Racau

Selamat wisuda, semoga ilmunya bermanfaat.

Momen wisuda sudah selesai minggu lalu. Hingar-bingarnya masih bisa kudengar lewat ucapan selamat yang mampir di comment section Instagram dan masih terasa euforianya di timeline media sosial teman-teman yang ramai mengunggah foto bertoga mereka, belum bisa move-on.

Selesai wisuda berarti harus terbiasanya kita dengan cecaran pertanyaan masyarakat dekat, baru dekat, maupun jauh. Tentang apa saja; kerja, S2, menikah dan keputusan-keputusan khas manusia dewasa lainnya. Pandangan dan nasihat-nasihat yang entah mengapa membuatku merasa tidak lebih dari aset yang harus siap diserap dalam bursa ketenagakerjaan. Wkk.

Aku merasa menghadapi pascakampus dengan cukup percaya diri. Meyakini baik-baik rencana yang sudah kupersiapkan. Akan begini, begitu, seperti ini, seperti itu. Walau penuh onak duri dan perlu menebalkan telinga dan kulit, Insya Allah siap kuperjuangkan.

Pfft.

Apa sih berjuang itu?

“Kamu akan tahu sendiri nanti, Nezh. Semoga selalu dikelilingi orang-orang yang mendukungmu, membuatmu tak perlu banyak berkompromi.” Pesan seorang leluhur.

Sebelum aku tersesat di renungku sendiri dan tidak bisa kembali, aku harus diam dan mencari keseimbangan. Mengamati. Melihat pantulan kaca.

Walau berdiri tegak, aku melihat lutut yang bergetar. Mata sembab. Tangan tremor yang sedang menggenggam entah apa.

“Hati-hati, semoga Allah selalu menemani.

Advertisements
Racau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s