Menunda: Sebuah Pengingat

Waktu menunjukkan pukul 00.25 saat aku menulis ini 

Hidup begitu hiruk pikuk akhir-akhir ini. Menyadari bahwa konsekuensi atas sikap kita terhadap sesuatu seakan bisa detik ini juga dipertanggungjawabkan, membuatku merinding.

Malam ini aku jadi paham betul konsekuensi berat dari perbuatan syetanawi: menunda. 

Aku tidak sekeren temanku Niswah dalam mempersiapkan suatu hal yang ia anggap penting. Niswah, adalah orang yang bahkan sebelum pendaftaran LPDP dibuka– tidak hanya berkas normal seperti ijazah, surat rekomendasi, dll–juga sudah menyiapkan sederet desain esai berbagai topik. Berbagai topik. Jauh sebelum pendaftarannya dibuka.  

Beberapa orang yang kepo, sangat kepo, sangat peduli, atau benar-benar peduli padaku, menanyakan tentang rencana setelah kuliah.  Kebanyakan selalu kujawab dengan selayaknya fresh-graduatr, tapi karena beberapa dari mereka kurasa tulus peduli, dengan malu-malu kujawab: Aku ingin ikut seleksi Indonesia Mengajar.  

“Beuuuuh, keren.. ” biasanya respon mereka. 

Namun sejujurnya, aku selalu bingung jika dibilang keren oleh siapapun, baik yang basa-basi atau serius.

Apa yang keren dari seorang prokrasinator ulung nan profesional sepertiku?  Sangat congkak dalam melihat peristiwa, “Ah, aku masih punya waktu.”

Dan lihatlah aku kini, menemui adzab Allah atas kesombonganku mempermainkan waktu. 

Aplikasi Indonesia Mengajarku yang kusiapkan dan kucicil sedikit sedikit dari hari pertama pendaftaran– dan terbengkalai sampai H-2, tiba-tiba bermasalah. Tidak bisa dikirim tepat di detik-detik akhir. Menjadi percuma. Selesai. 

Mau coba peruntungan lewat lapor ke email pengaduan dan darisana berharap diberi kesempatan satu kali lagi? 

Ckck. (((((Kesempatan))))))

Perih yang kurasa amat berbeda dengan perih yang dirasa Niswah saat ia gagal di tahap terakhir LPDP-nya. Perihku terasa kosong, tidak bermakna, dan memalukan. 

Penyesalanku berlipat. Because I didn’t even try. 

Niswah akan dengan bangga bercerita pada anaknya, “Dulu Ibu sudah pontang panting untuk kuliah S2, menyiapkan ini dan itu, sampai belajar IELTS sampai 9 bulan.”

Sedangkan apa yang bisa dibanggakan anakku di masa depan dengan Ibu sepertiku? “Nak, dulu Ibu pingin banget ngajar di pedalaman, puingin ikut Indonesia Mengajar. Eh gagal karena…. Ibu nunda terus menyelesaikan aplikasinya. Banyak kerjaan sih, Nak. Susah bagi waktu. Waktu di detik-detik terakhir pendaftaran..  tiba-tiba website-nya ngelag. Tidak terkirim.”

Sangat nggilani. 

Kurasa, tahun ini adalah satu satunya kesempatan yang kupunya. Aku pikir, ada rencana lain yang harus diikhtiarkan. Menikah (well, aku akan tahu siapa nanti yang berani mengorbankan hidupnya untuk menjadi kawan hidup Nezha the clumsiest woman ever lived), melanjutkan studi, atau mengembangkan jaringan perpustakaan. Tapi… ya, mari kita lihat lagi tahun depan.  

Menjadi guru dan warga di tempat -tempat jauh sudah jadi mimpiku sejak lama.

Dan aku masih sangat sedih memikirkan bahwa aku mungkin melewatkan kesempatan menjadi Pengajar Muda tahun ini. Sangat sedih. 

Menulis postingan  ini seperti mengabadikan kebodohanku. 

Kurasa tidak apa. Harus malah. Aku perlu menyelematkan diriku sendiri dari kebodohan yang bisa saja terulang di masa depan dengan memberinya pengingat yang abadi, tulisan.  

Semoga ini yang terakhir. Semoga para pembaca (diriku sendiri? /sad.)  bisa mendapat pelajaran dari kesalahanku. Tidak akan melakukan hal yang sama sepertiku, tidak lagi menunda kesempatan dalam mewujudkan mimpi. Barang sedetikpun. Benar berjuang sampai habis, sampai sejauh mungkin, sampai Allah paham betul bahwa kamu sedang berjuang sebegitu kerasnya.

Segera cek, kapan universitas idamanmu membuka pendaftarannya, walau masih 6 bulan lagi, mulai kerjakan persyaratan yang bisa dilakukan saat ini, seperti Niswah.

Periksa, daftarlah jadwal-jadwal seleksi beasiswa itu, tempel di dinding. Jika masih sering lupa, bilang sahabatmu untuk njendul kepalamu kalau kamu terlalu mbulet dalam melihat prioritas hidup. Suruh ia jadi pengingatmu.  

Segera sampaikan pada walinya, jika istikharah semakin meyakinkanmu bahwa orang ini adalah penyempurna agamamu.

Kesempatan itu manis, kamu harus cicipi rasanya berusaha keras. 

Apapun hasilnya.  

Because at least, you try, right? 

Advertisements
Menunda: Sebuah Pengingat

One thought on “Menunda: Sebuah Pengingat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s