Sebagai Relawan

Entah sejak kapan aku melibatkan diri dalam kegiatan kerelawanan. Relawan rumah baca, relawan pengajar, relawan lingkungan, relawan masjid, sampai relawan dakwah. (beuh… kalo yang terakhir mah beda bahasan dan butuh satu postingan, /lul)

Sebagai manusia yang suka dengan debaran rasa asing seperti deg-degan di pertemuan pertama komunitas, bersemangat mendapat pengarahan, dan terlibat secara penuh pada kegiatan-kegiatan kerelawanan, aku bisa dengan berani menyampaikan bahwa kegiatan kerelawanan itu membuatku ketagihan.

Motifku yang pertama biasanya adalah coba-coba. Mencari tempat, spirit, dan ide komunitas seperti apa yang kurasa menarik dan membuatku jatuh cinta. Jika aku merasa nilai-nilai organisasi itu cocok, aku akan bertahan dan akan membagi waktuku untuk ada disana, jika tidak, aku akan pergi. Relawan kan?

Sampai akhirnya aku diberi kesempatan untuk berada dalam sebuah struktur kerelawanan, aku jadi merasakan secara langsung dampak kehilangan teman bergerak di sebuah kegiatan sukarela.

Relawan, seseorang yang datang dan merelakan waktu, pikir, tenaga, materi untuk sebuah tujuan. Karena ini sebuah kegiatan sukarela, maka orang-orang yang merasa memiliki ide dan spirit yang sama (dan mereka yang cuma coba-coba) juga akan berada di tempat itu dan melakukan aksi-aksi kebaikan.

Sayangnya, kerelawanan adalah sebuah konsep tanpa ikatan mengikat yang berarti. Sudah berapa kali kita dengar permasalahan klise khas komunitas yang mandek; volunteer-nya ilang-ilang atau “yang muncul itu-itu aja..”? dan kita memang tidak pernah bisa menuntut apapun dari perginya orang-orang itu.

Mereka relawan yang tak diikat oleh apapun.

Apa mungkin kita sampai harus mengubah nama “relawan”? Karena nama itu kurasa hanya tempelan dengan tugas tentatif yang bisa dijalankan atau dilupakan kapan saja. Membuat kita tidak merasa spesial dan kemudian lebih memilih pergi.

Berbicara tentang “komitmen”, beberapa dari kita mungkin akan bersegera menguap. Itu sebuah kata yang tidak pernah absen dibicarakan di setiap evaluasi sebuah kegiatan. Karena memang mungkin itu salah satu alasan untuk bertahan. Ada janji yang dibuat dengan diri sendiri, dan mengingkari janji  terhadap diri sendiri itu menyedihkan :’

Tipsku untuk kita-kita yang jenuh di sebuah kegiatan kerelawanan; segera komunikasikan keresahanmu dengan orang yang kamu percaya di kelompok itu, bisa jadi curhatanmu itu jadi evaluasi dan masukan yang luar biasa bagi kelompok itu. Mereka jadi menyadari pentingnya berbenah dengan sistem yang lebih baik. Coba cari tahu sudut pandangnya dan terimalah saran-sarannya. Perkuat silaturahmi antar satu dengan yang lain, kadang kamu merasa jenuh itu karena kamu cuma masih merasa asing dengan orang-orang itu. Ingat, tak kenal maka ta’aruf #uopo. Dan jangan lupa ingat kembali tujuanmu. Cek lagi niatmu…. :’

Berkomitmen terhadap pilihanmu sendiri dengan masa beberapa bulan aja kamu susah, apalagi berkomitmen setengah agama dan sepanjang hidup……….

Semoga selalu diberi petujuk. Semangat!

(Draft April 2015)

 

Advertisements
Sebagai Relawan

Akumulasi

Tulisan ini mungkin adalah akumulasi dari perasaanku akhir-akhir ini. Tipikal tulisan yang membuatku isin dan ewww dewe di masa depan. Tapi, kurasa aku perlu menyelamatkan diriku sendiri dari ketidakwarasan yang berkelanjutkan.

So, I write. Bismillah.

Aku sedang berproses dalam sebuah mahakarya mahasiswa, skrispi. Beuh… Wkk.

Topik yang kukerjakan, cukup membuatku penasaran dengan hasilnya. Ditambah di bimbingan terakhir, untuk ukuran dosen yang mencela elegan saat sidang proposal dengan menekankan “your presentation was beyond my expectation. Itu tadi apa sih?” atau “*tertawa* kamu itu mahasiswa terragu-ragu yang pernah saya temui.” aku lumayan deg-degan sekaligus berbunga-bunga saat di sepanjang membolak-balik  bab 4ku beliau senyum-senyum bilang “udah bagus, saya suka.” sampai 5 kali.

