Sebelum Idul Fitri

1 Syawal 1436 H.

Kesibukan khas H-1 lebaran di rumah kami mungkin serupa dengan rumah-rumah lainnya. Memasak untuk hidangan Idul Fitri, menata kue-kue, membersihkan rumah, mengelap kaca-kaca, memastikan semua sudut rumah telag dalam kondisi terbaiknya.

Menyambut Idul Fitri.

Kegelisahan tentang perginya Ramadan serta bunyi harap akan kembalinya ia di tahun depan adalah awalan kesibukan Idul Fitri.

Ayo menjemput anak-anak yang lain!

Anak-anak di perantauan satu persatu kembali ke rumah, dengan segala kisah di perantauan dan berharap menemukan tempat berlabuhnya disini, di tempat mereka pulang.

Dan perempuan paling ajaib disitu sejak pukul 4 sore, mengaduk-aduk kaldu sapi untuk kami, memotong-motong sayur mayur untuk capcay, memastikan bahwa akan selalu ada sayuran di tengah dominasi kolesterol menu lebaran.

Selewat Isya, Ia masih disitu, duduk menahan kantuk membereskan lagi tatanan meja makan. Apa yang kulakukankulakuka tak terlalu membantu. Selalu ada hal yang ia temui belum sempurna kukerjakan, dan ia selesaikan tanpa banyak suara. Lalu aku bertekad penuh, kali ini hanya akan tidur bersamaan dengannya tidur, setelah semua urusan memastikan kebahagiaan esok hari tersiapkan dengan baik.

Ibu, ini hampir pukul 2 pagi.

Suara takbir masih bertalu terdengar dari masjid.

“Sudah selesai.” Katamu, selalu, sambil mencuci sisa piring.

“Sudah selesai.” Sambil membalik rebusan tomat entah untuk apa.

… “Sudah selesai.”

tetapi belum selesai. Lalu aku menyerah, kau tetap selalu jadi orang terakhir yang tidur, sekaligus orang pertama yang terbangun, menunaikan empat rakaat shalat malam pertama di bulan Syawal. Memastikan bahwa esok kebahagiaan lengkap tersaji diatas meja dan rumah yang lebih indah. Bersama keluarga, dan anak-anak rantau yang kembali ke rumah mereka dan berharap mendapat tenaga untuk kembali menghadapi kehidupan dengan wajah terangkat berani.

Ibu adalah medan magnet rumah kami. Ia memastikan segala sesuatu baik-baik saja, memanifestasikan rasa syukur untuk anggota keluarga, dengan sumringah walau tersisa sedikit kantuk. Ini hari raya.

Duh, ibu.. Bagaimana perasaanmu bekerja?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s