Idul Adha 5 Tahun Lalu

Kira-kira Dzulhijjah lima tahun lalu, aku berkesempatan mengenalmu lebih dekat. Kau akhirnya duduk di kursi, setelah dimohon mas-mas untuk beristirahat saja, kau berkeliling memberi komando ibu-ibu guru dan tentu saja murid-murid untuk memotong-motong, membagi daging qurban patungan di sekolah kita. 

Aku saat itu siswa baru, selama ini hanya mendengar namamu sebagai nama yang disegani– atau ditakuti oleh kakak-kakak kelas. “Lek rambutmu panjang, ketahuan, dipetal langsung. Petal. Langsung. Gak nyeni blas. Blas.”

Jadi aku mengamatimu saja, dengan sekelibat cerita tentangmu sambil menimbang-nimbang daging 1/2 kg lalu mengepaknya dalam kresek berlabel SKI SMAN 15 Surabaya.

Menyapa guru-guru lain yang sedang memasak gule dan sate dengan wajah lelah, mengabsen siapa saja yang belum mendapat daging, menanyakan tiap panitia (sekaligus memaksa mereka) untuk makan. ”

Diambil dari Facebook Ibu Nurul Hidayati.
Diambil dari Facebook Ibu Nurul Hidayati.
“Kangen Bu Alifah, begitu banyak kenangan pas Idul Adha begini..”

Bu Alifah, semoga Allah menerima amal kebaikanmu. Melapangkan dan menerangkan kuburmu.

Aamiin..

Menulis dan Monster

Saya memulai tulisan ini dengan hati yang bercampur aduk, otak berpikir keras tentang topik yang akan saya tulis. Hm, nulis apa ya? apa nulis tentang tips-tips melawan gejolak prokrasinasi? Aduh, takut kabura maqtan

Menulis tentang tips trik menguasai bahasa Inggris? Kan kebetulan saya sastra Inggris, mungkin…. dianggap ber-TOEFL bagus, lalu diharapkan membagi tips berbahasa Inggris cas cis cus

Atau… menulis dengan puitis-naratis tentang kehidupan. Tsah… Saya ingat beberapa waktu lalu Oknum M dan Oknum M2 bahu membahu mem-psy war saya supaya menulis Godong yang nyastra. Aduh, terus kalo nanti tulisan saya gagal dan mekso gimana? Image nyastra saya akan hancur seketika, lalu dijauhi dan dianggap tidak qualified. :v

Aduh, apa ya…. hm… Nulis apa ya…. Dudududu.

…..

Pernah juga merasa begitu?

Menulis, bagi saya adalah tentang tiga hal:

1. Mengolah gagasan dan hasil pemikiran yang bergerombol dalam otak menjadi rangkaian kata

2. Mengendapkan pengalaman untuk dijadikan camilan melanjutkan perjalanan.

3. Membuat diri ada, hadir, dan menjadi bagian dari semesta. Scribo ergo sum, aku menulis maka aku ada– kalau boleh memelintir kata-kata Rene Descartes.

Ketiga fungsi diatas terdengar individualis?

Ya. Menurut saya menulis adalah tentang diri sendiri.

Menulis adalah tentang melawan monster-monster yang kita buat dalam pikiran sendiri.

Kita sering, hm… saya sering dihinggapi ketakutan ketika hendak menulis. Saya takut tulisan saya dibaca dan dinilai oleh orang lain– dan dari situ mereka akan mengetahui siapa saya sebenarnya.

Menurut Oknum A, adik kelas saya yang calon kahima, penyampaian ide memang dikenal dengan dua cara; menulis dan berbicara. Namun keduanya adalah hal yang sangat berbeda.

Saat kita berbicara, kita mengerti benar siapa dan berapa banyak lawan bicara yang kita hadapi.

Dalam menulis, tidak. Kita tidak benar-benar tahu siapa yang akan membaca tulisan itu. Wujud mereka abstrak. Kita tidak bisa menerka isi pikiran mereka ketika membaca tulisan kita.

Dan itu cukup menyeramkan bagi saya pribadi.

