Jauh

Di tiga tahun perjalanan sebuah organisasi yang punya mimpi begitu tinggi: ingin menjadikan Indonesia terang lewat anak-anak yang bersemangat, aku duduk lagi, terdiam menelaah. Aku masih ingat saat mengucapkan komitmen untuk memulai terjun mengenali dunia pendidikan dan anak-anak dengan semangat sampai ubun-ubun, lalu berkeyakinan, mungkin ini tempatku. 

Dimanakah kita seharusnya sekarang?

Aku mencurigai diriku sendiri yang tidak becus, sok-sokan mengelola sistem dan manusia yang ternyata berbeda-beda corak dan kepetingannya, walau katanya memiliki tujuan yang sama. Jangan-jangan, aku dan mereka sedang terjebak dalam tujuan-tujuan palsu, normatif, dan mengada-ada. Kehadiran kita di ruang-ruang kecil yang disebut pengabdian itu tak lain hanya untuk menggugurkan tugas, mencari tangkapan foto yang bisa diunggah ke instagram, atau bahkan karena sungkan.

Sungkan, karena kita sudah terlanjur bersama begitu lama, akan sangat jahat ketika, aku misalnya, moro-moro pergi menghilang. Sungkan, karena tak bisa dipungkiri, di tempat inilah aku berkesempatan belajar ini itu– namun sayangnya aplikasinya kuterapkan di tempat lain. Sungkan, karena orang penting di tempat ini adalah senior yang sangat kuhormati.

Akan sangat bisa dibedakan, mana tempat yang benar diisi oleh manusia-manusia bersemangat atau dengan manusia-manusia yang jengah. Yang sayangnya, itu sangat berefek pada objek pengabdian kita. Ruang abdi kita menjadi tanpa ruh dan energi.

Kita datang dan pergi, begitu terus. Tanpa benar-benar berguna.

Jadi dimanakah kita? Dimanakah sesungguhnya hatimu? Kerelawanan, mungkin memang diartikan sebagai aksi sukarela, yang darinya kita akan membagi lagi ruang dalam hati untuk perasaan bernama simpati, aktualisasi diri, kepuasan pribadi, atau apapun lah yang menjadikan motif kita berada di sebuah tempat. Relawan berarti bebas memilih hadir dan tidak hadir, konsentrasi dan tidak konsentrasi, nyambi ini dan nyambi itu.
Apa begitu?

Ini tidak layak disebut perjuangan. Perjuangan itu kata yang terlalu suci untuk disematkan pada hal-hal dan orang-orang yang masih bingung. Anak-anak itu butuh teman yang jiwa, raga, dan gairahnyahnya utuh hadir bersama menemani mereka, yang semangatnya memancar dan akan membuat mereka yakin tentang kemungkinan menjadi manusia terbaik dengan versi masing-masing.

Menjadi teman yang seperti itu berat sekaligus mulia sekali. Apa kita sudah cukup layak mengambil peran itu? Mengemban visi misi setinggi langit dalam gerak langkah yang ragu-ragu ini?

Maukah kita menjawab dengan jujur?

Advertisements
Jauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s