#PWMTM : Niswah

“Aku Niswah, dulu SMP 12. Kamu siapa?”

Aku mengamati anak yang tersenyum cerah dengan wajah dibingkai kerudung dengan lipatan-lipatan kaku itu, ia tiba-tiba muncul dan duduk di sebelahku, menawariku menjadi teman sebangkunya. “Hehe. Eh, eh. Aku baru pakai kerudung, rapi gak?”

Singkat cerita, Niswah menjadi teman sebangkuku di kelas X.

Niswah adalah manusia dengan stok energi dan emosi yang berlimpah dalam konotasi positif.  Bicaranya ceplas-ceplos, ia sangat bersemangat dengan hal-hal yang ia kerjakan, perfeksionis, detil, juga punya geng SMP yang sempurna dan amat ia banggakan , plevious rain. Entah artinya apa.

Niswah adalah orang pertama yang memperkenalkanku dengan segerombolan anak-anak masjid Ad-Dakwah bernama SKI, Sie Kerohanian Islam- dan mendesakku untuk ikut SKI juga seperti dirinya. Aku yang saat itu merasa sudah cukup beragama karena besar di sekolah Islam selama 9 tahun, menolak mentah-mentah ide itu. Gelek. Cukup ah. Aku ikut paskibra saja. Sampai akhirnya dia berjanji, hanya memintaku mengantarnya ke kakak kelas XI bernama Diana untuk menyerahkan formulir. Karena sungkan dengan wajah melasnya, akupun mengantarnya.

Dan dari situlah semuanya bermula. Aku bersyukur.

Memang, kami tidak selamanya bersama. Kelas XI kami berpisah, dia IPA, aku IPS. Dia kemudian bergabung OSIS dan menjadi semakin terkenal– sopo sing gak kenal Niswah?– dan tetap menjadi Niswah yang begitu, ya ditambah dengan cerita pink-pink khas SMA yang tak terjadi padaku (masa SMA-ku sungguh abu-abu).

Niswah sekarang sudah lulus dari Manajemen Universitas Brawijaya dalam waktu 3.5 tahun dengan membanggakan. Aku senang dia masih mengingatku. Aku masih bisa merasakan semangatnya yang sangat mudah menular, selalu tertarik dengan cerita dan ceracaunya tentang apapun.

Niswah adalah salah satu pemberani yang pernah kukenal dalam hidupku. Pembela masa depan habis-habisan. Segala mimpi yang kusimpan malu-malu, terasa terang dan wajar saja jika diceritakan padanya. Sorot matanya begitu kuat, “bisa, kan kita punya Allah.”

Niswah, aku sudah bilang kan kalau kamu orang yang sangat penting? Terima kasih ya.

Sidang Skripsi dan Hal-hal yang Kupikirkan

Beberapa hari kemarin aku risau sekali. Perpaduan galau akera berakhirnya masa menyenangkan, mahal, enak, khas mahasiswa dicampur dengan persiapan sidang skripsi yang lumayan melelahkan. It is like something eats me up from inside, memikirkannya membuatku tetiba bergumam dan mengaduh sendiri. Hadeuu.

Sidang skripsi. Sebuah langkah terakhir di jenjang kuliah yang cukup bonafid dan dipersiapkan betul-betul guna menguji mahakarya tingkat akhir mahasiswa di Indonesia. Kemarin (14/7), aku juga mengalaminya.

Di beberapa menit sebelum masuk ruangan sidang, aku duduk di bangku. Mengingat nasihat dari rumah tentang merapal doa nabi Musa dan istighfar sebanyak-banyaknya dan berawakkal sepenuh-penuhnya. Meyakinkan diri bahwa sesaat lagi hanya Allah saja yang bisa menolong, hanya Dia saja. Sembari sesekali mengecek jam dan melihat chat-chat yang masuk dari mereka yang memberikan semangat dan doa.

Wew. Aku ingat, begitu cemasnya aku saat itu, walau sudah paham materi dan mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan. Aku kemudian menyandarkan kepala ke dinding dan memejamkan mata. Meng-sshtt kan pikiran dan menghela napas panjang. 

Perlahan aku menemui kesadaran-kesadaran yang menarik.

Sidang skripsi ini, ternyata adalah remah remah kejadian kecil yang terjadi di hari itu, di tanggal itu. Bahwa ada 10 mahasiswa lain yang juga sidang di hari yang sama dan di gedung yang sama. Bahwa, di institusi lain di negara ini, ada orang-orang yang bersiap dengan sidang skripsinya yang mungkin lebih menyeramkan. Di tempat lain, lembaran-lembaran skripsi hanya jadi pembungkus bawang di tengah pasar yang ramai. 

Kekhawatiranku hari itu, ternyata tidak terlalu spesial dan penting. Sama saja, bahkan bisa jadi tidak ada apa-apanya di antara keriuhan dansa kehidupan alam raya ini. Ini sebuah pijakan yang memang harus dilewati, dengan apapun kondisi diri. Jadi… buat apa risau, toh sama saja.

Insignifikasi itu melegakanku berkali lipat. Kemudian muncul keyakinan bahwa ini hanyalah sidang dengan penguji yang juga manusia, yang nanti setelah keluar, hancur atau suksesnya sidang mahakarya itu, kita akan selalu disambut dengan bahagia lewat ucapan selamat, bunga, dan kado-kado dari teman. Dosen-dosen itu bisa saja melewatkan celah-celah kesalahan skripsimu.

Tenang, akan baik-baik saja. Ini kan sidang duniawi.

Duniawi.

Akan ada sidang ukhrawi. Hari dimana setiap anggota tubuh ditanya tentang apa yang ia kerjakan, usia muda untuk apa digunakan, harta untuk apa dihabiskan, tentang ilmu untuk apa dimanfaatkan.

Sidang skripsi ini hanyalah bagian kecil dari siklus semesta para the happy selected few. Nanti ada yang lebih penting. Ada yang lebih layak dikhawatirkan dan dipersiapkan. Penguji hari ini hanyalah seorang hamba Allah yang bisa dibolak-balik hatinya. Penguji hari yang dijanjikan itu?

Singkat cerita, aku masuk ke ruangan tanpa membawa perasaan-perasaan tidak penting yang memberatkan langkah. Bismillah. Mari serahkan pada Allah.

~~~

Batuk dua hari tetiba menghilang saat presentasi, tidak muncul. Semua pertanyaan, terjawab dengan semaksimal yang kubisa.

Singkat cerita, Allah baik sekali.

Terima kasih untuk semangat dan doanya, teman-teman. Terima kasih sudah datang.