Titip Salam

Sudah, sudah.

Saya sudah maafkan kamu dari dulu. Sekarang, pergi. Berteman dengan kemungkinan ini, ketidakpastian itu. Dua-duanya kawan yang baik, saya rasa.

Sampaikan salam saya pada waktu, betapa saya ingin mengucapkan terima kasih, karena telah menemanimu sampai ujung. Terkadang jadi hantu, mesin, atau kristal-kristal.

Kamu boleh jatuh, bersedih, kecewa, terluka, lalu jatuh lagi,
Tapi kamu jangan berhenti percaya.

Sesering apapun mengingkari, kamu akan tetap membuat saya takjub dengan caramu menatap inci sudut dunia. Saya kagum karena kamu telah bersusah payah mengumpulkan yakin, walau kadang ia jatuh bercecer, berubah jadi koin-koin. lalu dengan berpeluh, kamu pungut satu-satu keping harapan, mimpi, dan keberanian itu.

Saya ingin kamu selalu percaya.

Ada dipan-dipan wangi, ada rindu yang harus kamu tuntaskan karena sudah membuncah, ada pertanyaan dan janji dari-Nya yang ingin kamu buktikan.

Sampaikan salam saya pada waktu. Saya tidak sabar bertemu dengannya, saya ingin mendengar ceritanya selama mendampingimu.

Tentang Sebuah Rumah

Siang. Terik. Surabaya.

Mengantuk dan terlelap di mobil. Beberapa tempo kemudian, terbangun dan menemukan pemandangan luar jendela yang sama sekali berubah.
Ladang jagung kanan kiri, diputari anak-anak Gunung Kelud.

Sampai di sebuah halaman luas dengan pohon mangga kokoh memayungi.
Anak-anak di dalam rumah terhenti dari aktivitas eja hijaiyahnya, dengan kerudung menutup separuh mata, mengerjap penasaran dengan kehadiran mobil di pekarangan.
Siapa yang datang? Membawa apa? Ingin apa?

Anak yang lain, ada di dekat kolam, melihat seksama kura-kura sebesar piring makan timbul tenggelam. Mungkin mengira-ngira makanan favorit kura-kura.

Assalamualaikum!

Disini, anak-anak dipersilakan belajar apapun dengan tangan sendiri, memahami pelan-pelan siklus alami semesta dari pekarangan sendiri. Terkagum-kagum dengan munculnya tunas baru dari daun yang ditanam minggu lalu, juga kacang panjang yang ternyata bisa memilin membelit bambu, melawan gravitasi.

Eh. Masih ada sepetak tanah, bagaimana kalau mencoba menanam lombok?
Tentu saja kita bisa mencobanya! Apapun bisa kita coba disini. Apapun hasilnya.

Hampir maghrib, hafalan surat-surat pendek terdengar dibaca anak anak dari surau, hari semakin gelap.

Di ruang ini, buku-buku memang benar menjadi jendela, mercusuar dunia. Dibaca dan dibolak balik dengan mata berbinar. Kita akan bisa jadi apapun dalam dimensi hampir manapun– mengira-ngira rasanya berada di zaman dinosaurus, menjadi anak yatim piatu, berkeliling Jepang, atau menjadi penemu pesawat terbang.
Lewat buku-buku, kita akan pergi kemana-mana.

Kita harus mencintai buku dan terserap di dalamnya, tak lain tak bukan karena Allah perintah kita, karena buku yang paling indah telah mencatat perintah ‘bacalah’ dalam urutannya yang paling pertama.

Baca, butuh aksara. Mengejanya, butuh peka.

Kelelahan disebabkan memilih rumah ini, semoga Allah ganti dengan ridho dan berkah-Nya. Mungkin lewat semakin ramainya tempat ini, lewat sampah yang kita olah jadi pupuk, gelak tawa anak-anak yang bersembunyi di balik badan kita, atau bahkan di gagalnya panen kangkung.

Semoga Allah izinkan.

Menunggu Roti Bakar

Saat menunggu roti bakar yang kami (aku dan Cacak Azzam– keponakan) pesan dari atas motor, tiba-tiba aku terdorong untuk memeluk Cacak dari belakang, dengan unyu.

