Turbulensi 

Bagaimana ini? 

Menulis kata rindu padahal baru dua menit kita berpisah, aku takut membuatmu takut. 

Bagaimana ini?

Aku ingin dekat, sedekat tanah dengan petrichor. Aku ingin di sebelahmu, berjarak pun tak masalah. Yang penting aku bisa melihatmu, menyimakmu entah muraja’ah atau berpidato dengan angin dengan siluet subuh yang membuatku jatuh cinta, dan darinya aku akan tersenyum mengetahui akan punya bekal menjalani hari. 

Aku rindu padamu, 

rindu sampai sesak aku menahannya. Padahal kita baru bertemu, aku masih bisa mengingat wangi tawa kita sore itu. Tidak paham aku tentang manfaat, makna, atau kehadiranku. Aku juga tak ingin pusing mengkalkulasi kedatanganku, mengira sejauh mana aku cukup membuatmu senang. Kau tak butuh aku, lagipula. 

Tapi, aku ingin ikut. Dengan apapun yang kubawa untukmu, terimalah. Aku tak ingin memintamu menahanku disini, rasanya berlebihan dan akan membuatku malu sendiri.

Aku ingin di dekatmu. Karena bersamamu, aku patah hati, ingin menyerah,  jatuh cinta, patah hati, ingin menyerah,  dan jatuh cinta lagi.

Tapi aku ingin bersamamu. Kan kuupayakan untuk datang dengan perbekalan diri yang selalu lebih baik. Dan izinkan aku ikut pergi bersamamu, menjadi saksi bagaimana kau mengajak bicara hati manusia-manusia muda. 

Sama seperti saat kau memulai bincang denganku dulu, di selasar masjid Ad-Dakwah, menyentuh entah sisi hati yang mana. 

Aku ingin tahu bagaimana keajaiban tentang cita-cita bisa kita formulasi bersama apapun yang kita bawa.

Sungguh aku tak ingin banyak menyimpan harap, tapi, semoga kita selalu ingat bahwa Allah tidak akan menyiakan upaya-upaya kita. Tidak akan.  

Atas kesadaran ini, semoga membuat kita– aku sabar saat membersamaimu. Atas kesadaran itu, aku akan selalu ingat betapa baiknya Allah mempertemukan aku denganmu. 

Surabaya, 20 Desember 2016.

Teruntuk dakwah sekolah, Uswah Student Center.  

Advertisements
Turbulensi 

Menunda: Sebuah Pengingat

Waktu menunjukkan pukul 00.25 saat aku menulis ini 

Hidup begitu hiruk pikuk akhir-akhir ini. Menyadari bahwa konsekuensi atas sikap kita terhadap sesuatu seakan bisa detik ini juga dipertanggungjawabkan, membuatku merinding.

Malam ini aku jadi paham betul konsekuensi berat dari perbuatan syetanawi: menunda. 

Aku tidak sekeren temanku Niswah dalam mempersiapkan suatu hal yang ia anggap penting. Niswah, adalah orang yang bahkan sebelum pendaftaran LPDP dibuka– tidak hanya berkas normal seperti ijazah, surat rekomendasi, dll–juga sudah menyiapkan sederet desain esai berbagai topik. Berbagai topik. Jauh sebelum pendaftarannya dibuka.  

Beberapa orang yang kepo, sangat kepo, sangat peduli, atau benar-benar peduli padaku, menanyakan tentang rencana setelah kuliah.  Kebanyakan selalu kujawab dengan selayaknya fresh-graduatr, tapi karena beberapa dari mereka kurasa tulus peduli, dengan malu-malu kujawab: Aku ingin ikut seleksi Indonesia Mengajar.  

“Beuuuuh, keren.. ” biasanya respon mereka. 

Namun sejujurnya, aku selalu bingung jika dibilang keren oleh siapapun, baik yang basa-basi atau serius.

Apa yang keren dari seorang prokrasinator ulung nan profesional sepertiku?  Sangat congkak dalam melihat peristiwa, “Ah, aku masih punya waktu.”

Dan lihatlah aku kini, menemui adzab Allah atas kesombonganku mempermainkan waktu. 

Aplikasi Indonesia Mengajarku yang kusiapkan dan kucicil sedikit sedikit dari hari pertama pendaftaran– dan terbengkalai sampai H-2, tiba-tiba bermasalah. Tidak bisa dikirim tepat di detik-detik akhir. Menjadi percuma. Selesai. 

Mau coba peruntungan lewat lapor ke email pengaduan dan darisana berharap diberi kesempatan satu kali lagi? 

Ckck. (((((Kesempatan))))))

Perih yang kurasa amat berbeda dengan perih yang dirasa Niswah saat ia gagal di tahap terakhir LPDP-nya. Perihku terasa kosong, tidak bermakna, dan memalukan. 

Penyesalanku berlipat. Because I didn’t even try. 

Niswah akan dengan bangga bercerita pada anaknya, “Dulu Ibu sudah pontang panting untuk kuliah S2, menyiapkan ini dan itu, sampai belajar IELTS sampai 9 bulan.”

