Arif. 

Aisyah dengan Abi dan Ibu.

Satu-satunya laki-laki di foto itu namanya Arif. Dia Masku, genap 27 tahun ini. Melihat di stories kakak iparku, kulihat ia begitu… berbeda ketika mendekap bayi perempuan itu. Entah emosi seperti apa yang kurasakan saat dia kagok dan heboh mengganti popok Aisyah.

Mas Arif ini LDM-an dengan istrinya. Mbak Annisa (iya, namanya sama kea aku)  tengah menyelesaikan S2-nya di Unair yang sempat tertunda karena hamil dan melahirkan Aisyah, dan Masku bekerja di Bandung.

Kedatangan Mbak Annis dan Aisyah ke Bandung pasti jadi pelipur lara Mas banget.

Aisyah kangen Abinya.  Abinya apalagi.

Melihat ke-kagokannya menggendong Aisyah pakai bedong, memoriku jadi berputar. Aku nggak menyangka sudah berada di fase ini. Tante dengan 7 (mau 8) ponakan, dan.. melihat Masku bersama bayi.

Dia sudah.. jadi ayah.

Aku coba ingat lagi warna rumah siang itu, ketika Mas Arif pulang ke rumah, rambut piak tengahnya, dengan bau khas matahari, kaus kaki bolong bilang, “Aku jalan lo dari sekolah.” yang serta merta disambut marah dan tidak percaya Ibuku. Bayangkan, dari Wonokromo ke Rungkut, anak usia 12 tahun jalan kaki. Katanya, duit naik bemonya ditabung buat beli tamiya. 

Atau saat dia pergi mencari batang tebu dengan mas-mas lain, aku ikut.  Aku mengamati caranya memakan batang tebu. Kutiru, lidahku langsung ditempeli serat-seratnya yang seperti bulu tajam, lalu dia ngikik-ngikik puas, cukup membuatku trauma makan es tebu sampai sekarang.

Belum lagi sederet kelakuan tidak bertanggung jawab lainnya.  Baca buku diariku keras-ketas,  nggarai,  ngece-ngece, nggudo-nggudo, semata-mata ingin melihatku menangis kencang.

Itu dulu. 

Kepergiannya mondok waktu SMP sangat kusyukuri, tak ada perusuh hari-hari puberku.  Lol. Aku tumbuh tanpa benar-benar bersama dengan Kakak-kakakku. 

Sampai akhirnya dia kembali, masuk SMA Negeri. Jadi Ketua OSIS. Jadi anggota remaja masjid yang aktif, disukai bapak-bapak, dielu-elu ibu-ibu.  Belum lagi saat kuliah, jadi ketua BEM dan dikenal, dihormati, disayangi, —- semua orang, dari pak Parkir sampai Pak Dekan. 

Bahkan sampai sekarang.

Temanku yang di ITL ketika berkesempatan tahu silsilah keluargaku, akan membulat matanya.  Seperti teman KKN-ku, Aman, “Serius kamu adiknya Mas Arif yang itu? Yang itu??!?!”

The legend Arif.  

Kebaikan Mas Arif saat ini kepadaku sering kuterima dengan curiga. Semata awkward, dan tidak tahu akan bicara apa, berterima kasih dengan suara alay yang terencana atau menanggapi dengan cuek-cuek cool. 

But, I miss him. 

Saat ini, mungkin dia tengah mengalami banyak hal di keluarga kecilnya, di kantor baru dengan amanah barunya, tuntutan yang ada padanya yang semuanya kurasa lebih berat.

I hope he’s okay, and I believe he is. He is my brother.

I’m gonna send him hi, and also weird IG post about Fullhouse (we were Fulhouse and Sassy Girl Chun Hyang lovers. Yes, in 2005, Korean drama united us.), maybe Pokemon, Digimon, or Hatchi too.

Advertisements
Arif.