Saya setuju sekali dengan pendapat Oknum A Si Calon Kahima.

Katanya, menulis hanya dilakukan oleh para pemberani.

Berapa banyak manusia yang harus diadili karena menulis lantang gagasannya?

Dari Hatta sampai Sayyid Qutb. Asumsi saya, ketakutan mereka bertransformasi dalam bentuk lain; tertutupi oleh semangat mereka untuk menyuarakan gagasannya. Ada kegusaran yang ingin mereka sampaikan dan hal itu ternyata menggugah pula kepala-kepala yang membaca tulisan mereka. 

Menulis adalah upaya melawan ketakutan.

Monster monster itu membuat kita membangun sendiri tembok-tembok berwujud kemalasan, kebuntuan, dan ketakutan-akan-dibaca saat menyelesaikan sebuah tulisan.

Takut orang lain akan berasumsi dan menilai atas tulisan kita dan diri kita sebagai  pribadi.

Ditambah, kita mungkin sering membaca tulisan orang lain dan ber-wow atas tajamnya pikiran dan cantiknya bahasa yang mereka pakai, lalu ketika membandingkan dengan tulisan sendiri, Duh….. Kita merasa tulisan kita bagai biji dzarrah. Butir deterjen yang diobok-obok hilang jadi busa.

Menulislah saja.

Saat ini, minimal untuk diri sendiri. Membuktikan bahwa kita cukup layak disebut pemberani karena telah berhasil menjinakkan monster-monster dalam pikiran yang melarang kita menulis dengan berbagai alasan.

Menulislah untuk diri sendiri, maka kita akan menemukan diri kita menjadi lebih damai dan tenteram. Tak lagi membebani tulisan-tulisan itu dengan standar-standar yang tidak relevan.

Semakin sering menulis, kita akan semakin terlatih menaklukkan ketakutan.

Menulis aka menjadi seru karena kita akan punya lebih banyak stok untuk dijadikan camilan melanjutkan perjalanan.

Saat di masa depan kita merasa jenuh atau hilang arah, coba baca lagi tulisan-tulisan lama kita. Kita akan terkejut dengan tulisan-tulisan itu. “Ternyata aku pernah lho menulis tentang ini, ternyata aku pernah lho merasa sangat percaya dengan nilai-nilai ini, ternyata nasihat seperti ini lho yang dulu membuatku bangun dan percaya lagi.”

Dan kesemua tulisan itu akan menjadi pulpen-pulpen yang mengetuk kepala ketika kita lupa. Kadang nasihat dari diri di masa lalu (yang termanifestasi lewat tulisan-tulisan lama) jauh membuat kita lebih sadar sesadar-sadarnya. Bukan dari motivator, bukan orang lain.

Jadi saya akan terus berusaha menulis.

Because I write to remember.

What about you?

A Bizarre Thought of Being Someone’s Mom

Tadi sore aku melihat keponakan termudaku, Ashima, merangkak menuju kulkas dengan lamat dan mantap. Kuperhatikan lekat-lekat caranya memegang ujung kulkas, mengamati tutup galon (lalu mengulumnya serta merta), dan menjaga keseimbangannya dari jauh. Mahluk mungil itu begitu aktif, matanya bulat berbinar ketika melihat apapun (apapun.) dan entah mengapa tampak begitu luar biasa. Kombinasi sifatnya menakjubkan, melatih kesabaran orang dewasa di sekelilingnya. Dan ia terus bertumbuh.

Lalu aku tiba-tiba disergap haru yang kuat dan asing.

Jika aku ditakdirkan menikah dan memiliki anak, akan… menjadi orang dewasa macam apa aku? Layakkah manusia sepertiku dengan karakteristik serta kebiasaan yang… begini… mendapat amanah maha berat seperti bertanggung jawab atas satu nyawa manusia beserta seperangkat keajaiban di kepalanya? Memenuhi fitrahnya sebagai hamba Allah? Menjaga tanpa melukainya?

Layakkah aku?
Motivasi ini yang lebih membuatku terceples sampai pusing dan juga mendorongku untuk melakukan yang lebih dari saat ini.

