Pintu-Pintu

Dari berpuluh tahun yang kuhidupi sebagai manusia, secara keberadaan, lima tahun terakhir aku merasa lebih ada. Lebih nyata. Agaknya aku menyetujui sedikit kata-kata Descartes. Aku merasa ada karena rasanya baru lima tahun ini aku berpikir keras tentang kehidupan setelah mati sekaligus berpikir bagaimana cara menjalani hidup sebelum mati.

Dengan sangat baiknya, Allah mempertemukanku dengan orang-orang yang bersedia membagiku sebuah refleksi maha penting tentang eksistensiku sebagai manusia. Sebagai hamba. Dalam proses mengenal diri sendiri itu, aku bersinggungan begitu rapat dengan mimpi komunal orang-orang bersuara teduh. Mari mengejar surga di pintu ini. Surga adalah obat bagi kaki-kaki yang lelah. Karena di Surgalah hamba akan menuntaskan rindunya pada Khalik.  Janji-janji Allah terbayar sudah. Di Surgalah, hamba akan berharap dapat duduk sedipan dengan Rosulullah. Pertemuan-pertemuan itu adalah motivasi untuk terus bergerak melangkah, memaksimalkan waktu, berpayah-payah melawan nafsu yang kadang suka selangkah dan berlangkah-langkah lari di depan kita.

Bersama mereka aku mengenal senyum dan cipika cipiki unik itu. Dari mereka aku mengenal ragam-ragam potensi kebaikan manusia yang ternyata bisa kita temui dimana saja. Bahwa untuk dapat memasuki pintu surga, diperlukan kunci dengan gerigi. Iman adalah kunci, amal adalah geriginya. Dan hal itu mutlak menjadi usaha kita sendiri untuk membentuk gerigi kunci yang mana, yang akhirnya bisa membuka pintu itu.

Dan kita bisa membentuk gerigi itu dari usaha apapun- hanya dengan izin-Nya.

Di sisi lain, aku selalu ketakutan jika Allah tidak akan pernah menerima amalan-amalan itu. Jika Ia menemukan setitik bangga dan congkak di sudut usaha itu. Jika Ia menemukan sombong di penerimaanku saat mengikuti majelis-majelis ilmu. Jika Ia mengetahui bahwa gerigi-gerigi yang kubentuk itu hanya sekadar untuk mendapat penerimaan manusia. Jika ia menemukan aku yang gelisah saat orang lain tidak melihat usahaku.

Aku takut Allah tidak ridho.

Pintu-pintu itu akan tetap tertutup rapat. Tak sudi menerimaku.

 

 

Advertisements
Pintu-Pintu

One thought on “Pintu-Pintu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s