembari terus beristighfar. Ya Allah, semoga bisa. Semoga Engkau mampukan.

Yah, jadi.. Hai. Ahlan wa Sahlan, Ramadan.

Bulan luar biasa ini datang lagi, menyapa dengan ramah dan sangat ganteng padaku. Sedang aku tersenyum kikuk, sungkan dan malu karena merasa belum layak didatangi jawaban dari doa-doa ini. /hadeu kok seperti jodoh. . …..

Memikirkan rutinitas yang baru serta segala kombinasi asa dan harap itu, membuat Ramadan kali ini terasa lebih personal bagiku. Aku mungkin sedang berlomba dengan diri sendiri. Tolak ukur keberhasilannya sederhana: Ramadan tahun lalu. Tahun ini harus jauh lebih baik. Variabel-variabel baru di tahun ini (rutinitas dan harapan-harapan) jadi tantangan sekaligus motivasi untuk tidak melewatkan Bulan Ramadan begitu saja.

Di bulan Ramadan, semuanya jadi tentang aku dan Allah.

Target-target Ramadan adalah caraku membangun jembatan, memotong jarak, dan mendekat sampai sedekat-dekatnya. Merasakan manis dan lembutnya iman.

Semoga.

Lelap

Malam untuk beristirahat– kata Yang Maha Memelihara, kalau boleh kuingatkan.  

Jadi, dengan sebait doa, mari memejamkan mata sedalam-dalamnya. Menyadari tidur adalah merelakan diri untuk mati sejenak dan tak berkesempatan bangun lagi esoknya.  

Yang penting kita sudah berdoa.  

Dari upaya itu, kaurasa akan ada suara menari di pikiranmu. Mengajakmu menelaah hari ini. Manusia-manusia yang kau temui, kisah mereka, rindu yang kau tahan-tahan, juga harapan yang kau beri makan. 

Dalam perjalanan sebelum tidur itu, kaudapati dirimu kewalahan menahan gelisah. Ingin bangun lagi tapi terlalu lelah, ingin menyampaikan sebait dua bait pesan, tapi terlalu ngeri membayangkan responnya.  ingin menuntaskan pertemuan, tapi buat apa.  

Lalu kau ingat lagi tulisan di kolong internet tadi pagi yang begitu hangat dan merah jambu. Mempersonifikasi fenomena alam sebagai manusia yang tidak mampu menguasai hati dan ingin menyelamatkan satu sama lain. Dua orang telah bersepakat. 

Cukup muak, sekaligus iri. Karena diam-diam bertanya: seperti itukah mencintai dan dicintai? 

Betapa heroiknya.  

Atas kesadaran romantis itu, sedetik kemudian kau membuyarkannya dengan kembali membangun tembok tinggi. Mewanti diri untuk tidak menerbangkan perasaan tanpa navigasi. 

Mungkin manusia memang diciptakan untuk selalu merayakan sedih dengan bermewah-mewahan. 

Tapi semoga kita bukan termasuk golongan yg berlebih-lebihan. Agama tidak mengajarkan begitu kan ya. 

Oke, 

Sudah tertidur kah, kau? 

Tidur saja yang jauh. Ada bintang-bintang di atas sana, kalau kamu lihat, ada satu bintang, milikmu saja. Dia bisa tertawa. 

Cuma kamu yang punya. 

Oh, Pangeran Kecil juga. 

Jadi, selamat tidur.  Semoga besok Allah membangunkanmu.  

Menuntut Ilmu 

Di suatu pagi. Aku menemukan ayahku membaca buku warna biru dengan serius. 

“Ini buku bahasa Arabmu ta, Amah?”

“Hoo..  iya Jid. Kenapa?

Ayahku melihat sampulnya,

“Hm. Ini lho ketoro banget. Dari semua hadist, kok ngambil hadist yang ini di taruh di muqaddimah.”

Aku melongok, cari tau.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

“Apa tu Jid?”

” Ya, itu. Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu masuk neraka.”

” Hm… “

“Kullu disini artinya ndak seluruhnya, sebagian. Tapi hadist jni sering diarahkan ke kita, karena sering mengada-adakan yang di zaman nabi nggak ada. Yasinan dibilang bid’ah. Tahlilan,  bid’ah… lah padahal motor dan mobil juga jaman nabi gak ada..”

“Hm…”

Denger Ayahku bilang gitu, saat itu juga aku jadi memikirkan ganti tempat belajar. Demi menjaga keridhoan ortu.  bahahahah. 

“Terus yak opo, Jid? Ganti tempat aja ta aku? Mumpung jek satu pertemuan.

“Lho ya jangan. Tetep aja.”

“Ha? “

“Wong nabi saja menyuruh kita nuntut ilmu sampai ke Negeri Cina yang jelas-jelas nggak Islam kok, lah apalagi ini sama sesama muslim sendiri.”

Aku ketip-ketip.

“Belajar itu dari mana saja, orang dari latar belakang mana saja. Wong ini saudara sendiri. Ya walau kita sendiri sering diilokin bid’ah sama beberapa dari mereka. Nggak papa. Tetap belajar disana.”

**

Such a beautiful respond of my father. This is why I respect him wholeheartedly.

Aku tahu banget apa yang ayahku saksikan di masjid dekat rumah setiap harinya. Misal ayah melarangku belajar di tempat yang ia anggap tidak sesuai dengan “kultur” kami, aku juga siap saja.

Tapi ayah tidak begitu.

Sungguh berbeda dengan apa yang sering aku dan kamu saksikan di web-web resmi atau tokoh-tokoh yang mengatasnamakan NU. Kadang malas juga mengaku bahwa aku lahir besar dan dididik dengan cara NU, jika selama ini pengetahuan orang-orang tentang NU yha yang mereka liat dan baca di sosmed, atau seringnya nggumbul dengan NU yang begitu. Wkwk.

Jujur saja aku bahkan ayahku juga suka jengah kok dengan kelakuan-kelakuan itu.

Ah, tapi aku sudah punya teladan yang sangat dekat kan. Ayahku. Karena beliau, perilaku orang lain jadi tidak relevan lagi.

He’s the one whom I look up to.