Selintas Kemarin

Dengan ijin Allah, perpustakaan pertama di sebuah desa nun jauh di kabupaten Nganjuk akhirnya berdiri juga. Berkat doa dan dukungan dari teman-teman baik di media sosial maupun nyata, proyek sederhana ini dimulai. Dan tentu saja, ada orang-orang luar biasa kayak Iqbal, Melisa, Aman, Intan, Yunita, Ninda yang bersedia bareng-bareng jadi dinamo di proyek ini. Hai guys :3

Mungkin ini dibilang sebagai inisiatif yang lahir karena gagal move-on KKN. Namun, jika memang itu adalah tujuan utama, mungkin.. kami sudah berhenti dari dulu. Skripsi dan tugas kampus lebih penting dan krusial diperjuangkan, gitu kali ya.

Well, by the will of Allah, we made it. Kami pernah tahu bahwa perintah Allah paling pertama adalah membaca. Iqra’. Dan dari situlah, kami coba menerapkannya pada sebuah desa yang telah memberi kami banyak pelajaran. Usaha yang lepas dari segala tuntutan kampus.

Dari perpustakaan kecil ini, ternyata kami belajar bahwa menyenangkan ya membuat orang lain tersenyum dan lebih percaya diri. Menyenangkan membayangkan ada kesempatan di masa depan yang bisa kita formulasi detik ini untuk orang lain. Ada sejuta kemungkinan baik yang bisa kita ciptakan lewat buku-buku.

Gais, kita perlu berterima kasih dengan sungguh-sungguh untuk seluruh warga desa yang telah menerima kita disana, terlebih Mas Adi, anak muda asli Kweden yang paling banyak membantu mewujudkan niat ini.

Terima kasih juga untuk teman-teman nyata dan maya, buku-buku yang kalian sumbangkan bagus sekali. Adik-adik sangat antusias, buku-buku dilahap dan dibaca keras-keras. Mereka saling berdesakan di rak untuk mengambil buku. Aku bahkan sempat sibuk melayani Arya yang menunjukkanku bagian-bagian menarik dari kartun sejarah peradaban yang ia baca. Atau Wahab yang mengkonfirmasi padaku bahwa buku yang ia pegang adalah benar kumpulan surat Ibu Kartini yang dulu hanya pernah ia tahu judulnya di buku LKS.

Mata mereka membulat, berbinar-binar.

Aku jadi agak tidak percaya dengan sebuah penelitian yang bilang kalau minat baca anak-anak Indonesia itu rendah. Anak-anak itu hanya tidak memiliki kesempatan menikmati serunya membaca buku. Tidak ada akses untuk membaca dan menyukai buku.

Terima kasih sudah berjuang keras, teman-teman. Orang lain boleh aja bilang, “halah. proyek taman baca dimana-mana, nothing’s special.”

Well, mungkin ini memang langkah kecil saja dan memang ada yang harus kita perbaiki di sana sini. Tapi, mari sejenak merayakan keberhasilan kita untuk tetap bertahan sejauh ini. Melintasi puluhan kilometer Surabaya-Nganjuk berkali kali, ribuan menit untuk diskusi online offline, dengan kesibukan khas mahasiswa tahun-tahun akhir, namun tetap mengupayakan untuk membuat mimpi bersama ini jadi nyata.

Pada akhirnya, harapan satu-satunya adalah Allah meridhoi upaya-upaya kita, ya toh?

Semoga Allah menerima yha, menghitungnya sebagai satu amal kebaikan. Mengganti lelah kalian dengan kebaikan yang berlipat lagi.

Perjalanan belum selesai, semoga euforia kemarin jadi amunisi ampuh untuk menyelesaikan amanah-amanah di depan dengan lebih bersemangat.

Yeah!

Advertisements
Selintas Kemarin

Password

Boleh anggap kita ini lahir dengan, ya seperangkat minat, bakat, dan etc etc, yang ketika besar sedikit, kita percaya bahwa kita ini unik, satu-satunya, istimewa, spesial, etc etc. Aku setuju-setuju saja.

Besar sedikit lagi, kita semakin banyak bertemu manusia, kebanyakan sudah dewasa yang bermacam ragamnya. Ini itu, begini begitu. Kita pernah percaya begitu bulat, bahwa kita memang harus mahir menari dengan ritme hidup seperti apapun, menjadi the dancing leader agar dapat fit dan tetap tumbuh dalam situasi seperti apapun.

Memahami dan menyesuaikan diri jadi keterampilan hidup paling esensi. Disampaikan paling pertama jika orang bertanya tentang kelebihan diri.