Sedangkan apa yang bisa dibanggakan anakku di masa depan dengan Ibu sepertiku? “Nak, dulu Ibu pingin banget ngajar di pedalaman, puingin ikut Indonesia Mengajar. Eh gagal karena…. Ibu nunda terus menyelesaikan aplikasinya. Banyak kerjaan sih, Nak. Susah bagi waktu. Waktu di detik-detik terakhir pendaftaran..  tiba-tiba website-nya ngelag. Tidak terkirim.”

Sangat nggilani. 

Kurasa, tahun ini adalah satu satunya kesempatan yang kupunya. Aku pikir, ada rencana lain yang harus diikhtiarkan. Menikah (well, aku akan tahu siapa nanti yang berani mengorbankan hidupnya untuk menjadi kawan hidup Nezha the clumsiest woman ever lived), melanjutkan studi, atau mengembangkan jaringan perpustakaan. Tapi… ya, mari kita lihat lagi tahun depan.  

Menjadi guru dan warga di tempat -tempat jauh sudah jadi mimpiku sejak lama.

Dan aku masih sangat sedih memikirkan bahwa aku mungkin melewatkan kesempatan menjadi Pengajar Muda tahun ini. Sangat sedih. 

Menulis postingan  ini seperti mengabadikan kebodohanku. 

Kurasa tidak apa. Harus malah. Aku perlu menyelematkan diriku sendiri dari kebodohan yang bisa saja terulang di masa depan dengan memberinya pengingat yang abadi, tulisan.  

Semoga ini yang terakhir. Semoga para pembaca (diriku sendiri? /sad.)  bisa mendapat pelajaran dari kesalahanku. Tidak akan melakukan hal yang sama sepertiku, tidak lagi menunda kesempatan dalam mewujudkan mimpi. Barang sedetikpun. Benar berjuang sampai habis, sampai sejauh mungkin, sampai Allah paham betul bahwa kamu sedang berjuang sebegitu kerasnya.

Segera cek, kapan universitas idamanmu membuka pendaftarannya, walau masih 6 bulan lagi, mulai kerjakan persyaratan yang bisa dilakukan saat ini, seperti Niswah.

Periksa, daftarlah jadwal-jadwal seleksi beasiswa itu, tempel di dinding. Jika masih sering lupa, bilang sahabatmu untuk njendul kepalamu kalau kamu terlalu mbulet dalam melihat prioritas hidup. Suruh ia jadi pengingatmu.  

Segera sampaikan pada walinya, jika istikharah semakin meyakinkanmu bahwa orang ini adalah penyempurna agamamu.

Kesempatan itu manis, kamu harus cicipi rasanya berusaha keras. 

Apapun hasilnya.  

Because at least, you try, right? 

Menunda: Sebuah Pengingat

Manusia

Kepada Adik,

Halo Adik. Sehat? 

Semoga ibu sudah memberi tahumu tentang betapa buruknya aku memulai percakapan, dari media apa saja. Baik surat, laman sosial media, maupun langsung. Jelek sekali. Jadi, kuharap kamu menerima fakta itu dengan lapang dada.

Sebagai seseorang yang pernah seusiamu, aku kira aku cukup kredibel untuk memberimu nasihat-nasihat. Hm… karena kau bertanya sih. Jadi kujawab, sebisaku.  Ekhem. 

Dunia ini, Dek, penuh dengan prasangka-prasangka yang kadang saling bertolak belakang. Kamu bisa saja baik dengan orang, namun orang itu ternyata balik menjahatimu. Kamu melakukan yang terbaik dalam menyelesaikan tugasmu, tapi dianggap tidak becus. Ketika kamu memilih jalan kecil-kecil, dianggap tidak urun tangan, atau ketika kamu menganggap kebaikan seseorang itu spesial untukmu saja, yah, ternyata tidak sama sekali.

Kalau kata Maya Angelou, do good anyway. Lagian, baik, cinta adalah laku Rasulullah.  Tak usah pusing ya. 

Yag,  begitulah Dek.  Akan sangat melelahkan jika kita begitu tergantung dengan respon manusia lain.

 Manusia itu, walau kecil sampai dewasa, rambutnya rontok tiap hari 50 helai lalu tumbuh lagi, kulitnya berganti, ia sebenarnya tetap. Tidak berubah. Ia tetap ia, dengan peristiwa, pengalaman, interaksi, pikiran yang yang membuatnya pasti berbeda dari satu sama lain. Unik. 

Itulah kerennya manusia seperti saya dan kamu, Dek. Kamu selalu berubah tapi tetap persis sama.

Saksikan dengan cermat bagaimana manusia menjadi manusia. Ketika di atas panggung, ketika marah-marah, ketika menangis karena drama Korea, ketika jatuh cinta, ketika optimis, kecewa.

Saksikan atau rasakan sendiri.

Sekali lagiperlu terus kami tahu, apapun yang terjadi padamu, kamu bisa pilih responnya. 

Kamu bisa memilih.

Gitu, Dek. 

Manusia