The Random Blue #1

Malam ini aku baper pol. Baper banget. Galau nyel.

Aku sebenarnya sudah agak sedih saat mengetahui rencana kakakku yang membawa anak-anaknya bermain di sebuah mall besar di Surabaya Timur dengan lampu-lampu menawan dan sederet logo merk-merk ternama yang asing dan terdengar berkelas ditempel di dinding-dinding muka mall itu.

Seharusnya aku paham bahwa kita memang kekurangan ruang terbuka untuk anak-anak bermain. Maksudku, yang benar terbuka, yang tidak perlu masuk dengan diperiksa dulu isi tasmu dan melewati pramuniaga yang lelah bermanis-manis seharian.

Pukul 21.00, saat menuju pintu keluar, aku sengaja melambatkan jalan melewati sederet toko busana dengan manekin-manekin dingin berbagai pose. Mereka memakai baju baju yang ketika agak kuteliti, ternyata dilabeli harga seperti biaya SPP kuliah persemesterku.

*Glup.*

Aku sungguh tidak habis pikir, selembar kain penutup tubuh yang begitu tok bahkan bisa membuat seseorang merasa lebih percaya diri, lebih merasa hebat dan keren.

Aku lalu membayangkan, merek baju ini punya pabrik di negara-negara berkembang seperti India (dan Indonesia :”) lalu menggaji buruhnya dengan upah murah dan jam kerja yang diluar wajar.

Di sisi lain, produk ini laku keras. Digandrungi walau dengan harga selangit manapun. Dipakai dengan bangga.

Aku lalu mampir di sebuah gerai minuman dan memesan satu matcha latte tea milk– dan dibuat melongo dengan harga yang tertera: Rp.30.000 untuk beberapa kali sesap sampai gelas plastik itu kosong. Baiklah. 

Keluar dari mall, aku dihadang mobil-mobil mengkilap dengan kaca rapat tertutup yang buru-buru. Seperti tidak sabar mengantre keluar mall dan tancap gas di jalan raya. Aku jadi terpaksa harus menunggu sampai ada mobil yang bersedia mempersilakan warga proletar ini untuk menyeberang menuju tempat parkir di seberang sana.

Terasa kentara perbedaan di dalam dan di luar mall. Dua kondisi bertolak belakang. Nyaman dan bising, bersih dan berserakan sampah, sejuk ber-AC dan panas dengan pekat debu.

Dengan jarak beberapa meter dari trotoar, ada kakek penjual keripik menunggui jualannya yang masih banyak. Menatap lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang terburu-buru. Pukul 21.00, tampak lelah di guratan wajahnya.

Bapak itu menjual keripik dengan harga 10.000 saja untuk satu keresek.

10.000 saja, dan itu setara dengan senyum terima kasih bahagianya bapak ini karena dagangannya berkurang.

Sedangkan barusan aku merogoh Rp 30.000 untuk segelas matcha latte 10 kali sedot saja. Yang bahkan wadahnya jadi sampah yang tidak bisa diurai sampai 10.000 tahun. 

Kenyataan itu membuatku didera rasa bersalah sampai saat ini.

Well.. Aku merasa kenyang, dibodohi, sekaligus keji.

Deru suara motor dan klakson mobil di perjalananku pulang, jadi orkestra yang meluluhkan ruang pikirku. Ada begitu banyak ketidakadilan terjadi di beberapa meter setelah hidung kita, berdampingan dengan proyek kemajuan sebuah kota beserta manusia-manusia pentingnya.

Aku tetiba menciut ingin jadi debu saja. Tiba-tiba merasa insignifikan dan lemah.

Aku… bisa.. apa?….

Advertisements
The Random Blue #1

Pintu-Pintu

Dari berpuluh tahun yang kuhidupi sebagai manusia, secara keberadaan, lima tahun terakhir aku merasa lebih ada. Lebih nyata. Agaknya aku menyetujui sedikit kata-kata Descartes. Aku merasa ada karena rasanya baru lima tahun ini aku berpikir keras tentang kehidupan setelah mati sekaligus berpikir bagaimana cara menjalani hidup sebelum mati.

Dengan sangat baiknya, Allah mempertemukanku dengan orang-orang yang bersedia membagiku sebuah refleksi maha penting tentang eksistensiku sebagai manusia. Sebagai hamba. Dalam proses mengenal diri sendiri itu, aku bersinggungan begitu rapat dengan mimpi komunal orang-orang bersuara teduh. Mari mengejar surga di pintu ini. Surga adalah obat bagi kaki-kaki yang lelah. Karena di Surgalah hamba akan menuntaskan rindunya pada Khalik.  Janji-janji Allah terbayar sudah. Di Surgalah, hamba akan berharap dapat duduk sedipan dengan Rosulullah. Pertemuan-pertemuan itu adalah motivasi untuk terus bergerak melangkah, memaksimalkan waktu, berpayah-payah melawan nafsu yang kadang suka selangkah dan berlangkah-langkah lari di depan kita.

Bersama mereka aku mengenal senyum dan cipika cipiki unik itu. Dari mereka aku mengenal ragam-ragam potensi kebaikan manusia yang ternyata bisa kita temui dimana saja. Bahwa untuk dapat memasuki pintu surga, diperlukan kunci dengan gerigi. Iman adalah kunci, amal adalah geriginya. Dan hal itu mutlak menjadi usaha kita sendiri untuk membentuk gerigi kunci yang mana, yang akhirnya bisa membuka pintu itu.

Dan kita bisa membentuk gerigi itu dari usaha apapun- hanya dengan izin-Nya.

Di sisi lain, aku selalu ketakutan jika Allah tidak akan pernah menerima amalan-amalan itu. Jika Ia menemukan setitik bangga dan congkak di sudut usaha itu. Jika Ia menemukan sombong di penerimaanku saat mengikuti majelis-majelis ilmu. Jika Ia mengetahui bahwa gerigi-gerigi yang kubentuk itu hanya sekadar untuk mendapat penerimaan manusia. Jika ia menemukan aku yang gelisah saat orang lain tidak melihat usahaku.

Aku takut Allah tidak ridho.

Pintu-pintu itu akan tetap tertutup rapat. Tak sudi menerimaku.

 

 

Pintu-Pintu

Doa

Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesulitannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena dosa-dosanya yang besar, lalu Aku putuskan harapannya? Siapakah p…

Source: Doa

Doa