Somehow it is because of you, I am ending up regretting my wasted time of crumbling over these… things. It is because of you, I am learning how to be… at least a good person for you — even I am still figuring out how to be a good daughter. Thinking of you indeed bring me to the feeling of being in a hot air balloon. Overwhelmed feeling, like.. “whoa! whoa!” yet it is scary as hell.

It is because of you, I regain my energy.
I even challenge myself to be lost in the jungle. So that I’ll survive. Then my name will be on the newspaper and museum. “Me, as The One Who Survives in the Jungle.” So that, finally I have a grass of bravery to be proud of — in front of you. You gonna hear me tell you proudly: Yes kid, I am that-person-who-survives. Cool, eh?

You deserve to be accompanied by a great survivor, the one who knows how to read a map and compass — you probably lost in the future, but you will always know the way to our home — the one who recites you a funny story out loud in the dark of jungle, so that you’ll feel you are not alone, because there is a voice with you. The one who makes you realizes that the universe lies in every little thing that people ignore. The one who brings you to the most outstanding journey of  lost and found in glorifying Allah.
The one who shows you how wonderful it is, to be a strong believer.

You deserve to have a very cool friend.
I hope I deserve to be that friend.

Berpikir tentang keniscahyaan menjadi seorang ibulah yang jauh membuatku lebih bersemangat untuk memperbaiki diri. Bi idznillah.

I love you this big. No one has ever seen this big. Still not really sure how this feeling works, but.. I’ll absolutely try.

#1 PesanUntukNezha : Berbicara

Aku ini bukan seorang pembicara yang baik.

Maksudku, aku sering sekali mendapati orang yang kucurhati menangkap lain dari apa yang sebenarnya kumaksudkan, hal itu cukup melelahkan; untuk menjelaskan lagi dengan memilah lain diksi agar maksudku dapat dipahami. Maka aku biasanya memilih untuk menyimpan pertanyaan dan resah yang muncul dalam diri di benak saja sampai menemukan waktu dan kalimat yang tepat untuk dapat diutarakan kepada pihak lain. Aku akan malu sendiri ketika orang lain ternyata nggak paham dengan apa yang kubicarakan. Kayak, “aku wes wani ngomong gini, tapi kon gak paham. deuh.” Semacam itu.

Di suatu siang bersama Oknum Msy yang sudah terkenal dengan kepiawaiannya ber-public speaking dan kebetulan adalah saudara jauhku, kami bercerita tentang kabar seseorang yang kami fans-in diam-diam dengan cara berbeda. Sampai pada momen ketika aku menemukan hal lucu bersifat personal yang kutimbang cukup layak diceritakan. Lalu.. akupun bercerita padanya dengan antusias.

Oknum Msy tertawa terbahak-bahak. Lalu hening.

“… Sek, terus iku lucune sebelah endi? Aku ngguyu karena caramu menyampaikan. Tapi aku nggak nemu kelucuan dalam ceritamu.”

Antusiasku jadi hilang seketika, lho yak apa se. yaitu.. Itu tadi yang lucu.

“Kamu itu secara delivery itu bagus banget, tapi untuk konten perlu latihan.”

……..

Krik..krik… krik…
Hal yang awalnya menyebalkan, tapi semakin lama kupikirkan semakin aku menyetujuinya.

Di lain sisi, aku dikenal sebagai seorang ekstrovert yang bisa menghangatkan suasana. Presentasi formal maupun nonformalku dinanti karena pasti isinya ada yang akan membuat audiens melepas kaku dan tertawa. Yang menariknya hal ini sering terpenuhi, aku cukup bisa membuat orang menerima maksudku, setidaknya itu menurut feedback teman-teman ketika selesai presentasi di sebuah materi kuliah.

Setelah kutelisik, ternyata ada perbedaan antara aku berbicara di depan publik dengan materi presentasi yang sudah kusiapkan, dengan aku berbicara secara personal kepada orang tentang suatu hal yang rahasia. Dua-duanya kuanggap penting dan butuh keberanian yang khusus.