Ammah (A) : Cacak, Ammah sayang Cacakkk.

Cacak (C): *bergeliat *rikuh, hmmmm Cacak juga. *suaranya kecil

A: Wkwkw.. Eh, Cak. Ammah pernah jahat nggak sama Cacak?

C: Hm…. Pernah. Pernah.

A: Ohya? Pas kapan?

C: Waktu cacak pukul Fayyadz, Ammah marah. Padahal itu Fayyadz dulu yang pukul Cacak.

A: Ooh itu… Cacak harus sabar, Jo… Yawes, itu ammah nggak sengaja. Maaf yaah..

C: Terus terus, waktu tadi Cacak main sama Fayyadz sama Ashima, terus kan Cacak cerita atau gerak-gerak yang lucu, Fayyadz sama Ashima ketawa,tapi Ammah enggak. Ammah diam tok.

A: …… Bahaha…

Cak Azzam, 5 tahun, sore tadi kutemui sudah sangat baik dalam menarasikan apa yang dia gambar dan membuat Fayyadz, adiknya (2,5 tahun) tertawa terpingkal-pingkal. Menurutku itu karena kepiawaiannya memainkan suara tokoh-tokohnya.

Cak Azzam akhir-akhir ini suka sekali menggambar, walau gambarannya yang terakhir agak membuatku sedih (ia menggambar orang dewasa perempuan yang menjewer anak laki-lakinya karena bermain cat tembok lalu muncul monster dari botol yang ternyata bapaknya). Azzam juga sudah bisa berhitung 1-10 bahkan dalam bahasa Jawa.

Perjalanan masih panjang, semoga aku pandai mengambil pelajaran dari anak-anak di rumahku ini.

Doakan aku jadi tante yang baik ya.

Saat Keluar Rumah

Tahun lalu, aku pernah kehujanan di jalanan asing dan macet.

Tujuanku Bulak Banteng, dengan berbekal sms ancer-ancer minimalis, aku berangkat ke tempat itu. Aku nggak tahu sejak kapan kemampuan menghafal jalanku jadi menyedihkan seperti itu. Intinya aku tersesat. Aku menghabiskan dua jam di perjalanan dari Rungkut ke Bulak Banteng yang normalnya bisa ditempuh hanya 30 menit. Satu setengah jam sisanya aku muterin jalanan Surabaya Utara yang… asing. Sendirian dan kehujanan. Mempercayai kuat-kuat intuisi, kalo kerasa sreg ke kanan, ya ke kanan, kiri ya kiri. Aku juga pernah menghabiskan dua jam perjalanan dari rungkut ke Universitas Ciputra. Tanpa bekal apa-apa kecuali Google Maps. Gaya pol. Waktu itu aku belum terlalu mahir baca peta di layar hape kurang dari 5 inci dengan GPS nyadat-nyadat. Dengan bimbingan dari kawan di line, sampai juga di tujuan.

Tersesat di jalan. Mungkin aku harus mengevaluasi tentang kebiasaan itu, mungkin.. aku kurang dzikir.

Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah berkata “Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?”

Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah.

Sebuah dzikir keluar rumah yang sejak SD selalu dibaca keras-keras oleh ayahku ketika menggonceng berangkat ke sekolah dengan sepeda motor. Dari dzikir itu aku mengambil dua poin penting: ada janji Allah tentang diberinya kita petunjuk dan benteng penjagaan yang kokoh saat mengamalkannya setiap keluar rumah. Mungkin sampai usia segini, aku mengamalkan itu sambil lalu, tidak benar menghayati sampai ke ubun-ubun tentang betapa dahsyatnya dzikir pendek itu.

Seperti kata Ustadz I dalam salah satu majelisnya, di setiap ketidakberesan diri dan hidup yang kita alami tiap hari, entah itu sifat lupa yang parah, prokrasinasi akut, sukar mengendalikan amarah, gampang mengeluh, hal itu mungkin dari sebab kita tidak benar-benar mengamalkan Alquran dan Hadist. Islam adalah ajaran paripurna yang semakin ditelaah semakin kita takjub dengan betapa luar biasanya ajaran ini. Ia menyentuh sendi-sendi kehidupan dari berbagai aspek dan sisi.

