Di Ujung Membaca Alquran

Dulu, aku dan kakak laki-lakiku adalah dua saudara yang tidak pernah akur setiap waktu. Aku tidak menemukan figur kakak laki-laki idaman adik perempuan pada sosoknya. Kami hobi bertengkar, dia hobi ngece, aku hobi menangis. Aku tidak cukup cekatan membalas ece-annya dan tidak cukup kuat memukulnya yang bertulang keras serta pandai berkelit.

Tapi setidaknya, ada satu hal yang kami selalu kompak kerjakan. Mengaji di ruang tengah yang diakhiri dengan membaca doa khatam quran.

Allahummarhamna bil quran, waj’alhulana imaaman wa nuuran wa huda wa rohmah. Allahumma dzakkirna minhu maa nasiiha, wa’allimna, minhu maa jahiilna, warzuqna tilaawatahu, aana al laili wa aana an nahaari, waj’alhulanna hujjatan, yaa Rabbal Alamin.

Doa-doa ini kami lafadzkan dengan nada yang begitu begitu saja. Membacanya, pertanda kewajiban mengaji selesai sudah. Bisa ditinggal untuk bersiap makan malam, nyemil, atau sekadar iseng merapikan buku untuk esok sekolah.

Tak jarang, kami–aku membacanya sambil lalu. Sambil melamun, mengelupasi renda mukena, melipat ujung-ujung halaman quran, atau balapan cepat-cepat dengan Si Mas.

Besar sedikit, kegiatan mengaji keras-keras di ruang tengah agak terkikis. Partner mengajiku itu pergi mondok di Mojokerto. Akupun pindah baca quran di kamar saja, sambil disambung baca-baca komik atau nulis di buku diary.

Besar sedikit lagi, membaca quran jadi aktivitas individu. Nafsi-nafsi. Doa itupun kemudian hanya kubaca setiap khatam Alquran.

Entah mengapa, baru dewasa ini aku menyadari betapa indahnya doa ini. Sangat indah, naratis sekaligus puitis. Penuh pengharapan. Mewakili ketakutan dan harapan seorang hamba debu kepada Allah.

Ya Allah rahmatilah kami dengan Alquran, jadikanlah Alquran bagi kami sebagai panutan, cahaya, petunjuk dan rahmat. Ya Allah ingatkan-lah kami andaikan terlupa dari ayat-ayat Alquran, ajarkan kami dari padanya yang kami belum tahu, karuniakanlah kami untuk bisa membaca Alquran di tengah malam dan siang hari jadikanlah Alquran bagi kami sebagai pedoman, Wahai Tuhan semesta alam.

Apalagi jika membaca versi lengkapnya di halaman-halaman terakhir mushaf kecil dengan khusyuk, kita akan merasa betapa magisnya Alquran dan betapa megahnya mukjizat ini. Keajaiban berabad-abad lalu dapat kita genggam, pandang, dan renungi dengan lamat-lamat. Sumber segala rahasia dan ilmu pengetahuan langit dan bumi berada dekat sekali dengan jangkauan tangan kita.

Jika Alquran memang ada di lisan sekaligus hati, benarlah jika ia dapat menjadi penjaga atas manusia dalam membedakan yang baik dan yang buruk. Ya, Alquran dapat menjaga hamba dari melakukan perangai buruk, kecenderungan hatinya akan menuntunnya pada hal yang baik dan benar, yang disukai Allah saja.

Aku, misalnya. Jika aku mengentengkan ibadah terhadap hal lain atau mudah dibuat galau dengan persoalan receh khas dunia dan seisinya, atau mudah tersulut emosi tidak penting, biasanya, itu karena quality time dengan Alquran sedang pada kondisi yang menyedihkan dan mengenaskan. Ketenangan dan kejernihan berpikir hilang, itu biasanya karena sedang kondisi  away dengan Alquran dan mengingat Allah. Menggantinya entah dengan urusan sekrusial apa.

Dan memang selalu begitu ternyata, berkorelasi.

Allahumma laaaa taj’alid dunya akbara hammina

Duhai Allah, janganlah Engkau jadikan urusan dunia itu sebagai kegelisahan terbesar bagi kami…

Jangan, Ya Allah…

Advertisements
Di Ujung Membaca Alquran

One thought on “Di Ujung Membaca Alquran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s