Tunggu dan Pindah

Beberapa dari kita, aku salah satunya, suka sekali menghitung hari. Melihat tanggal dan membayangkan apa yang terjadi di tanggal ini bulan lalu atau dua bulan lalu. Apa yang terjadi di hari yang sama minggu lalu atau dua minggu lalu. Dan mengingatnya sudah cukup membuat hari terasa lebih baik. Seperti seharian aku mengulum sebuah permen hasil kristalisasi kenangan hal-hal membahagiakan, yang telah kukoleksi dan kupilah-pilah.

Hari ini tanggal 12 Februari.

Aku mengingat baik sebulan lalu aku berangkat meninggalkan orang tua dalam waktu cukup lama dengan berbekal bismillah, menyiapkan diri untuk 25 hari yang aku belum tahu rupa dan rasanya seperti apa. Membuat cara pandang baru bahwa jika memang nantinya tugas universitas ini tidak sesuai harapanku—baik teman satu kelompok atau kondisi lapangan, aku akan memakai alasan ini-itu untuk bertahan. Dan, ya, akhirnya aku berangkat dengan bersemangat dan sedikit was-was. 12 Januari adalah tanggal dimulainya KKN yang menjadi salah satu pengalaman terbaik yang kumiliki.

Aku juga masih ingat, betapa seriusnya aku mengecek tanggal setelah  workcamp Jepara usai dua tahun lalu. Seminggu kemarin, jam segini, aku masih di Donorejo, bersama teman-teman UI dan Undip juga Emak, berlatih saman dan membuat klepon. Lalu aku tergerak untuk membaca lagi personal notes yang ditulis kawan-kawan untukku.

Begitu terus, sampai aku kelelahan melihat ke belakang dan menyadari mungkin yang lainnya sudah lama pergi dan bergegas ke tempat lainnya, melanjutkan hidup. Menyelesaikan tugas yang lain.

Kata Mbak Gio dalam blognya, ibarat menyeberang, manusia memang selalu berpindah dari pijakan satu ke pijakan lainnya. Berpindah dari pengalaman sedih ke pengalaman bahagia. Pembelajaran satu ke pembelajaran lainnya. Bertemu, namun diharuskan siap ketika waktunya berpisah. Berpindah, dari momen hidup satu ke momen hidup selanjutnya. Menghadapi tantangan klasik yang seperti wajib untuk dirasakan tiap-tiap orang yang tinggal di sebuah sistem yang sama.

Menunggu UNAS dengan segala persiapan belajar dari bangun sampai tidur lagi, masuk universitas, ditunggu dengan skripsi lalu wisuda. Yang ternyata sama sekali bukan akhir, tapi awal dari tantangan yang sebenarnya.

Pernikahan yang selama ini dongeng percayai sebagai akhir gerbang penderitaan juga akun-akun motivasi teguhkan sebagai obat dari resah kesendirian dan galau romantis dengan sebuah kalimat manis, “a happily ever after.” Bahagia-selamanya, ternyata pada kenyataannya, pernikahan adalah fase menuju gerbang ke kehidupan yang lebih sulit lagi. Lebih pelik lagi.

Manusia akan mencari berbagai cara untuk tetap merasa baik dan bahagia. Perasaan baik itu dirasa perlu untuk bekal menghadapi momen hidup yang tidak membahagiakan.

Di sela momen satu ke momen lainnya, ada proses tunggu yang di dalamnya beberapa manusia memilih untuk menonton donlotan drama korea—sebagai sebuah pelarian dari realitas yang biasa-biasa saja. Menyaksikan drama korea dan segala suguhan media adalah upaya untuk “pergi sejenak” dan merasakan sebuah pseudo-feeling tentang bahagia. Beberapa juga membentuk-bentuk kebahagiaan palsu lewat media sosial. Orang lain di ruang maya yang sama, kemudian mulai memakai standar-standar dalam mengukur  bahagia mereka.

Semoga bahagia selalu bisa ditemui di setiap ingatan tentang kepasrahan. Ikhlas yang akan terus dilatih lewat penerimaan bahwa kepada Allah-lah muara tujuan. Perpindahan dan penantian kita semoga benar berlabuh pada-Nya.

Selamat menunggu momen baru hidup dengan kesadaran utuh. Selamat menemukan.

H+3 KKN Bersamamu

Tulisan ini dibuat dengan pelan-pelan, sambil meresapi obrolan lama di grup yang namanya entah kenapa belum ada yang mengganti, sambil merunut lagi awal mula kami bersebelas bertemu lalu merasakan ini itu, mengalami berbagai hal di sebuah tempat yang asing. Kampus kami menyebutnya Kuliah Kerja Nyata, dengan tambahan Belajar Bersama Masyarakat, ke-53.