Menjadi seorang pembicara, seperti halnya keahlian lain, adalah jam terbang. Semakin sering kita berbicara, semakin baik kita dalam menyampaikan. Ala bisa karena terbiasa.

Hal itu yang sangat jarang kuterapkan ketika berbicara tentang hal-hal tertentu dengan seseorang.

Aku tipikal pencerita yang egois, yang menginginkan lawan bicaraku segera mengerti maksudku dengan bahasa yang kupilih sendiri. Sekali aku diminta menjelaskan lagi, aku menyerah. Langsung berjanji bahwa aku tidak akan bercerita hal-hal seperti ini dan membuatnya repot mengartikan maksudku. Jadi dalam satu kondisi curhat, aku lebih sering ambil posisi jadi pendengar, dan lama-lama lebih sering diposisikan sebagai pendengar. Bukan suatu masalah, karena menurutku mendengarkan itu lebih mudah daripada menceritakan.

Dan aku menyadari, hal itu bukanlah hal yang baik.

Aku harus mulai memperjuangkan kata-kataku untuk dapat diterima dan dimengerti orang lain, self-motivating indeed the best of all time, cause in the end, it is only us who can save ourselves. Tapi sebagai manusia biasa, kita butuh jawaban yang kadang kita sudah tahu tapi hanya dapat manjur ketika orang lain yang mengucapkannya.

So here I am, scrolling over bunch of contacts, planning to select a trusted name and asking her to make time with me to help to listen to me explicating my thought over several critical things. My goal is not getting the right answer– I consider it as a bonus, my goal is making her understand what I feel and feeling my fear, my optimism, as well my inferiority, even in a different level. I do hope that I am not giving her any burden to do that._.

Hal ini memang membahayakan untuk masa depan. Untuk membentuk sebuah keluarga yang kuat, dibutuhkan komunikasi interpersonal yang baik dari suami terhadap istri, dan sebaliknya. Gimana mau jadi keluarga luar biasa jika aku terus begini……………….

Wahai, Calon Teman Ngobrol Sepanjang Hidup yang aku tidak tahu kita akan bertemu dimana dan kapan, tenang, aku sedang berusaha, akan kupastikan hal ini selesai secepat mungkin.

Eaa.

25 Detik Bersama Anak SMP yang Bersepeda

Di tiap pemberhentian lampu merah, aku paling suka memperhatikan anak berseragam baik yang bersepeda  atau bergoncengan motor. Mereka menarik. Biasanya, yang terbayang di kepalaku pertama adalah, “Wow, anak sekolah. Bersekolah. Menginvestasikan waktunya untuk berada di sebuah kelas….”

Hal-hal yang menempel padanya juga kuperhatikan, mulai dari tas yang dipakainya– mengira-ngira isinya, sampai raut wajahnya yang kepanasan dengan mata memicing untuk menghalang debu. Semua tentang anak sekolah terasa menarik. Sampai mungkin dia salting sendiri. “Lapo mbak-mbak iki mentelengi aku……………”

Sambil senyum-senyum, aku kemudian bertanya-tanya dalam hati, “Dia senang nggak ya dengan sekolahnya..”

Prasangka dan cerita-cerita yang kupunya mengenai dunia persekolahan memang tidak terlalu bagus. Jadi mungkin aku melihat anak-anak bersekolah dengan…. kasihan. Generalisasi yang ceroboh mungkin.

Dan ketika lampu hijau menyala, aku meninggalkannya dengan harapan yang agak-agak haru.

Semoga ia menyukai proses belajar di sekolahnya. Semoga pilihan untuk mencari ilmu dan mendapat pencerahan di bangku-bangku itu diberi keberkahan oleh-Nya. Membuatnya jatuh cinta dengan ilmu pengetahuan.

Harapan yang kurang lebih sama ketika melihat keponakanku berangkat ke TK-nya tiap pagi.

Doa yang selalu sama ketika aku berangkat ke menara gading berbiaya mahal bernama universitas di timur jawa dwipa.

#eaaa