Racau

Selamat wisuda, semoga ilmunya bermanfaat.

Momen wisuda sudah selesai minggu lalu. Hingar-bingarnya masih bisa kudengar lewat ucapan selamat yang mampir di comment section Instagram dan masih terasa euforianya di timeline media sosial teman-teman yang ramai mengunggah foto bertoga mereka, belum bisa move-on.

Selesai wisuda berarti harus terbiasanya kita dengan cecaran pertanyaan masyarakat dekat, baru dekat, maupun jauh. Tentang apa saja; kerja, S2, menikah dan keputusan-keputusan khas manusia dewasa lainnya. Pandangan dan nasihat-nasihat yang entah mengapa membuatku merasa tidak lebih dari aset yang harus siap diserap dalam bursa ketenagakerjaan. Wkk.

Aku merasa menghadapi pascakampus dengan cukup percaya diri. Meyakini baik-baik rencana yang sudah kupersiapkan. Akan begini, begitu, seperti ini, seperti itu. Walau penuh onak duri dan perlu menebalkan telinga dan kulit, Insya Allah siap kuperjuangkan.

Pfft.

Apa sih berjuang itu?

“Kamu akan tahu sendiri nanti, Nezh. Semoga selalu dikelilingi orang-orang yang mendukungmu, membuatmu tak perlu banyak berkompromi.” Pesan seorang leluhur.

Sebelum aku tersesat di renungku sendiri dan tidak bisa kembali, aku harus diam dan mencari keseimbangan. Mengamati. Melihat pantulan kaca.

Walau berdiri tegak, aku melihat lutut yang bergetar. Mata sembab. Tangan tremor yang sedang menggenggam entah apa.

“Hati-hati, semoga Allah selalu menemani.

Silakan

Silakan, Nak.

Silakan pilih baju kesukaanmu. Mau pakai baju kuning, pink, hijau, biru, hitam. Terserah. Mau nanti main gulung-gulung di lapangan, lakukan. Asal tahu sendiri risikomu yah, karena bisa saja kamu kena jebakan (kotoran kucing.red) yang nanti menempel di daun kupingmu. Pokoknya aku sudah kasih tahu di awal. Tenang, aku tidak akan malu berjalan denganmu. Hm… Paling pura-pura tidak kenal sebentar kalau bertemu tetangga. Tidak lama kok, setelah tetangga itu menghilang, kita akan jadi anak dan ibu lagi.

Xixi, becanda ko.

Monggo.

Kamu mau berperan apa di permainan. Jadi robot, jadi walikota, jadi monster, jadi kuda pun tidak masalah. Asal bermainnya dengan baik, memberi kesempatan semuanya untuk tampil. Tidak harus kamu yang jadi pahlawannya. Bahkan kalau kamu memilih berubah jadi penonton yang bertepuk tangan demi hidupnya semangat teman-temanmu setelah berantakan karena ada satu yang menangis, Ibu tidak apa-apa.

Kalau kamu nanti setuju dengan ide menuntut ilmu di institusi-institusi, kemungkinan kamu akan dipertemukan oleh banyak  kesempatan mendapat panggung dan merasakan sensasi-sensasi baru sebagai manusia yang berada di sebuah sistem. Jadi ketua, bendahara, sekertaris, medis, jadi sie konsumsi sama saja. Dimanapun tempatmu berada, merasalah bahwa kamu adalah bagian dari sebuah tubuh yang berjalan. Lakukan yang terbaik karena apapun posisimu, itu adalah tugas yang penting.

Hatimu harus jadi yang tercantik/terganteng diantara semua yang kamu miliki. Kamu tidak membutuhkan validasi teman-teman dalam memenuhi standar fana yang mereka buat. Kamu sudah agak mengetahui kekuatanmu kok.

Tidak apa, Nak kalau kamu tidak mendapat nilai A+, 100, 90, dll. Tapi, kalau hal itu masih merisaukanmu, toh kita punya kesempatan berdiskusi lagi. Menemukan bersama apa yang sebenarnya jadi masalah. Yang penting kamu jujur, yang penting kamu melakukan yang terbaik. Allah Maha Melihat, kok. Yang kita cari itu keberkahan ilmu, kan. 

Kalau logika mimpimu berbeda dengan logika dunia, tidak apa. Toh yang kamu cari kebermanfaatan dan ridha-Nya toh. Kalau kamu terjatuh berkali-kali dalam mewujudkannya, aku insya Allah siap jadi pundak. Aku yakin kamu belajar banyak dalam proses ini. Yang penting, jangan pernah merasa kesuksesan kecil maupun besar versimu terjadi karena usahamu sendiri. Itu murni karena Allah yang izinkan.

Jika kamu khawatir aku ditanya-tanya tetangga tentang dirimu yang berbeda, tenang, aku sudah punya jawaban. Aku tetap akan menceritakan betapa bangganya aku memiliki anak yang tahu benar keinginannya dan memperjuangkannya. Aku menemani prosesmu. Walau masih sangat susah memahami dimensi pikirmu, aku percaya kau sedang merencanakan hal-hal baik. Jadi aku mendukungmu. Eh, tapi sedikit-sedikit, bolehlah yah aku memberi masukan.

Kalau kamu merasa jadi debu diantara silaunya penaklukkan di sekelilingmu, merasa suaramu habis diserap realitas, jadi buih karena penolakan-penolakan,  pulang saja. Pulang saja bertemu aku, aku tidak sabar bertemu semestaku. Kamu akan selalu diterima dengan tangan terbuka. 

The Invitation

It doesn’t interest me what you do for a living. I want to know what you ache for and if you dare to dream of meeting your heart’s longing.

It doesn’t interest me how old you are. I want to know if you will risk looking like a fool for love, for your dream, for the adventure of being alive.

It doesn’t interest me what planets are squaring your moon. I want to know if you have touched the center of your own sorrow, if you have been opened by life’s betrayals or have become shriveled and closed from fear of further pain.

I want to know if you can sit with pain, mine or your own, without moving to hide it, or fade it, or fix it.

I want to know if you can be with joy, mine or your own; if you can dance with wildness and let the ecstasy fill you to the tips of your fingers and toes without cautioning us to be careful, be realistic, remember the limitations of being human.

It doesn’t interest me if the story you are telling me is true. I want to know if you can disappoint another to be true to yourself. If you can bear the accusation of betrayal and not betray your own soul. If you can be faithless and therefore trustworthy.

I want to know if you can see Beauty even when it is not pretty every day. And if you can source your own life from its presence.

I want to know if you can live with failure, yours and mine, and still stand at the edge of the lake and shout to the silver of the full moon, ‘Yes.’

It doesn’t interest me to know where you live or how much money you have. I want to know if you can get up after the night of grief and despair, weary and bruised to the bone and do what needs to be done to feed the children.

It doesn’t interest me who you know or how you came to be here. I want to know if you will stand in the center of the fire with me and not shrink back.

It doesn’t interest me where or what or with whom you have studied. I want to know what sustains you from the inside when all else falls away.

I want to know if you can be alone with yourself and if you truly like the company you keep in the empty moments.

– Orian Mountain Dreamer (1999)