Tulisan ini dibuat untuk mengkristalkan kenangan-kenangan selama 25 hari agar mereka abadi dan rapi tersimpan. Tidak semburat, berantakan, lalu hilang. Karena, akui saja, kita (apalagi aku) ini orangnya mudah lupa. Nantinya, foto-foto 10 GB itu mungkin akan tertumpuk dengan foto-foto magang, wisudaan, perpisahan angkatan, jurusan, dan momen hidup berkesan lainnya. Obrolan di grup mungkin terganti dengan grup lain yang lebih mendesak. Tapi, kita harus bersyukur dalam-dalam, karena sedemikian rupa Allah mengatur otak dan hati manusia untuk mampu menyimpan cerita dan kenangan indah dalam ruang-ruang di dalamnya.

Dan dengan menulislah caraku mengingat kalian, mengabadikan kita.

Sedari awal, ide tentang segerombol mahasiswa yang mengabdikan dirinya di masyakarat selama kurun waktu tertentu, menurutku adalah sebuah ide yang keren. Terlepas dari Tri Dharma perguruan tinggi tentang pengabdian masyarakat dan konsep kebermanfaatan, menurutku, model KKN yang mana kamu mengasingkan diri dari internet, keempukan kasur, daerah yang familiar, dan segala kenyamanan itu sangat penting untuk dikerjakan dengan semangat. KKN adalah tempat yang tepat untuk merenung ke dalam diri, merefleksikan, menelaah ulang tentang segalanya. Tentang diri, tentang hidup, realitas, mimpi-mimpi, juga tentang Tuhan.

IMG_2543 (1).JPG
Hari kedua, keliling desa dulu. (dari atas: Tyok, Aman, Iqbal, Nezha, Yunita, Susi, Melisa, Intan, Mbak Firtha, Ninda, Fafay)

Maka disinilah kami.
Dengan berbagai jenis pikiran dan sifat, berkumpul di sebuah rumah beralas tanah milik Bu Nur di Desa Kweden, Nganjuk. Menemui kebiasaan satu sama lain dan terbiasa karenanya. Mengompromi kentut, menerimanya sebagai suatu hal yang awalnya— “eh maaf ya, bau gak?..” lalu semakin lama, tawa yang keras dan panjang jadi respon kami. Suara mendengkur subuh hari di luar kamar cewek dan Melisa yang berkata, “Mas Iqbal, Mas Aman, Tyok, bangoooon, bangoooon.” lalu tiga laki-laki berusia 20-an awal itu bergeliut di sleeping bag mereka, berjuang melawan syetan yang mengencingi kuping untuk bangun dan mendirikan sholat subuh di masjid. Kemudian dilanjutkan dengan secangkir Energen yang diseruput di teras. Pagi dimulai dengan satu-dua warga yang lewat dan kami sapa sembari mengantre mandi untuk sebuah program kerja di sekolah atau Karang Taruna.

Rangkaian itu seperti sebuah seremonial pagi yang akan selalu aku rindukan.

KKN ini bisa kita sebut sebagai sebuah perjalanan bersama, dengan starting point yang berbeda, kita diharuskan untuk menyelesaikan perjalanan ini. Belajar sebanyak-banyaknya, menemukan sebanyak-banyaknya, juga membuat cerita sebaik-baiknya.

Erick Weiner, dalam bukunya The Geography of Bliss, mengatakan bahwa sekalipun dua orang melakukan sebuah perjalanan dengan tujuan yang sama, perjalanan itu akan bermakna beda bagi setiap orangnya. Begitu pula perjalanan 25 hari di Kweden ini.

Dari kebersamaan ini, ada yang kemudian menemukan jawaban atas kerisauan khas mahasiswa akhir tentang kehidupan pasca kampusnya. Jawaban yang sedikit demi sedikit ia dapat setelah berinteraksi dengan teman-teman KKN lain lewat sharing dadakan di rumah Bu Nur, lewat obrolan dengan warga saat silaturahmi, dan lewat pengalaman jauh dari orang tuanya sendiri untuk pertama kali. Jawaban bahwa, khoirunnas, anfa’uhum linnas–(sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya) adalah prinsip paling dasar yang harus ia pegang teguh. Ini adalah tentang cara pandang. Semoga cukup membuatnya tenang.

