Belum Menikah

Di sebuah grup Whatsapp yang aku menjadi silent reader di dalamnya, tiba-tiba terdapat sebuah jarkoman yang membuat ulu hatiku sedikit remuk. Jarkoman itu berisi tentang tafsiran ayat alquran maupun hadist tentang bahayanya menjadi perempuan yang belum menikah. penjelasan itu terbagi atas poin-poin dengan berbagai emoticon Whatsapp di akhir kalimatnya. Katanya, perempuan, daripada lama melajang lebih baik rela dimadu, daripada kegatelan lebih baik dimadu

Aku sedih sekali.

Selain sedih karena anggapan cetak tentang poligami sebagai solusi perempuan agar tidak semakin kegatelan, kurasa, beberapa orang di luar sana masih sering terlintas pemikiran seperti itu ketika melihat perempuan berusia matang yang belum menikah. Iba, kasihan, dan segala prasangka yang sembarangan kita berikan pada perempuan itu. Menatapnya, mencari-cari kira-kira persoalan fisik manakah yang membuatnya sulit mencari jodoh.

Akhir-akhir ini sering pula mendengarkan nasihat begitu.
“Orang tua itu nggak peduli anak perempuannya punya karir tinggi atau menjabat posisi ini itu. Itu tidak penting. Yang lebih meresahkan orang tua adalah belum tertunainya tugas menikahkan anak perempuan.”

Hufht.

Begini, kita nggak pernah tahu persis keadaan orang lain, serius deh.

Kita nggak pernah benar-benar tahu kesulitan rupa apa yang dia alami, yang ia pelajari,  yang ia hadapi setiap hari. Kita nggak pernah tahu lama dan dalamnya ia berdoa di sepertiga malam memohon kekuatan dari Allah untuk dapat terus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dan adik-adiknya yang belum selesai sekolah. Kita nggak pernah tahu seberapa tekunnya ia berdoa untuk segera dipertemukan dengan jodohnya sembari ia mengisi hari-hari dengan memperbanyak belajar agama, mulai ikut kelas menghafal quran, dan berkontribusi disini disitu.

Muslimah yang sedang memperbaiki diri dengan terus belajar dan belum menikah, apa boleh dicela sebagai perempuan… gatel? Tidak bisa menjaga diri? Pengganggu rumah tangga orang lain?

I mean,… what?
Seriously, people.

Kita tidak pernah tahu, mungkin Allah tengah mempersiapkan untuk perempuan-perempuan ini jodoh yang sepadan, yang terbaik dari semua versi manusia. Proses menunggu dan menahan rindu ini bukan tidak mungkin jadi lahan pahala sabar yang bertubi-tubi untuk mereka, mungkin jauh lebih subur daripada orang-orang yang beranggapan aneh-aneh tentang muslimah ini.

Kita tak pernah tahu. Allah yang paling tahu.

Advertisements
Belum Menikah

The Free Soul

Halo.

Kalau tidak salah, saat sedih, kamu suka melihat langit ya? Yang dari sana, kau akan merasa terhubung dengan kampung halaman. Dirimu yang merasa jadi remah, terasa terkumpul. Utuh lagi.

Dan dari sudut itu, aku menatapmu penuh kekaguman.

Aku ingin punya banyak waktu yang seperti itu. Menyaksikanmu berceracau dengan diksi-diksi tak lazim, kadang memarahi entah siapa, kadang tertawa, kadang memejamkan mata, diam seperti menyimak angin berorkestra.

Ini pencarian jiwa, katamu.

Hidup, kata orang-orang adalah tentang mempertahankan diri se-lama mungkin. Beberapa orang  merasa kehidupan harus dicapai dengan berlari sendiri.

Kuakui, aku baik dalam memilin daun ranting jadi pita kepang dan membaca rasi, dan dengan berbesar hati pula aku menyampaikan, di sisi lain aku buruk dalam bercerita. Aku juga tidak terlalu baik dalam berlari.

Tapi untuk bertahan, kata mereka, kita harus pandai berlari. Berlari sampai kaki kebas, berlari yang entah ujungnya dimana.

