Dari 23 Mei untuk 24 Mei

Menarik memikirkan tentang peristiwa yang terjadi pada milyaran manusia di berbagai belahan dunia dalam satu hari.

Ada suara tangis bayi yang lahir di sudut-sudut ruang bersalin di New York, ada tawa dan senyum mengelilingi perempuan yang jadi ibu beberapa menit lalu. Ada pula tangis perpisahan di bandara-bandara dan pekuburan. Ada ratusan dolar masuk ke kantong Bill Gates tiap menitnya dan jika dikumpulkan seminggu bisa membuat hunian untuk 100 juta warga miskin China.

Ada begitu banyak cerita manusia hari ini.

Ada kekuasaan Allah di tiap-tiap warna kulit, budaya, dan bahasa manusia. Dan ada pula manusia, yang entah, merasa lebih berkuasa atas nasib manusia lainnya.

Di tempat lain, di hari yang sama, beberapa manusia mungkin sedang menyusun langkah, mengumpulkan tenaga untuk melakukan sesuatu yang akan melunasi gelisah mereka. Mengamati masalah di sekeliling, menyampaikan kritik lewat seni, sastra, atau karya ilmiah, atau membangun start-up dan rumah tahfidz mulai dari yang gratis sampai ratusan ribu.

Di titik lain, kadang aku merasa ngilu, marah sekaligus tak berdaya saat ingatanku random berhenti di sebuah memori tentang saudara-saudara perempuan di Syiria yang tidak bisa mengakses pakaian dalam dan selalu kebingungan saat menstruasi, atau saat ada anak laki-laki yang sudah lupa rasanya mengecap roti, makanannya tiga hari ini adalah rumput. Ia bangun dengan debu dan suara mesiu yang menggedor-nggedor mimpi tentang kerinduan tanah air yang merdeka.

Menarik mengetahui, di detik yang sama di hari ini, ada manusia yang masih kebingungan mengelola perasaan dan prioritas hidupnya. Bertanya-tanya, mencari tahu, mengkritisi prinsip yang selama ini ia yakini lekat-lekat. Yang memelihara rasa bersalah, kesulitan berdamai dengan diri, yang menyimpan dalam-dalam ucapan “terima kasih” untuk orang baik yang ia kenal hanya karena gengsi mengucapkannya.

Atau yang terjaga sampai larut dengan tanggungan amanah demi masa depan, yakin mereka, atau orang tua yang percaya bulat dengan mimpi anaknya di seberang samudera.

Dan di tanggal 23 Mei ini, jika setiap orang di dunia ini diperkenankan bercerita tentang harinya dan harapannya untuk 24 Mei, ada berapa hikmah yang bisa dikumpulkan?

Semoga masing-masing kita selalu bersedia jadi pendengar dan pembaca yang peka, seperti yang Allah perintahkan. Semoga kita terus diberi kesempatan untuk merawat akal sehat, seperti yang Allah inginkan.

Kamu, semangat ya.

Advertisements

One thought on “Dari 23 Mei untuk 24 Mei

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s