Ada yang (insya Allah) akan memakai kerudung setelah KKN berakhir. Dorongan itu datang dari Allah lewat aksi teman-teman perempuannya yang heboh dan lebay mencari kerudung saat mendengar suara motor datang (pertanda cowok-cowok akan masuk ke rumah). Ada juga yang mulai berikrar secara istiqomah memakai kerudung walau sedang di lapangan bermain voli. Semangat, Intan The CinTub Girl. Jilbab tidak akan pernah menghambat performamu :*

Ada yang ingin lebih rajin sholat berjamaah, yang punya banyak stok cerita tentang sistem bobrok sebuah kampus, bisnis solar dan dupanya serta segudang pengalaman hidup yang beragam di usianya yang 21 tahun. Berbicara dengannya, semakin membuatku yakin bahwa kita perlu untuk menyiapkan telinga kapanpun, karena tidak semua pengalaman bisa kita alami secara langsung. Lewat berbagilah hikmah dan pelajaran itu dapat sampai. Ada juga yang berikrar berhenti merokok dan menurunkan berat badan sampai 70 kg lewat freelatics. Di hari terakhir KKN, ia menjanjikan saat wisuda nanti, beratnya akan benar turun menjadi 70 kg, “Engkuk pas wisuda, aku tak nggowo timbangan!” Kordes Iqbal yang luar biasa. Atau yang suara ngajinya meliuk bagai Imam di murottal-murottal dan juga jago nyanyi. Setiap katanya bernada. Ia sering mengeluhkan beban menyandang almamater SMA-nya yang cukup tersohor di negeri ini. “Saya malu tiap ketemu masyarakat.” lol. Dengan kondisi awal tidak ada siapapun yang mengenal siapa ia sebelumnya– orang ini kemudian ingin menjadi lebih baik. Awalnya ia dikenal misterius, namun lama-kelamaan, ealah, podo ae. Wkk. Feels like home, yha Man.

KKN juga membuat kita melakukan hal-hal yang awalnya kita ragu bisa lakukan. Memasak, misalnya. Yunita bilang, dia nggak pernah menyentuh dapur selama di rumah. Ia cuma tinggal makan dan kembali lagi ke kamar. Namun, siapa sangka, di KKN, dia bertransformasi menjadi The Cooking Mama yang memimpin dapur dan mendelagasikan tugas memotong bawang, menumis, menakar bumbu, menggoreng, sampai mencuci sayur, kepada bawahan-bawahannya. Hasilnya? Tidak mengecewakan. Malah bisa dikategorikan enak. Luar biasa ya potensi manusia. Wkk. Belum lagi rencana untuk mendirikan usaha bertajuk Yunus Crispy– kepanjangan Yunita dan Susi. Menjual jamur crispy di tengah Kampus B dan Kampus C. Terdengar ganjil, memang.

Hal terbaik yang pernah terjadi di kehidupan manusia bagiku adalah berada dalam sebuah lingkungan yang mempersilakanmu menjadi dirimu sendiri, namun juga mendukungmu untuk menjadi lebih baik dari yang kamu bisa sekarang. Bersama orang-orang yang mengapresiasi keanehanmu dan melihat itu sebagai sesuatu yang luar biasa.

IMG_3239.JPG
Sedudo yeah. Anw, Iqbal kok nemu ae pose iku.

Ikatan yang semoga tidak berhenti sampai disini. Ikatan yang mempertemukan kami dengan sosok-sosok luar biasa di Desa Kweden sekaligus dengan keramahan warganya, kepolosan anak-anak SDnya, kelucuan Isna anak tetangga, juga suara hujannya. Desa sebagai sebuah tempat yang mengajarimu banyak hal, memintamu untuk tidak serta merta menerapkan ilmu tanpa menyesuaikannya dengan adat dan kebiasaan setempat. Tempat ini memberi lebih dari yang kami bayangkan. Kweden membuatku merasa… tersanjung dengan hampir setiap aspek masyarakatnya. Desa ini mungkin statis, tapi ia hidup dan berdenyut dengan caranya sendiri.

Sapaan warganya setiap bertemu kami, adik-adik satu sekolah yang menyambut kedatangan kami dengan antre meminta tanda tangan (hng…..), juga keindahan alamnya. Sawah membentang, pagi yang sarat oksigen, ayam-ayam yang sering mampir ke rumah, suara sungai, juga pohon rambutan yang menggantung malas di hampir setiap rumah tiba-tiba menjadi suatu hal yang mewah. Memang benar, wujud bahagia memang tidak rumit dan banyak atraksi.

Walau dengan segala keterbatasan kelompok kami, 25 hari telah terlewati. Walau kurang disana-disini, kesulitan dan hambatan bisa kami atasi. Mulai dari sakit yang bergantian, HP kordes yang hilang, wangi melati semerbak di malam hari, main pembunuh-pembunuhan, mengarungi Nganjuk kota mencari JNE untuk mengirim berkas demi keperluan sponsor setelah seharian ngurusin anak satu sekolah (tos dulu, Fay :’), sampai menghadapi protes warga. Mungkin diam-diam, 11 manusia ini sudah bersepakat untuk menikmati setiap proses belajar ini bersama-sama dan memutuskan untuk menerima kenangan keluarga baru ini secara lengkap; senang-sedihnya, mangkel-ngakaknya, kecewa-puasnya, semuanya.

Aku harus bersyukur sekali lagi.

Adakah yang lebih baik dari mengenal kalian?

IMG_3191

Bersama Bu Nur 🙂