Menulis dan Monster

Saya memulai tulisan ini dengan hati yang bercampur aduk, otak berpikir keras tentang topik yang akan saya tulis. Hm, nulis apa ya? apa nulis tentang tips-tips melawan gejolak prokrasinasi? Aduh, takut kabura maqtan

Menulis tentang tips trik menguasai bahasa Inggris? Kan kebetulan saya sastra Inggris, mungkin…. dianggap ber-TOEFL bagus, lalu diharapkan membagi tips berbahasa Inggris cas cis cus

Atau… menulis dengan puitis-naratis tentang kehidupan. Tsah… Saya ingat beberapa waktu lalu Oknum M dan Oknum M2 bahu membahu mem-psy war saya supaya menulis Godong yang nyastra. Aduh, terus kalo nanti tulisan saya gagal dan mekso gimana? Image nyastra saya akan hancur seketika, lalu dijauhi dan dianggap tidak qualified. :v

Aduh, apa ya…. hm… Nulis apa ya…. Dudududu.

…..

Pernah juga merasa begitu?

Menulis, bagi saya adalah tentang tiga hal:

1. Mengolah gagasan dan hasil pemikiran yang bergerombol dalam otak menjadi rangkaian kata

2. Mengendapkan pengalaman untuk dijadikan camilan melanjutkan perjalanan.

3. Membuat diri ada, hadir, dan menjadi bagian dari semesta. Scribo ergo sum, aku menulis maka aku ada– kalau boleh memelintir kata-kata Rene Descartes.

Ketiga fungsi diatas terdengar individualis?

Ya. Menurut saya menulis adalah tentang diri sendiri.

Menulis adalah tentang melawan monster-monster yang kita buat dalam pikiran sendiri.

Kita sering, hm… saya sering dihinggapi ketakutan ketika hendak menulis. Saya takut tulisan saya dibaca dan dinilai oleh orang lain– dan dari situ mereka akan mengetahui siapa saya sebenarnya.

Menurut Oknum A, adik kelas saya yang calon kahima, penyampaian ide memang dikenal dengan dua cara; menulis dan berbicara. Namun keduanya adalah hal yang sangat berbeda.

Saat kita berbicara, kita mengerti benar siapa dan berapa banyak lawan bicara yang kita hadapi.

Dalam menulis, tidak. Kita tidak benar-benar tahu siapa yang akan membaca tulisan itu. Wujud mereka abstrak. Kita tidak bisa menerka isi pikiran mereka ketika membaca tulisan kita.

Dan itu cukup menyeramkan bagi saya pribadi.

Saya setuju sekali dengan pendapat Oknum A Si Calon Kahima.

Katanya, menulis hanya dilakukan oleh para pemberani.

Berapa banyak manusia yang harus diadili karena menulis lantang gagasannya?

Dari Hatta sampai Sayyid Qutb. Asumsi saya, ketakutan mereka bertransformasi dalam bentuk lain; tertutupi oleh semangat mereka untuk menyuarakan gagasannya. Ada kegusaran yang ingin mereka sampaikan dan hal itu ternyata menggugah pula kepala-kepala yang membaca tulisan mereka. 

Menulis adalah upaya melawan ketakutan.

Monster monster itu membuat kita membangun sendiri tembok-tembok berwujud kemalasan, kebuntuan, dan ketakutan-akan-dibaca saat menyelesaikan sebuah tulisan.

Takut orang lain akan berasumsi dan menilai atas tulisan kita dan diri kita sebagai  pribadi.

Ditambah, kita mungkin sering membaca tulisan orang lain dan ber-wow atas tajamnya pikiran dan cantiknya bahasa yang mereka pakai, lalu ketika membandingkan dengan tulisan sendiri, Duh….. Kita merasa tulisan kita bagai biji dzarrah. Butir deterjen yang diobok-obok hilang jadi busa.

Menulislah saja.

Saat ini, minimal untuk diri sendiri. Membuktikan bahwa kita cukup layak disebut pemberani karena telah berhasil menjinakkan monster-monster dalam pikiran yang melarang kita menulis dengan berbagai alasan.

Menulislah untuk diri sendiri, maka kita akan menemukan diri kita menjadi lebih damai dan tenteram. Tak lagi membebani tulisan-tulisan itu dengan standar-standar yang tidak relevan.

Semakin sering menulis, kita akan semakin terlatih menaklukkan ketakutan.

Menulis aka menjadi seru karena kita akan punya lebih banyak stok untuk dijadikan camilan melanjutkan perjalanan.

Saat di masa depan kita merasa jenuh atau hilang arah, coba baca lagi tulisan-tulisan lama kita. Kita akan terkejut dengan tulisan-tulisan itu. “Ternyata aku pernah lho menulis tentang ini, ternyata aku pernah lho merasa sangat percaya dengan nilai-nilai ini, ternyata nasihat seperti ini lho yang dulu membuatku bangun dan percaya lagi.”

Dan kesemua tulisan itu akan menjadi pulpen-pulpen yang mengetuk kepala ketika kita lupa. Kadang nasihat dari diri di masa lalu (yang termanifestasi lewat tulisan-tulisan lama) jauh membuat kita lebih sadar sesadar-sadarnya. Bukan dari motivator, bukan orang lain.

Jadi saya akan terus berusaha menulis.

Because I write to remember.

What about you?

Advertisements

One thought on “Menulis dan Monster

  1. ciciliaarumsekar July 16, 2017 / 1:43 PM

    Setuju mbakkk dengan tulisan ini.. :)) .bisa dijadikan motivasi supaya kita dapat selalu belajar menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s