Kepada Is.  

Entah apa kau akan menyebutku, yang jelas ceritamu tentang desa sebelah yang semakin ramai dikunjungi orang karena sungai berbatu-batu disana dijadikan tempat arung jeram favorit orang kota, sama sekali tak membuatku tertarik. 

Aku tidak menyukai desa yang tenteram ini kemudian bising oleh mobil-mobil yang minta lahan parkir sehingga kita harus mengeringkan petak-petak sawah untuk digagahi mobil bernopol antah berantah itu. Tidak juga dengan wajah-wajah sok penasaran yang mungkin akan melihatku sebagai manusia langka dengan peringai primitif dan diminta foto dengan pose memegang bambu. Janga lupa dengan sampah-sampah asing yang tidak pernah kita temui akan nyangkut di kali depan rumah kita.  

Ingin apa sih kita ini?  Keuntungan buat desa?  Bumdes (badan usaha milik desa) yang menghasilkan 2 milyar pertahun?

Ah. 

Aku pusing Is membayangkannya.

Is, sungguh kau boleh memarahiku. Menganggapku kolot dan berpikiran pendek, tidak seperti Kang Agus yang visioner, pandai bicara sehingga wakil bupati mau datang dan menanamkan investasinya di desa ini. Belum lagi tentang ia sedang sibuk mempersiapkan presentasi di depan presiden bulan depan, tentang proyek masa depan desa ini, katanya  

Is, tapi aku serius. Semoga kau masih mau memikirkannya kembali.  

Jika kau masih ingin mendengarku, aku akan bilang, untuk orang sepertiku, aku hanya butuh tempat yang tidak bising. Ada surau sederhana, tapi bisa menampung banyak anak mengaji sore. Aku bersedia jadi muadzin tetap, 5 kali sehari. 

Aku lebih baik diganggu suara anak-anak yang merajuk ingin dibacakan buku. Rumah beralas tanah kita akan penuh anak-anak yang datang silih berganti membaca buku. Kau bisa ceritakan kisah-kisah heroik Salman Alfarisi, Khalid bin Walid, sampai Pangeran Diponegoro, atau Jenderal Sudirman yang dipapah saat memimpin perang gerilya. Jangan lupa suara dramatis itu. 

Ah, tapi berangan-angan seperti ini, kau paling akan menganggapku egois dan mau enaknya sendiri, tidak memikirkan kemaslahatan masyarakat desa.

Katamu aku tidak solutif. Kau mungkin sudah banyak bergaul dengan orang dari universitas-universitas, mereka akan bilang kalau orang sepertiku ini adalah penghambat internal kemajuan desa. Aku statis. Kau jadi ikut-ikut mereka, ingin hidup yang dinamis. 

Mimpiku sederhana, Is.  

Aku hanya ingin aku, kamu, beserta anak-anak yang berpergian jauh melewati ruang dan waktu dari buku yang mereka baca di rumah kita, sambil mengaji, menghafal kalam Ilahi.

Maafkan aku yang berkeinginan sesederhana ini, Is.

Tapi, semua terserah padamu.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s