Orang-orang itu, bisa jadi aku, kamu, dan siapapun pernah berjalan pelan-pelan di suatu sore, atau tiba-tiba khusyuk menyimak suara deru kipas angin di sudut kamar, lalu menyadari bahwa ternyata.. agak melelahkan ya.

Melelahkan ya menyesuaikan diri itu.

Semakin banyak bertemu manusia-manusia justru semakin membuat pusing. It’s draining our.. humanity. lul. Hal itu menyenangkan sekaligus menguras energi.

Dan ya, cara kita bertahan adalah dengan berusaha untuk menemukan sesuatu dari apapun peristiwa atau sengaja bertanya random. Semacam menanyakan password, jika lawan bicara berhasil menjawabnya, sungguh kita bisa langsung jatuh hati dengannya.

Baik dalam konteks romantis, persahabatan, teman berbagi prinsip, tokoh inspirasi, mimpi, dan kesukaan.

Tapi kita kadang malah direspon dengan ngakak, gak habis pikir, atau diilokin geje bhanget. Dan diam-diam, kita menilai dengan cepat dan berjanji tak akan menunjukkan hal-hal ini ketika bersama mereka. Wrong answer.

Aku selalu berdoa untuk diberi kesempatan berlari bersama orang-orang dengan pancaran mata dan gairah yang sama, berkomunikasi dalam tukar pandang dan senyum yang kami tau maknanya, dan kami bisa saling bicara panjang walau tanpa suara.

Sekali menemukan orang seperti itu, aku akan menahannya, benar ia harus dijaga dengan sungguh-sungguh.

Karena menemukan mereka itu sulit sekali. Sulit sekali.

Password

Dari 23 Mei untuk 24 Mei

Menarik memikirkan tentang peristiwa yang terjadi pada milyaran manusia di berbagai belahan dunia dalam satu hari.

Ada suara tangis bayi yang lahir di sudut-sudut ruang bersalin di New York, ada tawa dan senyum mengelilingi perempuan yang jadi ibu beberapa menit lalu. Ada pula tangis perpisahan di bandara-bandara dan pekuburan. Ada ratusan dolar masuk ke kantong Bill Gates tiap menitnya dan jika dikumpulkan seminggu bisa membuat hunian untuk 100 juta warga miskin China.

Ada begitu banyak cerita manusia hari ini.

Ada kekuasaan Allah di tiap-tiap warna kulit, budaya, dan bahasa manusia. Dan ada pula manusia, yang entah, merasa lebih berkuasa atas nasib manusia lainnya.

Di tempat lain, di hari yang sama, beberapa manusia mungkin sedang menyusun langkah, mengumpulkan tenaga untuk melakukan sesuatu yang akan melunasi gelisah mereka. Mengamati masalah di sekeliling, menyampaikan kritik lewat seni, sastra, atau karya ilmiah, atau membangun start-up dan rumah tahfidz mulai dari yang gratis sampai ratusan ribu.

Di titik lain, kadang aku merasa ngilu, marah sekaligus tak berdaya saat ingatanku random berhenti di sebuah memori tentang saudara-saudara perempuan di Syiria yang tidak bisa mengakses pakaian dalam dan selalu kebingungan saat menstruasi, atau saat ada anak laki-laki yang sudah lupa rasanya mengecap roti, makanannya tiga hari ini adalah rumput. Ia bangun dengan debu dan suara mesiu yang menggedor-nggedor mimpi tentang kerinduan tanah air yang merdeka.

Menarik mengetahui, di detik yang sama di hari ini, ada manusia yang masih kebingungan mengelola perasaan dan prioritas hidupnya. Bertanya-tanya, mencari tahu, mengkritisi prinsip yang selama ini ia yakini lekat-lekat. Yang memelihara rasa bersalah, kesulitan berdamai dengan diri, yang menyimpan dalam-dalam ucapan “terima kasih” untuk orang baik yang ia kenal hanya karena gengsi mengucapkannya.

Atau yang terjaga sampai larut dengan tanggungan amanah demi masa depan, yakin mereka, atau orang tua yang percaya bulat dengan mimpi anaknya di seberang samudera.

Dan di tanggal 23 Mei ini, jika setiap orang di dunia ini diperkenankan bercerita tentang harinya dan harapannya untuk 24 Mei, ada berapa hikmah yang bisa dikumpulkan?

Semoga masing-masing kita selalu bersedia jadi pendengar dan pembaca yang peka, seperti yang Allah perintahkan. Semoga kita terus diberi kesempatan untuk merawat akal sehat, seperti yang Allah inginkan.

Kamu, semangat ya.

Dari 23 Mei untuk 24 Mei