Her mood was so good, I guess. Aku curiga, namun kuterima saja.

Mei mendekat, jika tidak ada aral melintang, aku akan berusia 22. Tua sekali. Status mahal mahasiswaku akan semakin mendekati uzurnya, dan dengan status mahal ini, banyak hal yang belum tercapai. Yha, mungkin aku perlu dinasihati untuk lebih tulus dan tangguh dalam menggapai mimpi. Maksudku, status sebagai manusia dan hamba Allah, kurasa lebih dari cukup untuk terus mewujudkan mimpi-mimpi macam mengotori passport dengan stempel-stempel, presentasi di depan orang-orang nonfamiliar tentang ide-ideku, menyesatkan diri di tengah antah berantah pepohonan gunung dan laut, belajar kepada kehidupan di masyarakat pedesaan serta anak-anaknya yang bermata jeli.

Namun, tidak bisa kupingkiri, ada fasilitas mahasiswa yang kurasa belum kumaksimalkan selama ini. Memanfaatkan titipan jutaan rupiah dari universitas untuk keluar negeri, misalnya, atau pakai student hour di resto-resto– lol, atau sekadar naik bus flash dari kampus B ke kampus C.

Jika dirunut beberapa tahun lalu, aku bisa saja mendaftar hal-hal yang kulakukan dan menyesali satu persatu hal yang tidak kumaksimalkan, well, tipis-tipis dengan muhasabah, re-evaluate.

Tetapi, dari semua penolakan atas aplikasi yang kukirim, ketidakmaksimalan dalam mengemban amanah, buku-buku yang belum terbaca, sampai kemangkelan terhadap diri sendiri karena kadang masih suka melihat prestasi-prestasi kasat mata orang lain, aku ingin mengingatkan diriku untuk terus sadar.

Sadar dengan hari ini, pagi ini, dengan segenap hal yang akan terjadi setelahnya. Sadar bahwa Allah baik sekali, tanpa peduli intensitas baca quranmu terdistraksi banyak hal, hafalanmu untup-untup, Ia tetap membiarkanmu bangun, bernapas lagi, dalam kehangatan keluarga dan iman.

Ketika berada di atas motor menuju suatu urusan, atau di tengah-tengah tumpukan jurnal, atau momen setelah mengetahui hal-hal diluar harapan, aku selalu teringat sebuah nasihat, berharap dan bergeraklah hanya kepada Allah. Di saat bersamaan, muncul sebuah fragmen, bahwa di detik yang sama, seseorang dari lauh mahfudz juga berjumpalitan berjuang dengan mimpi-mimpi dan ibadahnya.

Dear X, mari menyelesaikan diri kita masing-masing dengan bersemangat. Menyelesaikan ego masing-masing untuk kemudian, sampai entah kapan, Ia akan pertemukan kita. Semoga di saat itu, kita paham bahwa masing-masing jauh dari sempurna. Melakukan yang terbaik dari yang kita bisa untukmu untukku, kurasa cukup.

Pun kalau kita baru bertemu nanti di hadapan Allah, aku tidak apa-apa. Sungguh. Jadi jangan khawatir, mari terus berusaha. Capai boleh, tapi jangan lupa untuk bangun dan berjuang lagi. Semoga kita tidak kehilangan sabar. Heuheu.

Sekian, kuharap ini tidak termasuk galau yang sebuah artikel legit maksudkan.

N.B: Coba buka tautan ini dan ini. Sangat keren.

Akumulasi

Pesan: Terima Kasih

Aku harus cepat menyampaikan sesuatu. Sebelum waktu tiba-tiba berpamitan, dan urung tuntas menyelesaikan janjinya.

Dengan segenap hati, aku ingin berterima kasih padamu,

karena telah– dengan agak ceroboh, mempercayaiku bulat-bulat.

Walau aku enggan berpanjang lebar, walau kupamit kau untuk sebuah tujuan asing dan tak familiar untukmu.

Terima kasih, karena telah menyerahkanku berlapis nasihat, gairah, dan mimpi. Yang darinya, aku melihat kau begitu tulus mengharapkanku… Tak ada yang lebih berharga dari diwarisi kemewahan berpikir seperti milikmu.

Terima kasih telah membuka pintu, dengan apapun yang kubawa. Satu-dua komentar gusar kurasa manusiawi. Tapi, sungguh. Terima kasih telah mempersilakanku masuk.

Terima kasih, karena telah bertanya kabarku, walau kau juga nampak compang-camping dikoyak lelah dan debu.

Terima kasih atas pembelaanmu terhadapku atas pekatnya ragu-ragu. Membuatku bisa menghela lebih lega.

Sungguh, aku jadi tidak butuh yang lain.

Dengan doamu, aku bisa jadi apapun.

Apapun.

Pesan: Terima Kasih