Menunggu Roti Bakar

Saat menunggu roti bakar yang kami (aku dan Cacak Azzam– keponakan) pesan dari atas motor, tiba-tiba aku terdorong untuk memeluk Cacak dari belakang, dengan unyu.

Ammah (A) : Cacak, Ammah sayang Cacakkk.

Cacak (C): *bergeliat *rikuh, hmmmm Cacak juga. *suaranya kecil

A: Wkwkw.. Eh, Cak. Ammah pernah jahat nggak sama Cacak?

C: Hm…. Pernah. Pernah.

A: Ohya? Pas kapan?

C: Waktu cacak pukul Fayyadz, Ammah marah. Padahal itu Fayyadz dulu yang pukul Cacak.

A: Ooh itu… Cacak harus sabar, Jo… Yawes, itu ammah nggak sengaja. Maaf yaah..

C: Terus terus, waktu tadi Cacak main sama Fayyadz sama Ashima, terus kan Cacak cerita atau gerak-gerak yang lucu, Fayyadz sama Ashima ketawa,tapi Ammah enggak. Ammah diam tok.

A: …… Bahaha…

Cak Azzam, 5 tahun, sore tadi kutemui sudah sangat baik dalam menarasikan apa yang dia gambar dan membuat Fayyadz, adiknya (2,5 tahun) tertawa terpingkal-pingkal. Menurutku itu karena kepiawaiannya memainkan suara tokoh-tokohnya.

Cak Azzam akhir-akhir ini suka sekali menggambar, walau gambarannya yang terakhir agak membuatku sedih (ia menggambar orang dewasa perempuan yang menjewer anak laki-lakinya karena bermain cat tembok lalu muncul monster dari botol yang ternyata bapaknya). Azzam juga sudah bisa berhitung 1-10 bahkan dalam bahasa Jawa.

Perjalanan masih panjang, semoga aku pandai mengambil pelajaran dari anak-anak di rumahku ini.

Doakan aku jadi tante yang baik ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s