Selfie

Oknum T : *nunjukin tweet seorang ustadz tentang Selfie* Menurutmu?

Hm. Dear T, Aku mungkin akan fokus pada pendapat mengenai fenomena selfie-nya saja, bukan ke Ustadznya, kenapa? karena paknya itu temennya Ustadz Salim. (Lho?) Ya biar nggak logical fallacy number one: ad hominem. 

Selfie.
Aku kayaknya sering selfie. Kamu mungkin akan menemukan banyak fotoku di hape kawan-kawan dekatku. Aku tidak akan menolak jika kamu ajak selfie maupun grufie. Tapi memang, aku jarang masang foto selfie di akun media sosial sendiri.

Kenapa? Uhm, sesungguhnya ini cerita yang panjang…………………..
Singkat cerita, dulu aku percaya, muslimah sejati adalah mereka yang memajang foto bunga atau pemandangan atau kutipan Alqur’an di foto profil mereka. Tetapi, semakin kemari, aku kemudian menyadari bahwa menjadi muslimah itu lebih dari itu. Aku kemudian memilih untuk tidak memasang foto karena aku…. merasa cukup percaya diri.
Aku kadang kepingin banget masang satu foto yang.. tampak bagus. Tapi, di detik yang hampir sama, muncul pertanyaan yang bikin mempertimbangkan lagi… posting foto elok gini buat apa ya? Biar apa ya? …

Apa bener cuma buat jadi identitas akun? .. atau biar bisa jadi referensi? Biar bisa dipertimbangkan bahwa aku cocok dan harus banget dijadikan teman bergaul? atau cukup memenuhi kriteria fisik sebagai calon istri? ….

T, sepertinya, aku nggak membutuhkan persetujuan masyarakat bahwa diriku ini, si Anisah Fathiroh, adalah sosok yang cantik, maniez, ngehits, atau mirip finalis ASEAN Top Model— dan kudu banget dijadikan teman bergaul. Aku percaya bahwa teman-teman tetap mau nggumbul denganku meski hanya dengan foto profil yang begitu. Lain soal kalau ada orang lain yang masang foto selfienya bareng aku. Itu udah bukan urusanku sih.
Jadi aku pribadi lebih milih foto-foto yang artisitik gitu (setidaknya menurutku :v) atau foto bareng-bareng. Ini pilihanku, tidak menutup kemungkinan ada orang lain di luar sana yang punya alasan lain. Ya tidak masalah.

Di sisi lain, ada tesis bikinan dosen yang pernah ku-review waktu ujian, (maaf banget, cuma nemu abstraknya) yang relevan sama fenomena selfie ini. Yang intinya bilang, ada beberapa muslimah yang di facebooknya nggak majang foto dan tidak menggunakan nama asli, sesungguhnya sedang berupaya menunjukkan kepada publik tentang siapa dirinya– identitasnya. Ada hal-hal yang ia sematkan dan ia ingin publik percaya tentang konsepsi seorang muslimah: taat, patuh kepada perintah agama, dan tentu saja menjaga aurat.

 … as a face with Islamic Make Up, Facebook can become a laboratory of self-creating for its users, as a result, those informants can reflect their Islamic identity creatively and symbolically through code switching process, as a make-up. Therefore, Facebook, through all writings produced by those informants, can finally be concluded as a media that can make mystification of the discourse of Islam women.

Hal-hal mengenai tidak memajang foto selfie sebenarnya bisa melahirkan takabbur yang lain, “Noh, gini lhoh berperilaku yang bener sebagai muslimah tuh. Gini lho seharusnya menjaga aurat itu. Gak bener semua tuh cewek-cewek selfie.”

Semoga aku dijauhkan dari lintasan pikiran seperti itu. Jadi apapun pilihan sikap terhadap sesuatu, harus tetap hati-hati, waspada sejak dalam pikiran.

Erhm… Itu sih. Wallahu a’lam bisshawab.

Advertisements
Selfie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s