Untuk Kuingat: Menikah 

Tulisan ini ditulis di tengah keramaian pikiran tentang beberapa cerita mengenai fenomena pernikahan dewasa ini. Bukan, bukan tentang baper menunggu mas jodoh yang belum datang, galaw karena postingan cepetnikahsekarangjuga oleh oknum, pesta pernikahan si anu yang bertema rustic wedding, atau si ini yang moro-moro sebar foto di kwade. Bukan.

Tulisan ini adalah pengingat untuk diriku. 

Akhir-akhir ini aku ditemukan dengan cerita-cerita sedih tentang pernikahan. Mulai dari kesedihan seorang istri yang dimadu dan kesulitannya mengelola cemburu, istri yang banting tulang mencari nafkah utama, sampai istri yang disia-siakan suaminya karena perselingkuhan berawal dari Facebook. 

Wow.

Kurasa yang seperti itu hanya kudengar dan kubaca di sinetron atau novel. Namun ternyata hal-hal itu benar ada, dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari dan dialami langsung oleh orang-orang yang kutemui 

Perlakuan suami (bahkan yang paham agama) terhadap istri yang tidak menyenangkan, penyalahgunaan ayat-ayat AlQuran demi memenuhi keinginan suami, pembagian peran domestik yang ditolak mentah oleh suami, sampai putusnya komunikasi antar pasangan dan tertutupnya keran diskusi karena hilangnya percaya.   

Dan masih banyak persoalan khas rumah tangga yang entah mengapa— sekarang jadi terdengar sangat real dan dekat. 

Menikah adalah syariat, Allah sendiri yang perintahkan. Ia merupakan ibadah terlama, terjenuh, tersulit bagi manusia karena bernilai separuh agama. Menikah adalah satu dari tiga kejadian yang mengguncang arsy, ada keberlanjutan sejarah dan peradaban disana.

Jika dijauhkan lagi, menikah berarti memilih samudera baru (jika tidak boleh menyebut permasalahan baru) untuk diarungi– berdua. Mari membayangkan saat-saat menghabiskan waktu dengan orang yang itu lagi itu lagi dan tentu saja berbeda karakter. Belum lagi permasalahan dari sana sini tentang kultur dan ekspektasi keluarga besar, finansial, kepuasan pribadi, mimpi dan target yang mau tidak mau harus dikompromi, dan yang terpenting: mendidik anak. 

Ditambah lagi, cita-cita untuk menjadikan pernikahan sebagai arena aplikasi ilmu dan dinamo dalam menyebarkan lebih banyak kebermanfaatan bagi sekitar, menjadikan keluarga sebagai tempat terbaik anak dalam menemukan dirinya dan menentukan sendiri peran yang ia ambil sebagai hamba Allah.  

Masya Allah. Beuh. Sungguh…. wow. 

Tidak seperti setahun dua tahun lalu, sekarang aku sudah tidak lagi baper ngomongin nikah dengan seperangkat romantisme yang dibawanya. Aku membicarakan pernikahan dengan serius dan selalu tertarik mencari tahu bagaimana orang-orang melalui permasalahan di pernikahan, baik menurut para ahli di buku, atau pengalaman langsung. Because, yeah, marriage is not always about romantic and sweet things. 

Menikah itu sulit. Berat. Menyeramkan. 

Allah memang Maha Adil. Dengan ibadah seserius ini, pahala yang diberikan pun begitu besar. Sungguh aku ingin terus meyakinkan diriku bahwa aku telah mempunyai uswah terbaik sepanjang masa. Seorang suami sekaligus ayah, beserta seperangkat teladan dalam berumah tangga dengan istri-istrinya. Kesediaan beliau mendengar istrinya yang cemburu, upaya-upaya menjaga perasaan Aisyah yang sayurnya asin, kesadaran untuk memenuhi kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Jangan lupa juga tentang bagaimana Rasul mendidik anak-anak di sekitarnya sehingga menjadi generasi yang warbiyasa tangguh ruhiyah, jasad, dan pikirannya.  

Sungguh, hikmah dari Rasulullah itu lebih dari cukup dan akan selalu relevan di sepanjang zaman. Selalu. 

Tidak ada kata terlambat untuk belajar— lebih serius, lebih matang, lebih terencana. 

Tidak ada, Nezh. 

Advertisements
Untuk Kuingat: Menikah 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s