Membayangkan Perjumpaan

Semoga kata-kata yang muncul setelah ini adalah doa yang dilantunkan dengan perasaan yang dulu-duluan menyalip di hati; takut, harap, cinta.

Di setiap membaca firmanNya tentang janji pembalasan terbaik— surga, saat sedang merasa diri menyedihkan, atau saat tiba-tiba disergap rindu luar biasa, aku kemudian berpikir… tentang sebuah pertemuan.

Surga adalah sebuah kata yang terasa sangat mewah, suci, dan jauh.

Sangat jauh.

Saat SD, surga pertama kali kukenal sebagai hadiah liburan abstrak setelah melakukan perbuatan baik. Aku ingin ke surga, karena bisa makan mangga sepuas-puasnya tanpa perlu memetik. Bisa gulung-gulung di tanah hijaunya yang luas dan bisa manjat dan mengeksplorasi rumah pohon-rumah pohonnya. Sudah, itu saja.

Semakin lama, aku kemudian pelan-pelan paham (dan percaya) surga adalah keniscahyaan yang dijanjikan Allah. Terlepas dari segala keindahan fisiknya, hanya di surgalah orang-orang terpilih akan bertemu cintanya, Allah. Lalu dimanakah aku nanti?

Aku selalu membayangkan, akan berada di tengah gerombolan orang-orang yang sedang mengantre panjang. Semuanya tidak sabar ingin segera memasuki surga. Semua sibuk menunggu giliran sambil berbisik-bisik, bertanya-tanya, “Akankah Rasulullah mengajakku juga?” semua bergabung dalam riuh orang-orang yang menyambut rombongan pertama yang masuk surga, Rasulullah dan generasi pertama pemeluk Islam. Saat orang-orang bershalawat, aku merasakan ‘DEG’ yang campur aduk, rindu, harap.

Kau disana, Rasulullah, kau disana.

Orang yang disebut Allah berulang kali di Alquran, seorang teladan, pemimpin, yang kutumbuhkan cintaku lewat pemahaman-pemahaman, yang kupelihara rinduku padanya. Ia memasuki pintu surga perlahan, diiringi para Shahabat dan shahabiyah dengan nama-nama bersejarah.. ada Sumayyah, shahabiyah pertama yang masuk surga karena mati dengan memegang Allah dan Rasul di hatinya. Lalu itu…. itu ‘Umar yang gagah, Abu Bakar yang lembut, itu ummu Khadijah, ‘Ali dengan Fathimah…. Wajah mereka  berseri, inilah kemenangan yang dijanjikan Allah.

Aku menatap rombongan pertama itu dengan mata berkaca, suaraku kelu, tenggelam oleh suara-suara penduduk surga yang lain. Dengan apa yang kulakukan di dunia, sungguh aku tak merasa pantas bersanding dengan nama-nama yang membuat bulu kuduk merinding karena perjuangannya untuk Allah, membandingkan saja aku tidak berani.

Aku takut luar biasa.

Surga begitu mewah dan terasa sangat jauh…

Sangat jauh.

Cinta memang butuh pembuktian. Semoga aku diberi kesempatan untuk membuktikan cinta untuk layak dipertemukan disana, bertemu denganmu, ya Rasul.

Bertemu denganMu, Ya Rabb.,

Advertisements
Membayangkan Perjumpaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s