The Free Soul

Halo.

Kalau tidak salah, saat sedih, kamu suka melihat langit ya? Yang dari sana, kau akan merasa terhubung dengan kampung halaman. Dirimu yang merasa jadi remah, terasa terkumpul. Utuh lagi.

Dan dari sudut itu, aku menatapmu penuh kekaguman.

Aku ingin punya banyak waktu yang seperti itu. Menyaksikanmu berceracau dengan diksi-diksi tak lazim, kadang memarahi entah siapa, kadang tertawa, kadang memejamkan mata, diam seperti menyimak angin berorkestra.

Ini pencarian jiwa, katamu.

Hidup, kata orang-orang adalah tentang mempertahankan diri se-lama mungkin. Beberapa orang  merasa kehidupan harus dicapai dengan berlari sendiri.

Kuakui, aku baik dalam memilin daun ranting jadi pita kepang dan membaca rasi, dan dengan berbesar hati pula aku menyampaikan, di sisi lain aku buruk dalam bercerita. Aku juga tidak terlalu baik dalam berlari.

Tapi untuk bertahan, kata mereka, kita harus pandai berlari. Berlari sampai kaki kebas, berlari yang entah ujungnya dimana.

Halo,

Dengan keadaan yang tetiba biru begini, aku mau mengikuti caramu. Duduk di tanah sambil melihat langit dan membayangkan rindu-rindu akan terlunaskan di tempat yang dijanjikan di kampung halaman.

Oh, aku juga menemukan kombinasi hati yang menghangat dan kepala yang mendingin.

Ini pencarian jiwa yang merdeka. The free soul. Lagi-lagi aku menyetujuimu penuh.

Advertisements
The Free Soul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s