Tentang Tangis dan Jembatan 

Selama kurang lebih sebulan di tempat ini, sudah ada empat orang menangis di depanku. Benang air mata itu jatuh dan dengan malu-malu mereka menyekanya. Sekilas meminta maaf dan menghapus dengan tissu atau ujung jari, lalu terdiam beberapa saat. 

Pertama ada seorang dokter jiwa keturunan Cina yang tampak sangat pendiam. Darinya, aku tahu perspektifnya tentang #aksi212, Ahok, sampai cerita tentang keluarganya atau perjuangannya bersekolah spesialis dan betapa susah mendapat gelar spesialis hanya karena dirinya bermata sipit dan berkulit putih.  

Sampai kemudian, ia bercerita tentang orangtua yang selalu mendukung rencana dan mimpinya menjadi dokter di tengah keluarga yang kesemuanya adalah pebisnis toko kelontong serba ada di Pabean. Suaranya mengecil saat bercerita bahwa ayah beliau,  empat bulan lalu, meninggal. Ia menyesal karena merasa belum bisa membahagiakan ayahnya.  

Kedua, ada seorang perempuan yang ingin menjadi plant breeder, sebuah profesi agrikultur tentang bagaimana membuat lahan pertanian menjadi lebih produktif lewat persilangan-persilangan tanaman… Yha kira-kira begitu. 

Setelah cukup jenuh dengan soal-soal, aku kemudian mengajaknya bicara tentang dirinya. Kemudian tetiba setitik air mata jatuh. Ia tergelak kaget karena menangis lalu tanpa bisa dihentikan, air matanya jatuh seperti air bah. 

Saat itu ia bercerita tentang orang tuanya. Keinginannya untuk membanggakan orang tua.

Di lain hari, ada seorang ibu berbadan kurus, kecil, serta keriput di wajahnya menunjukkan kesenjaan usianya. Setelah kami duduk berhadapan, barulah kutau beliau adalah salah satu profesor bidang pendidikan Biologi yang sangat rendah hati. Setelah perbincangan singkat, sampailah pada ceritanya tentang anak perempuannya yang sedang berkuliah di Birmingham.  

Di tengah-tengah, bibirnya bergetar menahan tangis, sampai kemudian jatuhlah air mata itu. “Sorry, Miss. Saya memang cengeng.” sambil mencari-cari tissue dalam tasnya.  

Di setiap telpon, anak perempuannya ini selalu menangis, berkata bahwa sangat sulit bertahan di kampus itu. Essaynya selalu mendapat nilai 50, mendapat banyak sekali koreksi, sangat berbeda dengan nilai-nilai S1-nya di Unair. 

Belum lagi kondisi saat musim dingin. “I pity her. Saya..  kasihan. Tapi saya selalu memotivasi dia untuk bertahan. Saya nggak boleh nangis juga waktu dia nangis.” 

Dan yang terbaru, mahasiswa semester 4 yang sudah 2 bulan tidak pernah muncul, menangis deras tidak bisa berhenti selama 10 menit karena bercerita tentang kekecewaan ayahnya padanya.  

“Papa itu kecewa dua kali, Mbak. Saat SMA aku masuk  IPS dan saat aku nggak keterima di jurusan ekonomi kampus manapun terus malah masuk bahasa.” 

“Kata Papa waktu aku cerita pingin ikut seleksi PPAN, ‘Kamu tuh bisa apa. Emang bisa kamu kepilih? Wong dari jurusan bahasa.'”

Diam sejenak, dengan sesunggukan, ia melanjutkan. “Sering papa kayak gitu, Mbak. Tiap hari aku harus ngadepin. Aku gak ngerti kudu gimana lagi sama rencana-rencanaku.”

Topik tentang orangtua jadi alasan kita lebih mudah menangis. Dengan bertahun-tahun kehidupan yang kita alami, kebersamaan orangtua dan seluk beluk prosesnya yang kadang begini begitu, buat kita sulit membendung rasa. Rasa apapun. Memang rumit, sesederhana itu. 

Ini sebulan lebih 11 hari.

Disini aku menyimak bagaimana manusia-manusia asing tiba-tiba datang dan percaya aku bisa jadi jembatan untuk tujuan dan mimpi-mimpi mereka.

Aku merasa mimpi mereka jadi mimpiku juga. Aku cari cara, ikut waswas, dan bekerja keras membangun jembatan agar cukup kokoh untuk dilewati. Ya, walau peranku tidak semegah kontraktor atau siapa membangun jembatannya. Mungkin lebih tepat, aku ikut serta membangun jembatannya, menyiapkan kerangka.

