Dari Draft 2012: Mimpi-Mimpi Egois

Wow.. Sejak kapan kolom Draft WordPress jadi elegan begini? Aku telah lama meninggalkanmu, Gul..
Ekhem, mungkin.. tulisan ini terinspirasi setelah mengetahui bahwa banyak orang — yang saat itu menurutku wih-wih-wih– suka pergi ke gunung dan memikirkan banyak hal disana… sambil foto-foto.
Mungkin juga, ditulis setelah nonton film 5 cm? :v

Wahai Nezha yang sudah berkepala dua, mari menulis (lagi) tentang mimpi yang ini dan yang lain.

____

Sampai sekarang, kadang aku suka tanya ke diri sendiri berulang kali..
Itu mimpi-mimpi, beneran ingin dicapai atau karena ingin memenuhi ekspektasi dalam diri supaya, yah, merasa ada hal dari diri yang bisa dibanggakan?

Sigh. Mimpi-mimpi egois.”

Ada suara dari pojokan kepala yang nyeletuk– waktu aku dengan semangat-semangatnya menulis penaklukan-penaklukan yang kurancang. Aku berkerut, egois? iya kah? Mimpi-mimpi egois itu menurutnya adalah cita-cita yang berorientasi tentang diri sendiri, tentang pencapaian pribadi, yang ketika kita mampu melakukannya, akan ada perasaan luar biasa yang berluapan. Bangga, merasa mampu, dan sebagainya. Dan selesai disitu. Yah, dibarengi sedikit-sedikit rasa syukur.
Aku mengamati lagi. Aku pernah diam-diam berjanji akan menaklukkan sebuah gunung. Dan sampai sekarang masih penasaran. Katanya disana sunrisenya bagus, langit yang terasa sangat dekat berbaur dengan bumi yang meninggi– katanya membuatmu jatuh cinta, atau di tempat seperti itulah kamu bisa paham tentang hakikat penciptaan– menghayati kelemahan eksistensimu.
Dan seterusnya.

Aku pernah deg-degan sedikit saat membocorkan rencana yang menurutku asing dan keren ini ke ibuku, lalu dengan cepat kemudian ibu dengan matanya yang mengantuk runtut bercerita kekhawatirannya. Aku paham sih, ibu belum pernah menemukan ada anggota keluarganya yang punya hobi bergulung-gulung dengan alam. Ditambah aku sendiri yang kadang masih suka sangsi dengan keinginan ini. Beneran? Apa bukan cuma buat gaya? Kroscek niat sesering mungkin. Apa yang sebenarnya kita inginkan dari pencapaian-pencapaian itu?

Maslow bilang, secara hierarkis self-actualization adalah sebuah pemenuhan tertinggi yang dimiliki manusia. Wajar, dan.. seharusnya begitu, katanya.
Jadi, mungkin benar. Kita butuh beberapa mimpi egois untuk mulai belajar menaklukkan ketakutan dalam diri. Ini yang beberapa saat ini sering kulatih.

Bersemangat, Nezha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s