Benjut-Benjut Kehidupan

Kita harus siap menghadapi hidup, harus pernah berada di posisi yang paling sedih dalam kehidupan. Ayah dan ibu sudah membekali kita. Sehingga saat menikah dan melanjutkan hidup, kita akan selalu bisa melewati semua kondisi; susah, senang, benjut-benjut, bahagia. Kita akan siap.”

– Mbak 2 kepada saudara-saudaranya, termasuk aku.

Aku memiliki dua orang kakak perempuan yang sudah menikah dan mendengar cerita mereka secara langsung tentang bagaimana rupa hidup setelah pernikahan yang sangat berbeda. Penuh gelombang, permasalahan datang bergantian, kondisi ekonomi yang sulit, sampai membesarkan anak-anak. Aku juga memiliki satu orang kakak laki-laki yang dua minggu lagi menikah.

“Alhamdulillah, selama ini ayah dan ibu membekali kita untuk bisa bertahan di semua kondisi.”

Lalu disebutlah satu persatu perjuangan masing-masing anak yang berlatih bertahan di kondisi-kondisi sulit ditahun 2005-an. Mondok di tempat jauh, berkuliah di ratusan kilo meter jaraknya, sampai merantau di seberang pulau.

Lalu dimanakah si Bungsu?

Si Bungsu……. ada di depan TV nonton Benteng Takeshi. Si Bungsu itu ini, yang sekarang blognya sedang kamu baca.

Jika benjut-benjut kehidupan adalah menghadapi kondisi mengenaskan sendirian—kelaparan, kehabisan uang, sakit mendadak, kecelakaan dan mengobati sendiri, didzalimi temen kos– di tanah asing tanpa keluarga, berarti aku adalah satu-satunya anak dari ayah dan ibu yang belum tahu bagaimanakah benjut-benjut kehidupan itu.

Berbeda dengan tiga kakak yang lahir dan tumbuh di awal mula pernikahan ayah ibu (yang dimulai dari di Brebek dan Sidosermo). Aku lahir tahun 1994, saat ayah sudah menjabat Kepala Sekolah di sebuah SMP swasta ngehits di Wonokromo, saat ibu sudah lumayan settle dengan mengajarnya, saat rumah sudah baik dan layak, dan saat orang sudah mengetahui siapa itu ayah dan ibu.
Aku disebut sebagai anak perumahan. Arek Rungkut; anak gedongan.

Tidak cukup membanggakan.

Di saat lebaran, aku kesulitan mengidentifikasi nama saudara ayahku yang sangat banyak. Sebaliknya, saudara-saudara ayah yang ada di Ampel dan Sidoserakmo hanya mengenal dengan baik kakak-kakakku, sedari kecil.

“Wahaha. Jek iling biyen, Erma cilik tau disuapi wong mbambong.” (Wahhaha, ingat dulu Erma pernah disuapi gelandangan di pasar.) Atau, “Wih, Arif saiki tambah ganteng yooo. Jek iling biyen cilikane puwutih koyok cino,” (Wah, Arif sekarang tampan ya, dulu waktu masih kecil dia sangat putih dan seperti orang Cina.)

Kakak-kakakku memiliki pengalaman menderita yang, kata mereka, lebih banyak dariku. Mereka mengalami fase awal terbentuknya keluarga. Adaptasi dengan kultur lingkungan sampai ekonomi yang belum stabil.

Mbak  1 dan Mbak 2 menghabiskan masa remaja di pondok pesantren yang setiap hari tidur di lantai, ngepel gantian, mencuci baju sendiri, atur uang saku, belajar kitab-kitab, punya teman yang rambutnya berkutu, dan seterusnya. Mereka berdua melanjutkan kuliah di Malang dan Bandung, jauh dari rumah. Aku saat itu, masih berusia 6-10 tahun. Masih SD.

Kakak 3 pun tak jauh beda, hidup di pondok yang mengenaskan. Sepatu jebol dipakai selama empat bulan untuk sekolah, makan cuma nasi dan garam, baju yang kucel karena mencuci dengan seadanya.

Dan saat itu, kakak-kakakku selalu terkaget-kaget di tiap liburan ketika kembali ke rumah, “Lhoh Nis, kamu udah SMP?” “Lho Nis, kamu udah bisa naik motor?” dan seterusnya. Aku tumbuh tanpa benar-benar mengenal kakak-kakakku, apalagi merasa dekat.

Sebut ini Sister Complex atau apa. Walau aku yakin bahwa aku pernah mengalami hal-hal benjut menurut kadarku dalam konteks lain– dan aku cukup bisa menangkis semua itu dengan pemahaman-pemahaman yang kupunya, namun, hal-hal itu ternyata cukup meresahkanku. Hal-hal tentang menghadapi kesulitan sendirian jauh dari rumah.

Maka muncullah satu persatu ide untuk mewujudkan itu. Keinginan-keinginan yang mantap kusampaikan baik dulu maupun sekarang dengan bersemangat; mau backpackeran, mendaki di gunung, ikut program pengabdian di desa terpencil selama dua bulan, sampai mimpi-mimpi seperti kuliah di luar negeri, menikah dan nggak tinggal di Surabaya, dan lainnya.

Ada satu hal yang kemudian kuhapus tiba-tiba, bungsu yang ada di rumah yang hangat dan nyaman itu mungkin ingin tahu rasanya dirindukan, ia ingin ditanyakan kabarnya setiap pagi di telepon, ingin dibungkuskan oleh-oleh abon khusus buatan ibu, ingin dijenguk di tempat jauh, ingin merasakan sendiri benjut-benjut dan menggunakan nasihat abadi dari ayah dan ibunya; selama keyakinan kepada Allah tertancap kuat, apapun akan bisa kita lewati. Apapun.

Hal-hal tentang keinginan untuk mengenal diri dan Allah dengan lebih baik, mengetahui sejauh mana batas diri, dan membuktikan keimanan kepada Allah, namun kondisi orang tua masih terlalu sayang (atau belum percaya?) padaku, seringkali kemudian membuatku merenung yang jika kurunut akan sampai pada sebuah hipotesis,

Mungkin karena aku belum pernah tahu rasanya jadi orang tua. Ada getar yang belum jelas aku pahami dari menjadi orang tua.
Mungkin ada egois yang kupelihara. Mungkin itu

Sekian curhat malam ini.

Advertisements
Benjut-Benjut Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s