Halo,

Dengan keadaan yang tetiba biru begini, aku mau mengikuti caramu. Duduk di tanah sambil melihat langit dan membayangkan rindu-rindu akan terlunaskan di tempat yang dijanjikan di kampung halaman.

Oh, aku juga menemukan kombinasi hati yang menghangat dan kepala yang mendingin.

Ini pencarian jiwa yang merdeka. The free soul. Lagi-lagi aku menyetujuimu penuh.

The Free Soul

Sungguh Repot

Segera ke sini. Ayo ke sana. Cepat ke situ. Kerjakan ini. Selesaikan itu. Masih kurang. Tolong kirim segera. Lengkapi! Harus bertemu. Siapkan filenya. Besok presentasi. Perlu evaluasi. Hubungi mereka. Berangkat sekarang. Cek email. Revisi. Banyak kesalahan. Jadwal berbenturan. Bisa online? Telpon. Transfer hari ini. Harus bisa. On the way. Maaf. Terima kasih. Lho. Gak mau tahu. Hahaha. Nanti saja. Istirahat bentar. Besok terakhir. Belum masuk. Nanti hadir? Lama banget. Biarkan. Wah. Gimana sih? Komitmen dong. Selamat ya. Keren. Ngapain? Jangan begitu. Nah. Teruskan. Satu jam. Mikir. Apa lagi ya? Masih banyak. Ini belum. Apalagi itu. Buat apa? Sungguh repot. Iya. Masak? Mau masuk surga. Tapi… Kok gak mau repot?

Sumber : Gading A.R

Sungguh Repot

Perayaan Pepohonan

Selamat Hari Pohon!

Menyandang kata “Pohon” sabagai nama blog ini, kurasa blog ini boleh-boleh saja merayakan tanggal 21 November (juga) sebagai hari jadinya.

Menanam pohon, kata sebuah penelitian yang dirilis situs resmi WWF, adalah salah satu kegiatan yang dapat membuat suasana hati menjadi jauh lebih baik. Aku tidak terlalu ingat dengan bunyi penelitiannya, tapi jika ku logika, rasanya ya masuk akal.

Menggali tanah, meletakkan tunas, dan menyiraminya.

Rangkaian kegiatan ini seperti tahap penyembuhan. Menyaksikan dua tanganmu memegang bibit kehidupan baru lalu membayangkan nantinya ia akan tumbuh besar, kuat, teduh, dan menjadi penyedia oksigen, kurasa   dapat memicu perasaan senang, lega, dan merasa berguna. Apalagi jika ditambah dengan meyakini sebuah hadist shahih berbunyi,

Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman lalu burung memakannya atau manusia atau hewan kecuali ia akan mendapar sedekah karenanya.

HR. Bukhari

Dijamin kegiatan menanam pohon ini akan semakin menyenangkan. Perasaan risau, merasa diri menyedihkan, atau biru yang ganjil, mungkin akan segera terganti.

***

Kemarin sore menjelang maghrib saat keluar dari perpustakaan kampus, aku mendapati sebatang pohon entah apa yang tiba-tiba tampak berbeda dari biasanya.

Sungguh, selama pagi-siang hari ia tidak terlalu tampak terlihat. Walau ia cuma satu-satunya pohon raksasa di tempat itu. Kondisi lahan parkir yang mengenaskan di kampus B benar tidak memberi orang kesempatan untuk melihat-lihat. Pohon itu benar menjadi payung teduh dari terik matahari. Tangan kokoh ranting beserta daunnya menutupi hampir separuh parkiran. Membuat orang lalu lalang di bawahnya tanpa perlu memicingkan mata. Parkiran yang saat itu sudah kosong dengan langit yang menjingga di latarnya, sungguh memunculkan kesan lain dari pohon itu.

Ia gagah, pendiam, dan cantik.

