Teruntuk

Berlarilah.

Berlari bersama senja, sampai tenggorokanmu sakit seperti menelan duri-duri, sampai suaramu habis, sampai kakimu kebas, sampai kau kepayahan mengeluarkan suara. Gerak-gerak badan dan pikiranmu, pastikan akan selalu berlayar jauh dan hanya akan pulang dengan oleh-oleh cerita; tentang tanah yang asing, tentang perihnya sendiri, tentang ketakutanmu, tentang kepercayaanmu yang bulat akan pertolongan-Nya.

Aku akan mendengarkanmu, sampai tuntas. Menunggumu ketika kau menghela nafas karena perih di dada, atau tersedak saking bahagianya.

Jika kita berkesempatan mencicipi dinginnya salju, akan kupastikan kau selalu aman dan hangat. Dalam jarak sedekapan, tak boleh ada yang merisaukanmu. Sedingin apapun rupa hidup nanti, jangan berhenti bergerak. Bergerak akan membuatmu hangat—dan tidak mati kedinginan.

Amati lamat-lamat daun-daun yang gugur, yang mengingatkanmu tentang kerelaan paripurna. Inti kesadaran bahwa kita tak pernah benar-benar memiliki sesuatu. Kehilangan adalah niscahya.

Gugur dari pohon adalah keputusan yang disadari penuh oleh dedaunan, jatuh bagi mereka adalah menjalani takdir yang telah digariskan Tuhan. Maka, jika kau harus jatuh, nantinya, jatuhlah dengan pertimbangan. Resapi bahwa kejatuhanmu akan membawamu pada bangun yang lebih kuat.

Terpantul-pantul. Membacanya,membuat keinginan untuk curi tidur jadi hilang. Diserbu pertanyaan yang menyodok-nyodok, berakhir panas di ujung mata:

Apa aku layak?

Advertisements
Teruntuk