Tentu saja, dengan pemahaman yang masih segini-segini aja, banyak hal tentang Islam yang belum kuketahui, banyak hal yang harus terus dipelajari dan diamalkan.

Petunjuk dan benteng penjagaan yang kokoh dari Allah. Dua hal yang Ia janjikan untuk berikan kepada hamba-Nya setiap kali berdzikir saat keluar rumah.

Dan siapakah sebaik-baik penepat janji selain Allah? Nah. Itu semua selalu kembali kepada bayang diri di depan kaca, eh kamu mengimani janji itu nggak sih?

What Could Happen If You Worked As Hard As You Possibly Could?

I will summarize the cmirroron of my academic life in these past 2 weeks with one reflective rhetoric question: what are you actually doing? :”

I supposed to finish reviewing number of journals by next week, highlighting ideas for thesis, and reading the related books. positively, i have not done the-as-hard-as-i-possibly-could. not yet. i haven’t scarified anything– reading for pleasure, misalnya.

yet this article gives me goosebumps, even the title. it only takes a minute to make me realize (again) about a thing. And then it goes further– for every roles that i have taken consciously, in scale 1 to 10, how good am I? a friend of someones, a member of Whatsapp-LINE group, a crew of NGO, a business partner, a learner of Arabic and algebra, a dreamer with her plans. puff.

gotta get a clearer mirror.

up to this point, how good are you, N?

CATHERINE RYAN HOWARD

Fact: I’ve never worked as hard in my entire life as I did last year.

(Because I’m a student, I now think in academic years, so I mean the period between  September 2014 and the end of May.)

Here’s another fact you might not know, one you might be surprised to learn: I had never worked hard before that.

Never.

In the last few months I’ve given this revelation a soft launch, telling a few people who know me in real life that I never worked hard before this past (academic) year. They have reactions like scoffing, eye-rolling, etc. ‘Yeah, right,’ they say. ‘Don’t be ridiculous.’ I admitted to one person that I’m the laziest person I know and she said, ‘Lazy? Lazy? That’s not a word I’d associate with you at all.’

Well… Surprise!

I find it odd that people think prior to September 2014 I was…

View original post 1,062 more words

Anak Perempuan

Kuntum bunga harum semerbak, dan rezekinya telah dijamin Allah.

Begitulah bunyi senandung Rasulullah saat menggendong bayi Fathimah di depan sahabat. Di masa awal kenabian, masyarakat saat itu dikenal sangat barbar terhadap perempuan, menganggap perempuan kaum kelas terbawah dan lemah, anak perempuan dianggap suatu hal yang tidak penting membanggakan, menjadi aib keluarga.

Kita juga mendengar cerita tentang Umar bin Khattab yang sebelum hijrah, pernah tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya.

Sedang Rasulullah menggendong bayi Fathimah di depan mereka dengan bangga,  sumringah, bahkan dengan senandung yang merdu. Suatu hal yang tidak lazim dilakukan di jaman itu. 

Islam datang dengan begitu mengagumkan. Islam adalah agama pembebas, meluruhkan batas-batas fisik identitas manusia, apalagi jenis kelamin,  menjadi satu poin yang hanya Allah saja yang bisa melihat dengan jernih: ketakwaan.

Jadi, aku masih sering sedih jika mendengar ada seseorang yang lebih menginginkan anak laki-laki daripada perempuan. Kemudian menyesali kelahiran anak perempuan lalu dengan cerobohnya menyalahkan ibunya.  What?

Gak paham. Wong sing nentuin itu bayi jadi perempuan atau laki-laki iku sperma Njenengan Pak. Kalau nggak percaya, monggo kroscek kepada Bidan atau dokter di sekitar. Njaluk tulung.

Loh kok jadi emosi. Wkk. 

Yang jelas,  membesarkan anak perempuan kayaknya lebih menantang. Entah mengapa, ketika di pameran buku,  aku lebih sering melihat buku dan kitab-kitab yang membahas cara membesarkan anak perempuan daripada laki-laki. Sungguh spesyal anak wedok ini. 

Semoga kita semua menjadi warga dunia yang baik terhadap anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan. Anak tetangga, ponakan,  maupun anak sendiri. Ingat,  kalau mau punya anak, harus menikah dulu. 

Lol.