Kubayangkan, dengan diameter sebesar itu, kuasumsikan ia berusia lebih tua dari universitas telah menyimak cerita berbagai generasi mahasiswa yang lalu lalang ke perpustakaan di depannya. Mahasiswa yang terburu-buru, yang menahan kantuk, yang kebingungan, yang monolog, yang menahan tangis. Ia setiap hari memayungi manusia yang lewat dan mobil-mobil terparkir itu selama bertahun-tahun. Kehadirannya, untuk sebagian orang, mungkin hanya dianggap pelengkap saja. Tapi pohon tetap disitu, tulus memayungi, kokoh, simbol kesediaan memberi manfaat tanpa peduli dikenali.

Pohon yang keren sekali.

Perayaan Pepohonan

(Hampir) Setahun

Kami bertemu dalam sebuah program beasiswa sebuah CSR BUMN. Saat berada di Tretes mengikuti pelatihan yang melibatkan penerima beasiswa ini dari seluruh Indonesia Desember tahun lalu, betapa saat itu aku yakin dengan program ambisius jajaran CSR ini. Bapak Ibu terhormat dari Jakarta itu nampak sangat meyakinkan dalam melihat kami sebagai “agen-agen” di kalangan anak muda yang akan membawa virus kebaikan terhadap lingkungan. Kami pun semakin bersemangat.

Lalu kemudian, beberapa waktu lalu, kita bisa melihat berita bahwa mantan orang nomor satu di CSR ini tersangkut kasus korupsi dan gagal jadi calon Ketua KPK.

Terlepas dari kemungkinan politis di dalamnya, saya pribadi meyakini bahwa beliau orang yang baik, passionate, dan tulus.

“Elah, arek sobi iku aktivis lingkungan gegara beasiswa tok.”

Program beasiswa ini, sayangnya, gagal membentuk citranya sebagai program yang serius mewadahi aktivis muda lingkungan seluruh Indonesia. Program ini diisi oleh mahasiswa-mahasiswa strategis berbagai bidang, yang sayangnya, jarang ada yang benar-benar memiliki ketertarikan dalam bidang lingkungan. Tolak ukurnya gampang, dilihat dari rekam jejak dan partisipasi mereka dalam proyek regional.

Jika boleh membandingkan, program beasiswa berbasis yayasan seperti Pepesdemes-lah yang menurutku sangat baik dalam me-maintanance penerima besiswanya. Ada indikator pencapaian, kewajiban mengikuti kajian dan pelatihan, target yang harus dipenuhi setiap bulan, dan jika melanggar, beasiswa diputus. Ia dikeluarkan dari gumbulan. Wawh.

Berbeda dengan kami. Kamu bisa aja nggak terlibat sama sekali dalam penyusunan ide dan proyek tetapi tetap mendapat dana setiap bulan.
Ya, yang seperti itu memang tidak semua, tapi… ada, dilakukan oleh beberapa oknum.

Bahkan dinyinyir sama komunitas lingkungan lain karena dianggap bergerak-gegara-duit-doang-sehingga-terkesan-asal-aksi juga pernah kami alami.
Terlepas dari kekurangan ini, aku berharap apapun keputusan dari pusat, tidak akan mengubah spirit yang sudah pelan kami bentuk.

Karena dari program ini, aku yang dulunya mungkin menjaga bumi hanya sekadar lewat menolak kertas kresek dari indomaret, mulai memasukkan pemberdayaan lingkungan secara terstruktur dalam mimpi-mimpiku.

Perubahan kami susun sendiri dari Surabaya, dengan sejumput pengetahuan manajemen SDM dari kampus, alur kerja, sampai branding aksi yang dikolaborasikan.

Pilihan untuk maju dengan idealisme baru berarti mereduksi juga jumlah kami yang awalnya 24 menjadi 12. Sisanya sedang bergerak sesuai passion dan cita-citanya masing-masing. Semoga sama-sama diberi kekuatan.

Kami ingin sampai pada titik kalau dapat kabar tentang beasiswa cair itu seperti bonus aja. Karena mendapat kesempatan untuk berbagi, belajar, dan bergerak bersama merupakan pengalaman yang memperkaya diri kami. Mengkristalkan spirit menjaga bumi ini dalam ruang lingkup yang nyata dengan wajah gembira, dan hati yang penuh. Semoga tidak terdengar naif.

Selamat setahun, Sob.

image

 

(Hampir) Setahun