Dan di proses itu, aku berkesempatan menyaksikan dari dekat bagaimana segala harap, cemas, lega, sampai jenuh muncul. Menjadi koleksi pengalamanku. 

‘ala kulli hal, Alhamdulillah.  

Advertisements
Tentang Tangis dan Jembatan 

Untuk Kuingat: Menikah 

Tulisan ini ditulis di tengah keramaian pikiran tentang beberapa cerita mengenai fenomena pernikahan dewasa ini. Bukan, bukan tentang baper menunggu mas jodoh yang belum datang, galaw karena postingan cepetnikahsekarangjuga oleh oknum, pesta pernikahan si anu yang bertema rustic wedding, atau si ini yang moro-moro sebar foto di kwade. Bukan.

Tulisan ini adalah pengingat untuk diriku. 

Akhir-akhir ini aku ditemukan dengan cerita-cerita sedih tentang pernikahan. Mulai dari kesedihan seorang istri yang dimadu dan kesulitannya mengelola cemburu, istri yang banting tulang mencari nafkah utama, sampai istri yang disia-siakan suaminya karena perselingkuhan berawal dari Facebook. 

Wow.

Kurasa yang seperti itu hanya kudengar dan kubaca di sinetron atau novel. Namun ternyata hal-hal itu benar ada, dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari dan dialami langsung oleh orang-orang yang kutemui 

Perlakuan suami (bahkan yang paham agama) terhadap istri yang tidak menyenangkan, penyalahgunaan ayat-ayat AlQuran demi memenuhi keinginan suami, pembagian peran domestik yang ditolak mentah oleh suami, sampai putusnya komunikasi antar pasangan dan tertutupnya keran diskusi karena hilangnya percaya.   

Dan masih banyak persoalan khas rumah tangga yang entah mengapa— sekarang jadi terdengar sangat real dan dekat. 

Menikah adalah syariat, Allah sendiri yang perintahkan. Ia merupakan ibadah terlama, terjenuh, tersulit bagi manusia karena bernilai separuh agama. Menikah adalah satu dari tiga kejadian yang mengguncang arsy, ada keberlanjutan sejarah dan peradaban disana.

Jika dijauhkan lagi, menikah berarti memilih samudera baru (jika tidak boleh menyebut permasalahan baru) untuk diarungi– berdua. Mari membayangkan saat-saat menghabiskan waktu dengan orang yang itu lagi itu lagi dan tentu saja berbeda karakter. Belum lagi permasalahan dari sana sini tentang kultur dan ekspektasi keluarga besar, finansial, kepuasan pribadi, mimpi dan target yang mau tidak mau harus dikompromi, dan yang terpenting: mendidik anak. 

Ditambah lagi, cita-cita untuk menjadikan pernikahan sebagai arena aplikasi ilmu dan dinamo dalam menyebarkan lebih banyak kebermanfaatan bagi sekitar, menjadikan keluarga sebagai tempat terbaik anak dalam menemukan dirinya dan menentukan sendiri peran yang ia ambil sebagai hamba Allah.  

Masya Allah. Beuh. Sungguh…. wow. 

Tidak seperti setahun dua tahun lalu, sekarang aku sudah tidak lagi baper ngomongin nikah dengan seperangkat romantisme yang dibawanya. Aku membicarakan pernikahan dengan serius dan selalu tertarik mencari tahu bagaimana orang-orang melalui permasalahan di pernikahan, baik menurut para ahli di buku, atau pengalaman langsung. Because, yeah, marriage is not always about romantic and sweet things. 

Menikah itu sulit. Berat. Menyeramkan. 

Allah memang Maha Adil. Dengan ibadah seserius ini, pahala yang diberikan pun begitu besar. Sungguh aku ingin terus meyakinkan diriku bahwa aku telah mempunyai uswah terbaik sepanjang masa. Seorang suami sekaligus ayah, beserta seperangkat teladan dalam berumah tangga dengan istri-istrinya. Kesediaan beliau mendengar istrinya yang cemburu, upaya-upaya menjaga perasaan Aisyah yang sayurnya asin, kesadaran untuk memenuhi kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Jangan lupa juga tentang bagaimana Rasul mendidik anak-anak di sekitarnya sehingga menjadi generasi yang warbiyasa tangguh ruhiyah, jasad, dan pikirannya.  

Sungguh, hikmah dari Rasulullah itu lebih dari cukup dan akan selalu relevan di sepanjang zaman. Selalu. 

Tidak ada kata terlambat untuk belajar— lebih serius, lebih matang, lebih terencana. 

Tidak ada, Nezh. 

Untuk Kuingat: Menikah